224 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com − Pulau Ketam, begitu namanya. Teletak di daerah pesisir dekat Kuala Lumpur, sekitar 20 KM dari Pelabuhan Klang. Rumah-rumah di sana merupakan perumahan apung. Rumah disangga kayu-kayu yang berdiri sepanjang 3 sampai 33 kaki dari dasar perairan.

Di tempat ini tinggal penduduk yang mayoritas keturunan China. Penduduk sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Transportasi dari rumah ke rumah dihubungkan menggunakan sekoci atau lewat jembatan kayu yang sempit. Tak ada motor, mobil, atau transportasi lain yang memberakkan polusi, cukup dengan kaki dan sepeda.

Latar Pulau Ketam yang seperti itulah yang menjadi inspirasi kelahiran karya seni rupa dari sembilan seniman asal Indonesia dalam pameran bertajuk “Jalan Dua Pekan”, yang diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta.

Sembilan perupa tersebut bernama Dona Prawita Arissuta, Eddy Sulistyo, Hardiana, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomo Sidhi, Januri, Katirin, Rommy, Soneo Santoso yang melukiskan ide-ide dan kreativitasnya akan sisi-sisi lain dari Pulau Ketam dalam kanvas.

Karya-karya dalam ”Jalan Dua Pekan”  lahir ketika sembilan perupa ini mengikuti Pulau Ketam Internasional Art Fest 2016 lalu selama dua pekan. Bersama 120 seniman lain dari 19 negara. Tahun 2016 juga bertepatan dengan peringatan 152 tahun emigrasi penduduk dari China ke pulau tersebut.

gambar 1

(“Waiting” karya Katirin)

“Sangat menarik di sana, seperti dunia baru. Sangat alami, kita pakai sepeda cas, hidup di atas air, berbaur dengan masyarakat, berkarya. Kita juga menghias rumah,”  kata Katirin saat diwawancara Lpmarena.com, Sabtu (21/01). Dalam pameran ini, Katirin menyumbangkan tiga karya berjudul Mountain Slide Over, Hasil Tangkapan, dan Waiting. Tiga lukisan ini dibuat Katirin menggunakan gaya ekspresionis.

gambar 2

(“Fish Cuple” karya Eddy Sulistyo)

Berbeda dengan Katirin, Eddy Sulistyo lewat karyanya berjudul Fish Couple menggambarkan tentang dua ikan yang di tubuh ikan tersebut ada banyak wajah manusia, yang tak lain adalah wajah-wajah seniman yang mengikuti Pulau Ketam Internasional Art Fest 2016. Eddy mencoba melukiskan kolaborasi, antara alam dan manusia di kampung yang letaknya di atas air tersebut. Baik hubungan secara vertikal maupun horizontal.

Di bagian pinggir Fish Cuple dilukiskan pula sebuah kuas yang menyimbolkan tentang seniman agar ia fokus berkarya. Berkarya bagi Eddy merupakan kerja privasi, perbedaan spiritual yang membuat karya menjadi beda.

Menurut Eddy hidup di Pulau Ketam adalah sesimpel-simpelnya hidup. Di sana begitu sederhana, untuk membeli kebutuhan harus naik sampan. Padahal mereka bisa membeli mobil, tapi memiliki komitmen untuk memakai sampan dan sepeda. Masyarakat mencoba menjaga lingkungan. “Sesuatu yang sederhana perlu diperjuangkan. Menjadi sederhana itu nggak mudah. Perlu proses sendiri jadi lebih baik, tinggal dari tingkat pengalaman masing-masing melihat keluar,” kata Eddy.

Pengunjung pameran Kamiran Suriyadi memberikan komentar pameran ini menjadi sebuah refleksi hidup ketika para perupanya berada di Malaysia yang divisualisasikan kedalam karya lukis. Itu jadi sejarah, terutama bagi perupa itu sendiri.

Secara keseluruhan pameran “Jalan Dua Pekan” banyak melukiskan tentang landscape Pulau Ketam beserta kehidupan yang ada di sana. Dari nelayan, rumah penduduk, kepiting, hingga sepeda. Ini terlihat dalam lukisan-lukisan berjudul Pulau Ketam, Ketam in My Mind, Fish Eye, Fisherman,The Girl of Ketam, The Dancer, Survivor, Mudskeeper, The Dog of Ketam, My Cycle, Bycicle in Ketam, dan lain-lainnya. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 20 – 25 Januari 2017, pukul 09.00-21.00 WIB.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan