208 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com-Khuldi diibaratkan sebagai pintu yang membawa Adam dan Hawa terdampar ke dunia fana, “Sebuah dunia, nama dari pengetahuan dan kekuasaan yang korup, tegak di atas mantra ideologi akumulasi. Melahirkan prahara kemanusiaan, melahirkan serdadu permainan hasrat. Berkibar di langit bersama kata-kata bijak para iblis berbahasa manusia, aku beriman pada apa yang kuciptakan sendiri. Aku ada, karena benda-benda ciptaanku ada”. Begitulah pengalan naskah yang dibacakan oleh pembawa acara dalam mengawali pentas produksi Teater Eska yang ke-33 di convension Hall Taman budaya Yogyakarta Rabu(4/01).

Dalam pementasan yang berjudul Khuldi ini, sang sutradara Zuhdi Sang ingin menggambarkan serta menafsirkan pertunjukan teater untuk merefleksikan kondisi sosial dan politik bangsa Indonesia belakangan ini. Terutama yang berkaitan dengan fenomena kekerasan dan perpecahan. Hal tersebut tergambar  pada adegan season pertama pementasan Khuldi. Ketika para aktor perempuan dengan balutan kostum yang penuh dengan isyarat alam, mengambarkan ketakutan, kesedihan, dan kebimbangan yang tak tertahankan melihat kondisi kampungnya yang diserang oleh orang yang melegitimasi kepentingan pribadinya dengan dalih agama, etnis, komunitas kelompok bahkan kepentingan politik. Oleh sebab itu, kebahagian yang dimimpikan terenggut begitu saja.

Pementasan yang penuh dengan nuansa simbolik ini membungkus semua permasalahan yang sedang menjangkit bangsa ini. Dalam beberapa sesi adegan, diperkuat dengan narasi yang dimunculkan oleh setiap aktor didalamnya. Begitu juga dengan penamaan  tokoh dalam pementasan Khuldi yang kita kenal dengan Adam, hawa, Iblis di rubah menjadi Eda, hewa, Eba untuk memperkuat dimensi teater kontemporernya.

Pertunjukan kali ini  mengambarkan sosok Eda yang mempunyai kedua unsur yang dimiliki oleh Hewa dan Eba. Unsur tersebut adalah Kenabatian artinya pasif dan produkti dari (Hewa) dan kebinatangan artinya dia memiliki akal dan rasa serta agresif dari yang disyaratkan dari (Eba). Dari kedua unsur itulah (Eda) ada atas gabungan dari kedua unsur tersebut. Pada akhirnya keberadaan manusia tidak bisa lepas dari kedua unsur diatas yang membentuk satu kesatuan yang mengarahkan pada perilaku dan tindakan manusia sekarang.

Khuldi mengisyaratkan gerbang ketidakberdayaan manusia dalam mengendalikan hasratnya sendiri, dan dalam kontekstualisasi kondisi manusia indonesia saat ini pementasan Khuldi menjadi kritik atas apa yang sedang menjangkit bangsa ini.

Sebelumnya  pementasan Khuldi juga sempat dipentaskan di tiga kota besar di Indonesia yaitu Purwokerto (12 /12/2016), Bandung (14 /12/2016), Bogor (16/12/2016) dan terakhir (04/01/2017) di TBY.

 

Reporter       : Abdul Rohim

Redaktur      : Wulan

Foto : diambil dari akun facebook Teater Eska