230 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) menetapkan tanggal 18 Desember sebagai Hari Bahasa Arab Internasional. Beragam kreatifitas dilakukan mahasiswa jurusan Bahasa Arab dalam meperingati Hari Bahasa Arab sedunia tersebut. Salah satunya adalah gerakan turun ke jalan dalam rangka mengajak masyarakat turut mencintai dan membudidayakan bahasa Arab.

Kegiatan tersebut dipelopori oleh mahasiswa bahasa Arab se-Yogyakarta, yang juga bekerjasama dengan Ittihadu Thalabah Al-Lughah Al-Arobiyyah bi Indonesiyyah (ITHLA) di luar Provinsi Yogyakarta, seperti mahasiswa jurusan Bahasa Arab dari Jakarta dan Surabaya. Sekitar 50 peserta memulai kegiatan dengan berjalan kaki dari titik Nol KM (0 KM) melewati Jalan Malioboro dan berakhir di Parkiran Abu Bakar Ali Yogyakarta.

Selain itu, peserta yang terlibat ikut meramaikan kegiatan dengan mementaskan berbagai karya seni yang berhubungan dengan bahasa Arab. Seperti pembacaan naskah puisi Arab, pidato bahasa Arab, hingga orasi berbahasa Arab. Kegiatan tersebut lahir sebagai momentum bagi mahasiswa jurusan Bahasa Arab untuk membumikan dan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu umat.

“Bahasa Arab bukanlah bahasa radikalisme dan vandalisme, melainkan bahasa Arab adalah bahasa pemersatu umat,” ujar Zainurridah dalam orasinya, selaku koordinator Lapangan, Minggu (18/12).

Aksi tersebut kembali mengingatkan massa aksi bahwa bahasa Arab kerap kali digunakan kelompok tertentu untuk memalsukan ayat Al-Quran dan kitab-kitab hadis. Bahasa Arab yang sangat berpengaruh dalam menentukan berbagai penafsiran dari kitab-kitab Islam. Kurangnya penguasaan bahasa Arab bagi tokoh agama kadang melahirkan alim ulama yang radikal dalam memahami kitab suci baik dari segi tekstual maupun kontekstualnya. Hal itu pula yang kerap memicu terjadinya perselisihan dari para pemuka Islam, sehingga menciptakan perpecahan dari berbagai paham. Oleh karena itu, peserta dituntut untuk menumbuhkan antusias dan pencerahan dalam membumikan bahasa Arab di belahan masyarakat

“Membumikan bahasa Arab sangat penting, khususnya dalam memahami ilmu-ilmu keagamaan dengan tujuan menangkal paham-paham radikal yang selama ini terus merajalela di belahan dunia dan di negara Indonesia sendiri,” tutur Didi Manarul Hadi dalam orasinya, salah satu peserta dalam kegiatan tersebut.

Tidak hanya menjadikan bahasa Arab sebagai pemersatu umat, bahasa Arab yang menduduki posisi kedua sebagai bahasa resmi internasional setelah bahasa Inggris, juga diharapkan mampu menjadi alat komunikasi yang utama bagi setiap bangsa layaknya bahasa Inggris. Pasalnya, sejak bahasa Arab digunakan oleh PBB sebagai salah satu bahasa resmi pada tahun 1974, tingkat popularitas bahasa Arab dari masa ke masa semakin meningkat dan paling banyak diminati oleh sekitar 30 negara penutur, khususnya di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data yang dilansir dari Ethnologue (Hasil survey yang meneliti perkembangan bahasa di lima benua, yaitu Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Pasifik) bahwa pengguna bahasa Arab telah mencapai lebih dari 300 juta penutur di seluruh penjuru dunia.

Melihat tingkat penutur dan popularitas bahasa Arab tersebut, sudah semestinya bahasa Arab menjadi bahasa yang wajib dipelajari di berbagai negara. Oleh karena itu, Didi Manarul juga menyampaikan dalam tuntutannya bahwa dengan meluasnya cakupan bahasa Arab di berbagai negara diharapkan menjadi alat komunikasi yang mesti dianjurkan bahkan diutamakan di antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.

“Saya mewakili mahasiswa bahasa Arab se-DIY, berharap kepada semua warga di dunia untuk menjadikan bahasa Arab sebagai suatu ilmu pengetahuan dan alat komunikasi yang utama bagi bangsa-bangsa di dunia,” tambah Didi.

Reporter: Ilham M Rusdi

Redaktur: Isma Swastiningrum