179 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Shohifur Ridho Ilahi*

 

(surat kepada anakku yang belum lahir)

dari apa sebuah kota diciptakan?

orang-orang berbondong datang

aku mendengar makian di jalan-jalan

traffic light tak menyala, awas ada galian,

diskon murah, warung makan, demonstrasi, aturan-aturan basi

kekuasaan seperti terbuat dari pijar lampu dan gedung baru

masa depan seperti lahan parkir dan kampus yang bediri angkuh

 

Sengaja aku buka surat ini dengan satu bait dari sebelas bait puisi berumbul Yogyakarta: Kelahiran Kedua (2012) karya penyair muda Yogya yang aku sukai puisi-puisinya, Indrian Koto namanya. Aku merasa, puisi di atas sangat mewakili apa yang aku rasakan di kota yang mulanya membuat aku terkagum-kagum ini. Puisi di atas sangat berhasil menggambarkan, betapa Yogyakata telah mengalami konversi: dari Yogya Berhati Nyaman ke Yogya Berhenti Nyaman. Aku tidak perlu menjelaskan ini, kelak kau bisa baca sendiri puisi tersebut di perpustakaan pribadiku. Jika nanti kau sempat berkunjung ke kota ini, mungkin kau akan mendapati situasi yang lebih sinting lagi ketimbang yang digambarkan oleh puisi di atas, dan itu pasti, karena setiap zaman memiliki kesintingannya masing-masing.

Anakku (duh, maaf, sayang, aku belum mengantongi nama untukmu. Aku belum menemukan nama yang cocok dan khas Indonesia. Yang selalu terlintas di kepalaku: kalau bukan nama orang Arab, ya orang Barat). Anakku, meski kau belum lahir, belum lagi ada, namun dorongan untuk menulis surat untukmu begitu kuat, sebagaimana arus kebudayaan asing yang menghantam keras ke arahku. Bagi orang lain, mungkin ini adalah tindakan sinting. Bagaimana mungkin seseorang menulis surat untuk orang yang tak ada? Tetapi bagiku, anakku, surat tetaplah mesti ditulis, dengan keyakinan bahwa surat ini bisa dibaca sebagai biografi imajiner tentang bagaimana peradaban, politik, ekonomi, agama, seni dan ilmu pengetahuan beraktifitas di dalam kehidupanku. Semoga surat ini dapat dibaca olehmu dan teman-teman segenerasimu. Semoga.

Kau tahu, Yogyakarta, anakku, sebuah kota dimana lalu-lintas kebudayan bekerja di sini: pertukaran pengetahuan dan persinggungan identitas. Aku sebagai anak kampung mengalami situasi hibrida, suatu situasi yang pasti dialami oleh masyarakat pascakolonial pada umumnya: Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang identitas dan bagaimana sikap ilmiah sekaligus sikap kultural dihadapkan pada narasi kehidupan yang kehilangan batas-batasnya. Kalau merujuk kepada biografi bangsa ini, hibriditas adalah produksi sejarah yang dibentuk oleh kolonial, itu pasti. Kehidupanku di Yogyakarta ini menegaskan hibriditas itu sekaligus menyamarkan batas-batasnya. Suatu kolaborasi sikap penjajah-terjajah: hibrid pascakolonial. Tubuh Indonesia, selera Amerika.

Kini pengalamanku selalu dimediasi oleh ideologi urban (berikut dengan narasi politik kebudayaan dan ekonominya). Maka aku tak percaya apa yang disebut ‘self’ (diri) tak lain adalah turunan dari bahasa urban yang membentuk identitasku. Yang disebut ‘aku’ itu selalu ‘bukan aku’. Dan inilah aku sebagai subjek yang terbelah. Subjek yang kadang gamang menghadapi pluralitas kebudayaan yang bergerak serentak.

