252 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Abdul Rohim

Sebagai awak persma (pers mahasiswa) yang hampir tiga tahun ini mendekam dalam kurung kepersmaan, banyak hal yang masih menjadi pertanyaan besar penulis hingga hari ini. Salah satunya mengenai bagaimana persma hari ini memposisikan diri. Dalam konteks  gerakan mahasiswa dan sosial kemasyarakatan yang semakin hari semakin sulit diidentifikasi gerakannya.

Barangkali hal ini menjadi kegelisahan yang tidak begitu penting untuk digelisahkan, nyatanya hari ini masih ada persma yang eksis di tengah-tengah percaturan gerakan mahasiswa bahkan sosial. Tetapi menurut penulis penting nggak penting mengenai posisi persma hari ini di konteks gerakan, nampaknya kita harus melakukan pembacaan yang mendalam terkait persoalan posisioning persma. Karena penulis masih meyakini, untuk menciptakan suatu langkah strategis dan taktis dalam konteks (gerakan) kita tidak mungkin sekedar mengikuti aliran gelombang yang semakin hari semakin tidak terkontrol debitnya seperti sekarang.

Romantisme masa lalu penulis rasakan masih melekat kuat pada dinamika tubuh persma. Menjadi legitimasi untuk gerakan persma hari ini. Tidak sedikit persma masih menganggap bahwa gerakan taktis yang harus dilakukan adalah bagaimana persma dapat menyurakan permasalahan-permasalahan yang selama ini tidak tersuarakan oleh media mainstream yang terjadi diakar rumput.

Berbasis perspektif yang idiologis tidak sedikit persma ikut andil dalam menyuarakan persoalan-persoalan yang berbasis kerakyatan tersebut. Tidak ada salahnya memang, malah hal tersebut yang sebenarnya menjadi karakteristik persma yang sesungguhnya. Tetapi sekali lagi, dalam konteks gerakan jika kita mengutip pernyataan Pramoedya Ananta Toer bahwa “Mendidik rakyat dengan pergerakan, mendidik penguasa dengan perlawanan” penulis merasa hal ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan realita yang terjadi.

Jika kita bandingkan dengan kondisi  persma ketika berada pada posisi yang sangat strategis di masa orde baru, seperti yang diungkapkan oleh Muridan S. Widjojo dalam bukunya Penakluk Rezim Orde Baru kita akan mendapatkan bagaimana posisi persma saat itu menjadi sangat penting dalam jaringan gerakan mahasiswa.

Hal tersebut tidak bisa kita pungkiri karena ketika pemerintah Orde Baru meredam media oposisi persma menjadi satu-satunya corong yang paling lantang menyuarakan berbagai permasalahan sosial politik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Hal tersebut menjadi sangat relevan di tengah integrasi persma dan gerakan mahasiswa.

Tetapi yang penulis ungkapkan di atas adalah dulu, ketika masa kediktatoran Orde Baru masih mengakar kuat. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah kondisi hari ini masih seperti itu? Dan masih relevankah pola gerakan seperti di atas jika diterapkan pada saat ini? Menurut hemat penulis, akan jauh lebih kompleks hari ini ketimbang apa yang terjadi pada masa Orde Baru. Dari situ coba kita peta-petakan dari hal yang subtansial, mulai dari siapa kawan dan siapa lawan.

Pada masa Orde Baru, jika kita berbicara mengenai siapa kawan dalam konteks persma sudah jelas mereka adalah kawan-kawan gerakan mahasiswa dari berbagai organ yang membentuk simpul gerakan untuk sama-sama mencapai perubahan, juga massa yang saat itu dirugikan oleh adanya kediktatoran Orde Baru yaitu dari beberapa elemen masyarakat. Merekalah orang-orang yang suaranya patut disuarakan. Yang semuanya saling melengkapi untuk membentuk gerakan perlawanan untuk melawan kediktatoran Orde Baru.

Melihat realita yang terjadi hari ini, yang kita anggap kawan bagi persma hari ini, penulis merasa sulit untuk mengidentifikasinya. Pasalnya, gerakan mahasiswa yang dulu merupakan satu-kesatuan bagi persma  setelah tumbangnya Orde Baru semuanya menjadi bias.

