302 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

 

Ingatan itu sepeti rona-rona senja yang menyublim pada pekat malam.  Seperti saat ini, ketika gambaran  wajah kanak-kanaknya yang menyenangkan kembali  mengakrabi nafasku, dan matanya yang menyimpan berjuta rahasia memandang mataku. Jelaga yang pelan-pelan mencuatkan hitam pada sisa senja  orange itu, seperti memuntahkan perasaan rindu yang teramat dalam untukknya. Detik itu juga, aku rela berhamburan dalam semestanya.

“Kamu masih menyimpan marah kepadaku?”

Ia berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan baik, setelah tubuhnya kian membeku oleh perasaan yang keras.

“Aku selalu diajari untuk menjadi pemaaf, walau pada dasarnya aku tak mampu menahan luka dan mengubur dendam.”

Bayangan ibu tiba-tiba mendera dalam ingatanku. Bisikan manis yang terasa hangat di telinga,  ketika  bibir tuanya  berucap bahwa memaafkan yang akan mengantarkanku menuju suatu telaga jiwa.

“Seharusnya kita saling memusuhi seumur hidup! Kau telah mengukir luka dalam ingatanku, dan itu kamu lakukan berkali-laki dengan kekasih-kekasih cadanganmu yang tak pernah kuhafal satu-satu.”

Dalam pelukannya yang penuh amarah, kulirik Bunga yang tengah tertidur pulas dengan nafas terengah-engah yang sampai menggetarkan dada mungilnya.

Aku ikut beku, tersirap oleh kalimat  laki-laki itu. Terasa mengalun siir dan mengiris. Namun kucoba menikmati durasi di dalam pelukannya. Aku mengabaikan diri dalam waktu mekanik yang terus bergulir.

Dia  memelukku semakin erat. Kutarik tubuhku agar dapat melihat wajahnya. Kupegangi wajahnya yang sama sekali tidak berubah, tetap terlihat menyenangkan dan  kekanak-kanakan. Kuukir selaris senyum untuknya, lalu kupalingkan wajahku dari wajahnya untuk melihat lemari pakaian dengan kaca besar. Lemari dengan kaca itu berada di belakang punggungya, sehingga aku bisa melihat wajahku dalam kaca tanpa harus melepaskan pelukannya.

Aku semakin menyadari perubahan fisikku. Usiaku selisih lima tahun lebih muda dari pada dirinya. Namun, gurat wajahku terasa lebih menua setelah melahirkan Bunga. Peri kecil yang tumbuh dari rahim merah mudaku, yang membuatku menyandang peran sebagai ibu.

Saat memikirkan masa depan Bunga, terkadang aku merasa sangat kalut. Aku bahagia membesarkan Bunga sendirian. Tapi aku tahu, ada masa di mana putri kecilku akan membutuhkan sosok ayah. Sosok yang membuatnya belajar  tegas menghadapi kehidupan. Putri kecilku akan memerlukan sosok yang keras untuk menakhukan rimba. Namun kini aku berpikir, mungkin ayah tidak selalu laki-laki.

Aku tidak ingin ia larut dalam konstruk sosial tentang narasi-narasi yang dibangun atas pendisiplinan  perempuan ideal. Aku tidak rela putriku menghancurkan egonya agar menjadi sosok yang lembut, pendamai, juga penyabar seperti apa yang diidentikkan oleh masyarakat sekelilingku.

Aku merasakan lambaian telapak  tangan  jatuh mengusap rambutku. Lambaian itu terus berulang dengan lembut. Apa yang diucapkannya benar, bukankah kita semestinya saling memusuhi seumur hidup? Atas nama luka yang tak kunjung ikhlas untuk enyah. Aku terbuang dari lingkunganku karena hamil tanpa ada upacara pernikahan terlebih dahulu. “Adakah benar kamu mencintaiku saat meninggalkanku dalam keadaan susah itu? Ketika kau tahu telah ada kehidupan di dalam perutku karena ulah kita!  Pantaskah  untuk  sempat memaki dan meragu kesetiaanku?”

Aku tidak tahu, mengapa aku tidak berontak saja dalam pelukannya. Lantas melontarkan kemarahan sebagai upaya menuntut hak yang semestinya kudapat. Bahkan kalimat kekecewaan itu hanya mampu kudengar sendiri dalam hati, tak sanggup ku ungkapkan agar dia tahu.  Aku masih merasakan lambaian telapak tanganya mengusap rambutku. Adakah ini caranya menjinakkanku sebagai perempuan?