Aku belajar bahasa asing sementara bahasa Indonesia sendiri aku belum menguasai. Lihatlah, betapa fasihnya aku memakai istilah-istilah asing bahkan dalam surat ini. Jangan tanya tentang bahasa ibuku sendiri, Anakku. Aku malu menjawabnya. Aku benar-benar sudah tercerabut dari akar, dari muasal dimana tangisku pertamakali melengking ke dunia. Aku telah menjadi yang lain bagi diriku, sementara yang tersisa dari muasalku adalah tubuh yang hanya membawa ingatan terpecah tentang sejarah, pengetahuan dan kebudayaan yang gamang.

Kini aku sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, di Yogyakarta. Sebuah kampus Islam Negeri yang ‘terlanjur’. Terlanjur integrasi-interkoneksi. Terlanjur menjadi panggung catwalk. Terlanjur berumbul kampus perlawanan. Serba terlanjur. Nah, surat ini memang mau ngobrolin itu, sekadar cerita-cerita dan sedikit pendapat dari kerumitan-kerumitan pikiran dan perasaan selama aku kuliah.

Semenjak kampus Sunan Kalijaga melakukan konversi dari IAIN ke UIN (Konon, upaya konversi ini telah dirintis sejak tahun 1998. Upaya tersebut baru berhasil setelah turunnya SK Presiden RI Megawati Soekarnoputri No. 50 tertanggal 21 Juni 2004. Konversi yang sepertinya tidak mau ketinggalan kereta dalam menyongsong kesintingan Abad 21). Sejak itu, kampus ini memproklamirkan gagasan yang cerdas dan cemerlang, aku mengakui itu. Seperti yang aku sebut di atas, namanya integrasi-interkoneksi. Aku tidak cukup paham, apakah gagasan ini merupakan suatu proyek islamisasi pengetahuan atau lainnya. Namun, yang jelas, butuh kerja keras untuk mengartikulasikan gagasan ini agar tidak jatuh pada omong-omong semata. (Ah, sebenarnya aku malas ngomongin ini, ujung-ujungnya komersialisasi pendidikan dan sejenisnya. Ini kan wacana lapuk)

Bagiku, integrasi-interkoneksi adalah gagasan yang terlanjur. Kau pasti bertanya, mengapa? Karena, anakku, secara substansial aku tidak menemukan konektifitas dari binary of knowledge yang diinginkan gagasan tersebut, kecuali ketergesaan karena mesti menyongsong cahaya perubahan dari IAIN ke UIN, sekalipun gagasan tersebut disiapin jauh-jauh hari. Gagasan tersebut tak lebih dari penandaan yang artifisial. Kau tahu, nak, gagasan tersebut menguap begitu saja di tengah modal produksi ilmu pengetahuan yang mengalir deras dari Barat. Sementara pengetahuan dari khazanah sendiri tak berdaya berhadapan dengannya dan nyaris hilang riwayatnya. Mulanya, yang diharapkan dari integrasi-interkoneksi adalah kebertemuan antara sains dan agama (Islam), khazanah pengetahuan Barat dan Timur. Namun, lagi-lagi kita akan terus mempertanyakan di mana posisi Islam dalam konteks kebertemuan itu? Apakah sebagai penyeimbang dari aktifitas ilmu pengetahuan Barat yang proyeksinya selalu ke Timur, yang biasa disebut oriental itu? Yang terlihat saat ini, kebertemuan binary of knowledge itu justru mereduksi salah satunya. Tentu saja dalam hal ini Islam yang direduksi. Keberadaannya merupakan tempelan belaka, bukan substansi. Sebagaimana produk-produk kapitalisme yang diberi stempel syari’ah. Suatu gejala sakit yang dialami masyarakat sekarang, dan celakanya, dialami juga oleh kampusku. Bah!

