167 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ibnu Arsib Ritonga*

Ali Syari’ati (1933-1977) adalah salah seorang di antara sedikit tokoh ulama dan intelektual awam yang paling banyak berpengaruh dalam kebangkitan revolusi Islam di Iran. Dabashi membenarkan, bahwa Ali Syari’ati adalah ideolog par excellence. Dia merupakan pribadi yang lengkap (kompleks), elektif, tapi eloquen (fasih), sekaligus emosional dan kontroversial. Sikap elektiknya membuat ia mampu dalam tarikan nafas yang sama menyebut Imam ‘Ali, Imam Husyn, Abu Dzar, Jean Paul Sartre, Frantz Fanon, Emile Durkheim, Max Weber, dan Karl Marx. Pemikiran Ali Syari’ati nampaknya tidak terlalu sistematis; tidak jarang terlihat bahwa pemikirannya dalam banyak tema penuh kontradiksi. Sebab itu, dia tampil dalam banyak wajah, yang pada gilirannya membuat orang sering keliru memahami ide-ide pemikirannya.

Demikian, seperti yang dijelaskan oleh Abrahamain, terdapat “tiga jati diri Syari’ati”:

Pertama adalah Syari’ati sang sosiolog yang tertarik pada hubungan dialektis antara teori dan praktik, antara ide dan kekuatan-kekuatan sosial, dan antara kesadaran dengan eksistensi kemanusiaan. Dia memiliki komitmen yang tinggi untuk memahami lahir, tumbuh dan birokratisasi kemudian akhirnya mewujudkan gerakan-gerakan yang revolusioner.

Kedua adalah Syari’ati seorang penganut Syi’ah yang percaya bahwa Syi’ah adalah gerakan revolusioner, berbeda dengan seluruh ideologi radikal lain. Ideologi ini tidak akan tunduk kepada hukum besi (iron law) tentang peragian birokratik. Dia percaya bahwa pada tataran perubahan fundamental, seluruh ideologi dan masyarakat menghadapi masalah kebangkitan, peragian, dan keruntuhan. Untuk mengatasi itu semua, caranya menurut Syari’ati adalah dengan melakukan revitalisasi yang berkesinambungan terhadap ideologi itu sendiri.

Ketiga adalah Syari’ati sebagai penceramah umum (public speaker) yang bersemangat, artikulatif, dan oratik yang sangat memikat bagi banyak orang, khususnya kaum muda, tentunya kaum intelektual muslim. dalam kedudukan itu. Syari’ati menggunakan banyak jargon, simplifikasi, generalisasi, dan kritisme yang sangat tajam terhadap institusi-institusi mapan, dalam hal ini adalah sewaktu rezim Syah Pahlevi dan juga pada para kaum umala di Iran. Maka tak heran dia sering dikupingi oleh agen Syah Pahlevi dan juga agen ulama dalam setiap gerak-geriknya.(Azumardi Azra:1996;68-69)

Tugas intelektual muslim

Tentunya, kita sependapat dengan Ali Syari’ati (ideolog kaum intelektual muslim Iran pada revolusi Islam di Iran 1979). Tugas intelektual (sering juga dia menyebutkan Rausyanfikr-pemikir yang tercerahkan) muslim hari ini adalah mempelajari dan memahami Islam sebagai ajaran dan “aliran pemikiran” yang membangkitkan kehidupan manusia, baik secara perseorangan maupun masyarakat. Sebagai intelektual muslim dia memikul amanah demi masa depan umat manusia menuju yang lebih baik.

Pendapat di atas, dituturkannya pada saat memberikan ceramah di depan kaum-kaum intelektual muslim yang dibukukan dalam buku yang berjudul Tugas Cendekiawan Muslim (terjemahan). Secara pribadi, saya sependapat dengannya, bahwa ajaran Islam haru bisa merubah tatanan sosial (habbaluminannas) bukan hanya meningkatkan ibadah kepada Tuhan. Tugas untuk dunia sebagai khalifah fil ardh harus juga dipenuhi sebelum berakhir kehidupan manusia. Di dunia ini adalah mencari bekal untuk di akhirat. Segala apa yang kita perbuat di dunia ini tentunya akan diminta pertanggungjawabannya. Menegakkan keadilan adalah suatu perintah bukan hanya menegakkan rukun-rukun Islam.

