194 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Marah

Telah kau panggil harimau ke hadapanku

Pada sore yang bisu dengan awan yang berak-arak antusias

Aku kendalikan waktu dengan mataku

Mengejarmu dengan waktu yang kumiliki

Tak peduli apakah waktuku melaju dengan kecepatan cahaya atau kecepatan awan

Aku hanya ingin hatiku yang terbakar mencekik jantungmu

 

Hingga pada menit tertentu aku tersenyum

Akulah yang benar dalam masalah ini

Dan kau telah layak disebut kotoran kuda

Karena tingkahmu yang hina lebih dari binatang yang paling hina

 

Bantul, 23 Januari 2017

 

Diam

Bajuku ditarik sepi

Langit pun sunyi

Teringat saat kau mengutuk hujanku

 

Menyumpah kesalahanku

Menyayat bajuku

Hingga membuatnya menangis

 

Kini kau digilas serpihan waktu

Diam seperti batu

 

Bantul, 2017

 

Tidak Terima Kasih

Kutuklah aku seperti kau mengutuk hujan

Dasar kancil tidak tahu diri

Masih ingatkah dengan sebongkah tolongnya dan tolongku yang tersimpan rapi pada buku belajarmu?

 

Mulut waktu berbalut ludah berlari

Meninggalkanmu yang tak sadar diri

Yang ditolong oleh hujan pada saat kemarau panjang mencekik lehermu

 

Bantul, 25 Januari 2017

 

Rindu Ibu

Rindu bau pisau dapur

Di tengah hujan yang mengibas gembira

Aku ingat masa kecil

Ketika dipetiknya kasih sayang dari langit

Dibaurkan dengan pohon-pohon

Yang membuatku menjadi segar

 

Bisakah waktu dan ruang dipersempit?

Aku ingin terlepas dari hujan

Ingin segera di peluk tangan kerinduan

 

Tunggulah kedamaianku

Aku akan segera melumuri dinding dapur

Dengan bahagia dan tawa

Yang pernah kau ajarkan

 

Bantul, 21 Januari 2017

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998.  Sedang menimba ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen. Alumni bengkel bahasa dan sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

ilustrasi: hiburan.dbagus.com