Kalo sedikit berceramah, tugas pertama untuk menjalankan proyek ini adalah penanaman pengetahuan keislaman yang baik dan dalam pada mahasiswa. Ini kerja yang tidak main-main, penanaman basis ini wajib sebelum melangkah pada upaya pembertemuan binary of knowledge itu. Kalau akarnya saja tidak kuat, jadinya reduktif. Karena banyak sekali mahasiswa yang lulusan SMA atau SMK yang tidak memiliki basis pengetahuan Islam yang kuat sehingga yang mereka terima di kelas adalah pemahaman Islam sesuai target SAP. Apakah perkara itu bisa diselesaikan hanya dengan 24 SKS dalam satu semester? Gagasan kelewat besar tapi tidak bersedia membangun dari akar. Kasihan sekali, capek-capek bikin gagasan dengan landasan epistemologis yang kokoh cumak buat gagah-gagahan. Maka, simpulan sementara, melihat kenyataannya, gagasan cerdas itu kandas.

Jika kau sempat ke kampusku kelak, kau akan melihat betapa bentuk integrasi-interkoneksi hanya bekerja pada tataran permukaan. Semisal penamaan gedung-gedungnya dengan istilah asing seperti Concert Hall, Student Center, Multipurpose dsb yang disandingkan dengan istilah Arab dan Indonesia sekaligus, namun, mahasiswa lebih mengenal bangunan-bangunan itu dengan nama Inggris di atas. Agar lebih keren dan jauh dari kesan terbelakang mungkin. Mungkin saja. Dengan ini saja, betapa kami sudah menegaskan keterjajahan kami. Betapa inferioritas yang akut benar-benar menjangkiti masyarakat Dunia Ketiga, sikap terjajah yang dilembagakan, seperti di “Indonestan,” kata sejawatku yang penyair, “Bukan, tapi Indonesah,” tambah yang lain, “Bukan, bung, yang betul Indonesia,” ucapku, sok heroik.

Selain itu, nerusin di atas, yang tampak dari kerja konversi tersebut adalah pemberian ekor judul pada nama fakultas yang sebenarnya tidak penting, misalnya Fakultas Ushuluddin diberi ekor ‘Pemikiran Islam’, Fakultas Syari’ah dan ‘Hukum’, Fakultas Dakwah dan ‘Komunikasi’, Fakultas Adab dan ‘Ilmu Budaya, Fakultas Tarbiyah dan ‘Pendidikan’. Aku tidak tahu, apakah ekor judul itu dihadirkan sebagai sebuah penegasan atas kepala judul yang agak ke-arab-arab-an dan kurang populer di telinga masyarakat, terutama warga kota. Atau jangan-jangan hal itu merupakan suatu strategi marketing agar kampus ini sedikit bergaya dan diterima secara sosial oleh masyarakat yang cenderung kapitalistik, yang berharap banyak pada kampus agar kelak bisa kerja enak dan dapat uang banyak setelah sarjana? Ini masih belum ngomongin modus pendirian fakultas (yang konon) sebagai penanda dari konversi tersebut, fakultas yang tak ada embel-embel Islamnya, seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora dan Fakultas Sains dan Tekhnologi. Beberapa waktu lalu lahir fakultas baru bernama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (yang diajarin mungkin bagaimana bisa kaya di dunia dan juga aman secara akhirat).

Aku menerka, kehadiran integrasi-interkoneksi sebagai sebuah sampul untuk proyek kapitalisasi pendidikan sebagai lembaran-lembarannya. Sebagaimana sampul-sampul yang keren, tidak selalu merepresentasikan kualitas isinya. Logika sistem produksi kapital semacam pabrik diterapkan di kampus ini: ngeluarin sarjana-sarjana cepat saji. Kampus beralih fungsi menjadi mesin produksi penghasil sarjana yang nggak bisa ngapa-ngapain. Jangan heran kalau UIN Sunan Kalijaga ini tampak sekali kalo jualan, sudah pabrik, mirip supermarket lagi. Sistem perkuliahan cepat dikampanyekan, tidak perduli apakah si mahasiswa pinter atau bodoh, yang penting mereka bayar tepat waktu dan pergi cepat waktu (untung bayarannya kehitung murah meriah). Bagi Adorno dan sobat dari Madrasah Frankfurt menyebut perkara ini sebagai gejala budaya industri. Klop.