Alkides yang dikisahkan ibu semasa kecilku tengah  menari dalam ingatanku.  Ibu bilang, Alkides  adalah pahlawan tersohor di Yunani yang  berhasil melumpuhkan  Atlas: moster pengacau  Yunani.

Sambil ku gigit jempol, aku terus memperhatikan air muka ibu yang dibuat-buat seram menyerupai Atlas. Pada saat itu, sama sekali belum ada gambaran dalam benakku  tentang secuil negeri bernama Yunani. Pikirku saat itu, mungkin Yunani adalah suatu tempat di luar bumi  yang dihuni oleh makhluk-makhluk menyerupai manusia, dengan gunung-gunung syahdu yang di kakinya mengalir bercabang sungai nan deras.

Ibu juga bilang, meskipun Alkides adalah manusia setengah Dewa, tapi dia mempunyai sifat seperti laki-laki kebanyakan. Ia berjiwa tegas, keras dan lihai memimpin di medan perang. Sedang istri Alkides, adalah seorang yang lembut, penyayang, juga penyabar.

Kini aku sangat membenci cerita itu. Cerita yang membuat kaumku tidak percaya bahwa dialah yang semestnya  menjadi nahkoda untuk dirinya sendiri. Kini nahkoda putri-putri itu adalah sang lelaki yang ia anggap lebih mumpuni untuk menjaganya.

Aku tidak akan bercerita tentang Alkides ini kepadamu nak! Cerita itu hanya untuk menghidupkan mitos-mitos kejantanan laki-laki.  Bunga, putri kecilku, aku ingin engkau kuasa menjadi nahkoda atas dirimu sendiri, sayang!

“Apakah sekarang kamu juga punya kekasih yang baru?”

Serak suaranya membangunkan lamunanku. Aku teringat puluhan laki-laki yang sempat dekat denganku. Aku yang berwarna-warni datang untuk melukis kanvas mereka yang datar, menyemai serbuk-serbuk pelangi dalam kehidupannya. Kami semua saling berdialektika tentang perlawanan,  pembebasan, juga kemanusian. Mereka merasa semakin hidup dalam misi-misi itu. Bahwa ternyata hidup tidak hanya untuk diri sendiri, karena mencemaskan diri sendiri tak pernah ada habisnya. Mereka telah berusaha mencemaskan nasib orang lain.

Kini, satu sama lain dari kami telah saling mewarnai, bukan lagi aku yang menjadi satu-satunya pelangi, semua telah menjadi pelangi di sini.

Di atas kakiku yang tengah menjejakkan diri pada ubin,  pelangi dalam diriku pun telah menjemput kodratnya. Ia fana bersama waktu yang singkat. Meski berwarna-warni, sesungguhnya pelangi tetaplah maya. Seperti harapan-harapan palsu.

Potongan ingatan yang membawa bisikan pada ulu hatiku:  tentang setiap generasi ada masanya dan setiap masa ada generasinya, mengalun berkeliling mengitari hati. Maka kukutuk anakku agar tidak  mengulang pengalaman ibunya  yang  selalu lincah menabur serbuk pelangi.“Dalam generasimu, serbuk pelangi itu sudah tidak ada. Sehingga kamu perlu menyebarkan sesuatu yang baru, sayang!  Mungkin sesuatu itu adalah serbuk cinta sejati. Serbuk yang lebih hakiki yang bisa kau tabur.”

Masih dalam pelukan laki-laki itu, kutinggalkan dunia materilku. Lalu,  kuketokkan pintu mimpi di  alam tidur putri kecilku. Kuselipkan selembar kertas putih yang kelak bisa ia coreti sebuah peta untuk menemukan  serbuk cinta. Kaki-kaki kecilnya akan menaburi kehidupan dengan keberanian dan cinta. Tentu ibu mengharap cinta sejati, dan cinta sejati bukan sesederhana setia atau tidak. Melainkan yang memberi sayap, bukan yang membelenggu, karena nampaknya cinta  adalah separuh dari kebenaran itu sendiri.[]

 

Afin Nur Fariha, penulis adalah manusia yang lebih sering hidup dalam bilik ayalnya dari pada alam realita, karena baginya realita itu ganas dan kejam.

Ilustrasi : www.harnas.co/geliat perempuan berekspresi