303 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com-Berawal dari 9 Oktober 2011, Jogja Berkebun terbentuk dengan misi urban farming yang bertujuan mengajak serta memberi semangat masyarakat kota untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. “Selain untuk berkegiatan di urban farming, Jogja Berkebun juga memiliki tujuan untuk mengajak pemuda serta masyarakat untuk semangat berkebun dan memiliki motivasi untuk memenuhi pangannya sendiri,”ucap Anjela Putri Ratnaningrum selaku koordinator Komunitas Jogja Berkebun ketika ARENA temui di LaSem Cafe Jumat(13/1).

Tidak ada peraturan yang mengikat dari komunitas Jogja Berkebun, semua penggiat yang datang dan berkebun bersama Jogja Berkebun, dianggap anggota. Begitu Anjela menuturkan. Komunitas yang merupakan jejaring dari Indonesia berkebun ini, tumbuh dan berkembang melalui sosial media. Penggiat atau anggota Jogja Berkebun sendiri termasuk heterogen, ada mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan masih banyak lagi. “Kita komunitas tidak profit, tidak akan mau jadi PT berbadan hukum, tidak mau juga ikut berpolitik,”ucap Prastyatuti selaku Ketua Jogja Berkebun.

Penggiat Komunitas Jogja Berkebun 2(Penggiat Jogja Berkebun)

3E, begitu misi yang dilaksanakan dan ingin dicapai oleh Jogja Berkebun. Ekonomi, Edukasi, dan Ekologi. Ekonomi, upaya meningkatkan pendapatan hasil dari kegiatan berkebun. “Ekonomi disini bukan berarti dalam bentuk uang, tetapi lebih kepada hasil berupa sayuran yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita,” Anjela menjelaskan.

Edukasi, upaya yang dilakukan Jogja Berkebun menyebarkan atau berbagi cara berkebun. Dalam hal ini Jogja Berkebun tak jarang menjadi pembicara dalam berbagai forum seperti di sekolah, panti, dll untuk memberikan edukasi terkait aktivitas atau cara berkebun. Sedangkan Ekologi, merupakan upaya komunitas Jogja Berkebun untuk memperbaiki lingkungan atau mengembalikan keselarasan alam. Karena di Jogja Berkebun, kita melakukan segala aktivitas berkebun dengan cara-cara yang organik. Tidak menggunakan bahan-bahan kimia misalnya. Sehingga tidak mencemari atau merusak tanah yang ada.

Berkebun di Lahan Sempit
Minim bahkan tidak adanya lahan terkadang menjadi alasan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas bercocok tanam di lingkungan tempat tinggalnya. Nita Nuryati seorang Ibu Rumah Tangga mengaku, di daerah tempat tinggalnya dulu, tepatnya di Perumnas Condong Catur tidak ada lahan untuknya berkebun. Tidak ada tanah, pun resapan. Semua sudah di-cor.

“Dulu saya punya pohon mangga di depan rumah, dan kalau berbuah bisa sampai banyak. Itu kan lumayan buat menghemat pengeluaran. Biasanya anak-anak suka jajan, tapi karena pohon mangga nya sudah berbuah mau lotisan tinggal petik. Mau buah, juga tinggal petik, tetangga juga kebagian,” Nita menjelaskan.

Menanggapi hal tersebut, Anjela berkata,”Melihat keadaan Yogyakarta yang padat, apalagi ketika kita tinggal di perkotaan, ada banyak cara untuk menyiasati kalau tidak ada lahan. Misalnya menggunakan sistem Hidroponik”. Penanaman dengan teknik Hidroponik merupakan penaman dengan menggunakan media tanam selain tanah. Atau bisa dikatakan media penanaman alternatif. Misalnya menggunakan sekap padi, sabut kelapa, dan lain sebagainya. Ada pula Aquaponik, yaitu penanaman dengan menggunakan air sebagai media tanam.

Dalam melakukan aktivitas berkebun, Jogja Berkebun melakukannya di berbagai tempat, berawal dari berkebun di café, di lahan yang tersedia di Pakualaman, di Dinas Perhutanan yang berada di daerah Lempuyangan, hingga berpindah lagi karena disitu dijadikan tempat parkir. “Kita dapat tawaran juga berkebun di bawah jembatan Sardjito, Kali Code. Kemudian di tahun 2016, penggiat Jogja Berkebun ada yang punya pekarangan untuk dipergunakan Komunitas berkegiatan. Tepatnya di Jalan Kaliurang KM 7,8 Banteng. Dan itu dipakai tempat beraktivitas Jogja Berkebun hingga saat ini,” ucap Anjela.

Mandiri Pangan dan Hidup Sehat
Tidak sedikit tanaman yang bisa ditanam dengan mudah oleh pemula, “Berkebun itu tidak susah, yang penting telaten”. Di Jogja Berkebun sendiri, tanaman-tanaman yang ditanam merupakan tanaman yang mudah ditanam dan masuk ke dalam tanaman-tanaman edibel atau tanaman yang bisa dimakan. Beberapa diantaranya tanaman tomat, terong, kenikir, cabai, dan masih banyak lagi. Juga bunga yang bisa dimanfaatkan seperti bunga Telang, yang dapat diolah menjadi teh dan berkhasiat.

jogja berkebun 1(Penggiat Jogja Berkebun Setelah Melakukan Aktivitas)

“Banyak keuntungan yang bisa didapat dari aktivitas berkebun atau menanam sendiri,” ujar Anjela. Belajar menghargai proses misalnya. Untuk menghasilkan sayuran sendiri ada tahapan yang harus dilakukan. Sehingga masyarakat lebih menghargai petani dan apa yang mereka makan.
Mendapatkan hasil berupa sayur-sayuran yang sehat yang bisa dimakan, juga merupakan salah satu keuntungannya. Memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Belajar hidup sehat dan sadar akan kesehatan diri. “Selain tau akan kualitas makanan yang akan dikonsumsi, memperoleh kesenangan, olahraga, berkebun juga melatih kesabaran,” Anjela.

Reporter : Wulan
Redaktur : Wulan