Seorang intelektual muslim harus mempelajari dan memahami Islam. Cara mempelajari dan memahami Islam menurut Ali Syari’ati dapat melalui: mengenali Allah SWT, kemudian membandingkannya dengan sesembahan yang lain; mempelajari kitab Al-Qur’an kemudian membandingkannya dengan kitab-kitab yang ada (kitab Samawi) atau kitab buatan manusia; mempelajari kepribadian Rasul Islam (Muhammad SAW) dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah; dan yang terakhir mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan kemudian membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama atau aliran-aliran pemikiran lain.

Itulah cara mempelajari dan memahami Islam menurut Ali Syari’ati. Apa yang dikatakannya adalah suatu jalan kepada intelektual muslim merasa tidak putus asa dan bersikap pesimis. Islam atau ajaran Islam dapat memajukan peradaban manusia dahulu, masa kini dan yang akan datang. Hal itu pun tidak lepas dari dinamika sejarah yang panjang. Masa-masa kejayaan akan digulirkan Allah pada setiap ummat manusia hingga akhir dunia, tinggal bagaimana usaha manusia untuk lebih awal, lebih lama, mendapatkan dan mempertahankan kejayaan yang diberikan-Nya, hal ini tentunya berkaitan dengan pribadi seseorang atau umat sebagai pelaku utamanya.

Pribadi seseorang adalah cerminan daripada karakter dari seseorang tersebut. Pribadi seseorang dapat dibentuk dari luar diri dan dari dalam diri. Kalau kita perkirakan 70 persen atau lebih pribadi kita dipengaruhi kemudian dibentuk atau terbentuk dari luar (faktor ekstenal). Intinya lebih banyak dari faktor internal.

Ali Syari’ati berpendapat, pada umumnya ada lima faktor yang membangun pribadi seseorang, yaitu:

Pertama, ibunya yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi bentuk rohaninya. Seperti yang dikatakan orang Jesuit, “serahkan anakmu kepadaku hingga ia mencapai umur tujuh tahun, maka kemana pun dia pergi, dia akan tetap menjadi seorang Jesuit hingga akhir hayatnya”. Ibu dengan penuh kasih dan kelembutannya, membelai dan menyusui. Sang ibu yang membentuk dan memelihara rohani dan menanamkan pendidikan awal pada anak-anaknya.

Kedua, fakor kedua yang menumbuhkan kepribadian seseorang adalah ayahnya. Sesudah sang ibu memberikan dimensi lain pada rohani si anak, maka sang ayah juga berperan aktif dalam pertumbuhan seorang anak memberi dimensi lain seperti si sang ibu tadi.

Ketiga, faktor ketiga yang membentuk dimensi seseorang yang lebih lahiriah adalah sekolahnya.

Keempat, masyarakat dan lingkungan. Semakin kuat lingkungannya semakin besarlah pengaruh edukatifnya atas seseorang. Seseorang yang hidup di desa, misalnya akan menerima pengaruh formatif yang lebih sedikit dari lingkungan ketimbang seseorang yang hidup di kota besar.

Kelima, faktor edukatif (pendidikan). Dalam membentuk kepribadian seseorang ialah kebudayaan masyarakat ataupun kebudayaan di dunia secara keseluruhan.

Faktor-faktor yang disebutkan oleh Syari’ati di atas tentunya faktor yang merubah kepribadian seseorang dari laur pribadi seseorang tersebut (faktor eksternal). Tujuan dari pada keseluruhan faktor pembentukan dan juga perubahan. Pengalaman makna tentunya banyak mengajar kepada kita arti atau makna daripada kehidupan itu sendiri. Samakin lama hidup, semakin banyak yang dirasa.[]

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum UISU Medan.

Sumber foto: islamalternatif.com