192 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Ada “sesuatu” yang tercecer dari geger World Class University, meleset dari target pendidikan masa kini, luput dari pandangan, lalai dari seharusnya laku, tanggal dari kencangnya pembangunan, alpa dari bincang mesra dua sejoli, khilaf dari sekadar maaf, bahwa “sesuatu” yang ada di UIN Sunan Kalijaga ini sengaja atau tidak, “sesuatu” itu dilupakan, dianggap benar dan baik-baik saja. Pernahkah kita menuntut, mengingat, gelisah, dan sedikit bertanya tentang hal itu? Setidaknya dari sini buletin Slilit Arena konsisten terbit memberitakan “sesuatu” itu.

Pew Research for The People and the Press and Commitee of Concered Jurnalists mengeluarkan hasil survei bahwa 100 persen wartawan menempatkan kebenaran sebagai misi utama jurnalisme. Hatta, Bill Kovack, dan Tom Rosentiel menempatkan prinsip tersebut di urutan pertama dari sembilan elemen dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme.

LPM Arena melalui produk buletin Slilitnya tidak berhenti untuk terus menyajikan elemen pertama itu. Ia mengemban misi menyampaikan kebenaran dengan fakta-fakta yang sesungguhnya ada di lapangan. Ia konsisten untuk tidak sekadar menggali fakta subyektif paparan seorang narasumber atau selintas dari objektifitas suatu kejadian. Namun, seorang wartawan juga mesti pandai mengolah informasi yang didapat. Hasil olahan tersebut tidak terlepas dari keredaksian, yang menjadi ruang dialektis untuk terus mencari antitesis dari kebenaran-kebenaran fungsional.

Bill lebih tahu bahwa tujuan para pemikir pada masa abad pertengahan bukan untuk mencari suatu kebenaran yang sedang dan akan terjadi. Melainkan sebagai kontrol atas dominasi yang sedang berkuasa. Sebab ia tahu “sesuatu” yang benar itu dapat membawa pemahaman yang bisa jadi membongkar tatanan kebenaran yang sedang mendominasi.

Dalam konteks kampus, kekuasaan mengejawantahkan dirinya melalui institusi yang diroboti birokrasi. Kebenaran-kebenaran dalam sebuah pemberitaan akan dianggap menggangu kemapanan mereka, karena dikhawatirkan akan membawa pemahaman kepada siapa yang membaca. Kemapanan itulah yang terus menerus diseriusi, dipreteli, dikuliti LPM Arena melalui produk lpmarena.com, Majalah Arena, dan Buletin Slilit.

Buletin Slilit Arena yang menjangkau lingkup kampus dengan 1000 eksemplar, dan akan segera disebar kepada pembaca. Buletin edisi november ini, bisa didapat di kantin-kantin Kampus, warung kopi terdekat, stand Arena di Kalijaga Creatif Festival (KCF), atau bisa datang lansung ke sekretariat Arena di gedung Student Center lantai satu.

Kami berharap buletin ini dapat menjadi sebuah referensi sekaligus refleksi atas “kebenaran” seperti apa yang sekarang mendominasi.  Dengan begitu setidaknya kita tak lagi memicingkan mata pada “sesuatu” yang sebenarnya perlu kita ketahui. Robohnya Pangdem, kusutnya pendanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), kebijakan yang sewenang-wenang yang kami susun dalam Slilit edisi November ini, merupakan kebenaran-kebenaran yang ditenggelamkan oleh kebenaraan dominan. Dengan begitu, sekali lagi Buletin Slilit Arena konsisten menyuarakan itu!

Selamat membaca.

Robandi, Redaktur Buletin Slilit Arena