Nah, logika mesin kapitalistik beginian yang kemudian berdampak sistemik (buh, berat bung), terutama pada gaya hidup dan cara pikir mahasiwa-mahasiswanya, juga dosen-dosennya. Ilmu pengetahuan sebagai sebuah organisme kultural untuk menekan hasrat yang berlebihan ternyata tidak mampu menghadapi terjangan badai kapitalisme yang massif. Bisa kau lihat di kampus manapun, termasuk di UIN Sunan Kalijaga, kini kampus (lagi-lagi) terlanjur menjadi panggung catwalk bagi mahasiswa yang gemar belanja dan membayangkan dirinya adalah artis dunia yang sedang berjalan di red carpet dan sesekali melempar senyum kepada pemirsa. Tidak hanya di mall, bahkan di kampus rambut mohawk mendapatkan momentumnya. Tubuh-tubuh mereka bagai manekin dari katalogus baju-baju keluaran terbaru untuk diperagakan di University Fashion Week. Hem, jangan heran, kau akan melihat betapa kerudung yang rumit dan berlipat-lipat itu adalah ekspresi eksitensi si pemakainya. “Desire delirium,” sindir Deleuze & Guattri.

Perambahan gejala budaya industri juga merasuk bahkan kepada kawan-kawan yang ngefans sama Marx, filsuf kiri yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk melawan kapitalisme dan memperjuangkan kaum miskin proletar. Sebuah perjuangan agung untuk umat manusia di muka bumi. Namun, penghapusan kesenjangan sosial di masyarakat kayaknya memang cita-cita utopis deh kalau melihat kenyataan para Marxis fansclub-nya. Di kampus yang terlanjur mengkonotasikan dirinya sebagai Kampus Putih dan Kampus Perlawanan, Marx dengan jenggotnya yang soleh itu menjadi ‘pahlawan’ komodifikasi kapitalisme yang sangat laris: perjuangannya berakhir di kaos-kaos, pin, stiker, benner dan poster yang nampang di kamar kos (sembari si pemilik kamar memekikkan kebebasan dari atas kasurnya yang butut). Wajah garangnya namun penuh ketulusan menjadi komoditas made in capitalism. Paradoks. Duh, anakku, betapa kapitalisme sangat cerdik mencuri keistimewaan sebuah ikon untuk memperpanjang napasnya, yang akhirnya ikon itu kehilangan makna rill-nya.

Beginilah surat kecil ini aku tulis, anakku. Kau boleh menganggap surat ini sebagai suatu strategi untuk mengorganisir kegelisahanku agar tidak sinting karena selalu memikirkannya. Mungkin karena warung kopi tidak selalu cukup menyediakan beberapa cangkir kopi dengan beberapa lembar rupiah untuk menampung semua ini. Tak ada salahnya aku berbagi kepadamu tentang diriku dan kegelisahan-kegelisahanku. Ya, meski kadang surat ini ngelantur kemana-mana. Kau pasti paham lah, ini bawaan dari emosi yang meluap-luap ketika aku menuliskannya. Sebuah luapan dari mahasiswa ‘Sunan Hibrida’ yang terlanjur ini, Nak. Semuanya serba terlanjur, sebagaimana surat ini terlanjur ditulis. Semoga engkau tidak mengalami apa yang aku sebut terlanjur ini, Anakku. Setelah ini kita akan sedikit berunding dari alam masing-masing, saling tawar menawar, sesekali berbeda pendapat, sesekali juga bersepakat, sambil mengutip dan memikirkan kata-kata dari filsuf Yunani yang pernah dikutip Gie tentang apakah betul nasib baik adalah tidak dilahirkan? Setidaknya bagi dirimu yang belum lagi ada.

*Anggota Teater Eska UIN Sunan kalijaga Yogyakarta. Essai ini pernah diterbitkan pada tahun 2014 oleh LPM Arena dalam buku antologi UIN Suka Aksi, UIN Suka Diskusi.

Gambar: Enggar Romadioni (Night Story).