219 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Menghindar dari tata tertib, begitulah Harik dalam konser mini tunggalnya bertajuk “Tergantung Pada Bunyi”.

Rintik hujan pada Selasa malam mengguyur halaman Gedung Multy Purpose (MP) UIN Sunan Kalijaga, dari magrib sampai pukul delapanan. Di halaman MP itu sudah terbentuk sebuah panggung berukuran sekitar 3×2 meter, dengan hiasan plang-plang lalu lintas. Dari plang “belokan”, plang “parkir” dan sejolinya “dilarang parkir”. Di sisi kanan dan kiri panggung, empat lampu menyorot ke arah meja yang berisi kecapi dan laptop,  di pinggir meja ada gitar, bass, seruling, dan jimbe.

Meski hujan, puluhan penonton duduk berbanjar di depan panggung kecil itu. Jarak antara panggung dan penonton sangat dekat, sekitar satu sampai tiga meter saja. Penonton saling merapat, menantikan konser tunggal perdana komposer eksperimental muda Harik Giarian Hafidz.

Setelah dibuka dengan salam oleh sastrawan Shohifur Ridho Ilahi yang malam itu bertindak sebagai MC, Harik sudah berdiri di panggung. Wajahnya tanpa make up, rambut gondrongnya dikuncir, setengah dibiarkan terurai ke depan, sisanya ke belakang. Harik memakai kostum kaos warna merah topi SD, yang sengaja dibalik. Kaos itu terlihat matching dengan celana hitam khas seragam pencak silat. Dia berdiri di panggung, tanpa alas kaki. Diragukan juga, apakah dia sudah mandi atau belum. Gaya yang sangat sederhana dan kelewat sederhana. Tidak lazim jika dikatakan ini konser.

Lalu, lagu berjudul “Pemuda dengan Sorot Mata Hitam” menjadi lagu pembuka seniman muda Sunda itu. Lirik dari sebuah puisi yang dibuatnya ketika SMA. Mata Harik fokus pada laptop membaca lirik, dan tangannya asyik memetik gitar. Sesekali tersendat sambil bilang “gak pas” dan penonton dibuatnya tertawa. Suasana semakin meriah ketika panggung disembur oleh asap yang keluar dari fog machine berdaya 1500 watt.

Tampaknya, bagi Harik pakem panggung dan semua teori musik tak harus seperti yang di buku-buku atau yang di TV-TV. Begitu pula dengan lagu-lagu dan komposisi-komposisi yang dia pertunjukkan di depan MP, 31 Januari 2017 itu. Setiap karya yang dibuat seperti disengaja untuk lepas dari tata tertib dengan komposisi nada dan ritme yang terdengar acak, sesekali serampangan, dan tak terduga. Jangan berharap bisa menikmati karya Harik jika menonton tak konsentrasi. Musiknya mungkin hanya dirancang untuk yang bertelinga peka saja. Peka merujuk pada dia yang mau merasakan.

Salah satu petunjuk yang mungkin bisa membantu memahami lagu-lagu Harik paling mudah ialah lewat lirik. Banyak llirik-lirik yang bernada pembangkangan dari hal-hal yang umum, semacam: …tenggelamkan matahari; …waktu adalah batu; …sempatkanlah dikejar layang-layang; dan lainnya. Lirik macam apa ini? Dia melakukan subversi pada sistem.

Secara subjektif, saya membagi pentas ini menjadi empat scene.  Pertama, saat Harik mengkonsenkan diri pada gitar. Di sini ada perpaduan digital yang cantik. Kadang penonton akan mendengarkan nuansa musik senam, reggae, horror, sampai disko.

Kedua, pada kecapi. Menurut saya, puncak keindahan yang dimainkan Harik malam itu di instrumen ini. Ada nuansa meditasi yang menenangkan, ketika jari-jarinya mendawaikan senar-senar kecapi. Terjadi distorsi pula ketika ditabrakkan dengan musik digital dari laptop.

Ketiga, pada seruling. Seruling ini membawa sejarahnya sendiri. Konon, seruling itu dibuat Harik dari sebilah sapu yang disia-siakan di kampus timur UIN Suka. Saat pertama ia datang ke UIN tahun 2011. Barang tak berguna itu lalu dijelmakannya menjadi sesuatu yang berharga.

Keempat, kolaborasi. Harik dibantu oleh kawan-kawan sepermainan di Teater Eska, ISI, atau di komunitas seninya yang lain. Nama-nama tersebut semacam Purba, Hendra, atau sebagai penutup ada penampilan dari Zuhdi Sang, yang menyanyikan tiga judul lagu miliknya, Seperti Dirimu Seperti Diriku, Sejenak Mengerti, dan Sinai. Hingga pentas usai pada pukul 22.46.

Yang menjadi catatan, pentas ini bagi saya kedodoran, terkesan dadakan, serta kurang persiapan dan latihan. Harik di nada-nada tertentu masih sangat terlihat meraba-raba. Dan juga, mungkin karena konsep pentas yang dibiarkan mengalir, kadang membosankan, karena penonoton di scene tertentu menunggu komposisi terlalu lama. Menariknya, banyak spontanitas-spontanitas yang muncul dari eksplorasi yang Harik temukan lewat beragam metodenya itu.

Secara keselurruhan, seperti judulnya “Tergantung Pada Bunyi”, pentas tersebut bermakna pula“Tergantung Pada Harik”. Sejauh yang saya lihat malam itu, Harik telah sukses menjadi dirinya sendiri dan setia pada aliran buatannya sendiri. Dia tak mengekor siapapun. Baik dari gaya, konsep, maupun komposisi yang dihasilkan. Just the way he is.

Kata Shohifur pentas ini adalah pentas perpisahan untuk Harik yang akan melakukan tugas resisdensi (kemanusiaan) bersama komunitasnya Kampung Halaman Yogyakarta. Mungkin dia sengaja kabur dari kuliah kelas yang membosankan di Aqidah Filsafat.

Ya, sebagai seniman muda, Harik besar dalam lingkungan yang beragam dalam proses kreatif seni. Dia tumbuh di Bandung dan Yogyakarta yang sangat dekat dengan ideologi seni. Juga keluyuran, loncat-loncat di aneka komunitas seni untuk bereksperimen terhadap musik, seperti di Teater Eska, Sanggar Nuun, Padepokan Bagong, dan sealirannya. Pria kelahiran Agustus 1991 itu juga sempat bersama ganknya mendirikan grup etnis Sunda bernama Gorong-Gorong Institute (GGI) yang kini rumornya telah almarhum. GGI sempat menciptakan lagu-lagu satir yang mengkritiki pola kehidupan mahasiswa dan dosen di kampus.

Judul Tergantung Pada Bunyi │ Komposer Harik Giarian Hafidz │ Genre Eksperimental │ Durasi 136 menit │Support By Teater Eska, CabelMan, Wathon Pictures, dll │ Tiket 0 Rupiah

Peresensi: Isma Swastiningrum, manusia error, penikmat musik-musik folk dan subculture.