220 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email


Kota selalu menghadirkan dua sisi pintu yang berbeda, megah dan suram. Dinding-dinding kota terbuat dari kebanggaan dan darah sekaligus. Keringat diperah untuk memenuhi segala obsesi akan keindahan, kesenangan, dan sesuatu yang utopia. Kota dipenuhi dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang dibeli, diperas, diasingkan satu dengan lainnya. Potret pembangunan kota inilah yang juga ada di Yogyakarta.

15349588_814241962049267_9191289553746267446_nPembangunan yang tidak toleran memicu ketimpangan dan konflik sosial. Pesatnya pembangunan yang terjadi di Yogyakarta rupanya tidak terlalu memperhatikan berbagai dampak yang akan terjadi dari pembangunan itu sendiri, baik dampak sosial, budaya, maupun ekologi. Tak ayal kondisi di atas memunculkan perpecahan antar kelas masyarakat. Ketidaktoleransian merebak sampai pada kenyataan orang kaya dan orang miskin yang memiliki ruangnya sendiri. Ini jelas mempertanyakan ulang label “Jogja Berhati Nyaman”. Nyaman untuk siapa? Masyarakat kelas menengah ke bawah? Perempuan? Anak? Difabel? Atau justru para pemilik modal?

Usaha untuk mencegah terjadinya pembangunan yang timpang tanpa menghiraukan dampak sosial dan ekologis yang terjadi di masyarakat merupakan panggilan kemanusiaan yang perlu direspon bersama. Beberapa pembangunan yang justru memunculkan konflik seharusnya tidak lagi terjadi di muka bumi. Kondisi ini mendorong AMAN dan LPM ARENA menggagas agenda diskusi publik dan pameran dengan tema KOTA UNTUK SIAPA? Sebagai langkah penyebaran wacana toleransi atas pembangunan kota.

//Screening Film “DI BELAKANG HOTEL”

Pembicara:
1. Elanto Wijoyono
(penggerak JOGJA ORA DIDOL, WARGA BERDAYA)
2. YOGI ZUL FADLI
(Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta)
3. Ronggo S Gumelar
(Fotografer)

_____________________________

13.00 WIB // 13 Desember 2016 // Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga

_____________________________

Pemantik:
Rifai Asyhari
(Aktivis Jurnalis)

Repertoar: Doel & Lugas