Gerakan mahasiswa yang di dalamnya mayoritas berlatar belakang organisasi ekstra  semuanya merapat kepada kepentingan organisasi masing-masing, sehingga simpul gerakan yang sudah terjalin manjadi tercerai berai. Ironisnya satu sama lain saling menjatuhkan hanya karena terjebak pada politik praktis. Walaupun tidak semuanya berafiliasi ke politik seperti yang diungkapkan penulis.

Dalam konteks suara masyarakat yang patut disuarakan, melihat realita hari ini suara masyarakat seperti apa yang tidak bisa disuarakan? Kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang, menjadikan keran informasi terbuka lebar.

Selain itu, media hari ini yang mempunyai politik media yang jelas keberpihakannya, juga lebih cekatan dan komprehensif dalam mengawal suatu persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Ditambah lagi era virtual seperti saat ini menjadikan manusia mendapatkan informasi yang tidak terbatas ruang dan waktu. Setiap orang bisa mengungkapkan pendapatnya di depan publik secara bebas. Artinya memang tidak ada alasan lagi tidak ada ruang  hanya untuk sekedar memprotes kebijakan pemerintah, menyuarakan kritik dan yang lainya.

Kita lihat dari bentuk lawan pada saat orde baru, jelas ada Suharto serta kroninya termasuk  birokrasi yang ada di bawahnya. Lantas hari ini, penulis rasa semakin sulit untuk mengidentifikasi siapa lawan yang rill bagi gerakan mahasiswa terutama bagi persma.

Dalam hal ini yang dimaksud lawan bukanlah lawan yang berhadap-hadapan seperti yang dibayangkan, tetapi lawan yang diangap melatar belakangi berbagai persoalan yang terjadi belakangan ini.

Barangkali ada yang mengatakan pemerintah dan birokrasinya yang bertangung jawab, ada lagi yang mengatakan pemilik modal, kemudian ada golongan ekstrimis keagaman, orang-orang konservatif. Semuanya bisa jadi benar namun bisa juga salah, karena jika kita mengunakan perspektif   jurnalistik yang dikatakan Bill Kovach atas verifikasi itu menjadi penting untuk mengidentifikasi suatu permasalahan.

Sedangkan untuk memverifikasi permasalahan yang disebutkan tadi bukanlah perkara mudah. Artinya kita harus dapat melihat pada skala global, nasional, dan lokal, yang semuanya harus dibaca mengunakan pisau analisis yang kuat untuk mengetahui titik persoalannya.

Dari dua pokok persoalan terkait kawan dan lawan yang dihadapi persma hari ini, penulis rasa dua hari diskusipun tidak akan tuntas untuk membedahnya.

Belum lagi, jika kita berbicara terkait kondisi internal persma hari ini. Meliputi produk, Sumber Daya Manusia (SDM), penulis rasa hari ini semuanya sedang mengalami gejolak (kecuali yang tidak, karna mungkin awaknya bingung yang patut digejolakan apa).  Tetapi poin penting dari itu semua adalah tidak mudah untuk menjadikan persma hari ini menjadi media alternatif di tengah keran kebebasan menyuarakan pendapat yang dibuka dengan sangat lebar.

Sudah semestinya persma hari ini memiliki siasat baru untuk menghadapi itu semua. Karna bukan tidak mungkin apa yang dilakukan persma hari ini hanya sebagai pelengkap dari sistem yang hegemonik sehingga kita luput untuk mengidentifikasi kondisi persma itu sendiri.

Hal tersebut penulis rasa gejala yang sudah banyak menjangkit persma. Kita bisa lihat dari permasalahan internal saja dari bagaimana minimnya kader persma hari ini. Dari beberapa persma yang penulis ketahui,  kondisi kader yang sudah tidak lagi memiliki militansi terhadap organisasi semakin tidak bisa dibendung.

Tidak sedikit kader yang menganggap bahwa lembaga pers mahasiswa hanya sebagai tempat kursus jurnalistik yang implikasinya adalah nalar pragmatisme. Selain itu, semakin cepatnya tuntutan kuliah juga memberi dampak yang cukup signifikan terhadap minimnya kader di dalam persma dan organisasi lainya.

Padahal yang penulis ketahui dari beberapa senior terkait persma adalah lembaga/organisasi yang di dalamnya menjadi ruang untuk berproses bagi semua orang yang terlibat di dalamnya, untuk tahu tentang dirinya serta realita sekitar, dan dari situ media jurnalistik menjadi media perjuangannya.

Di tengah dinamika perubahan yang begitu cepat terjadi. Penulis rasa, tidak ada alasan lagi bagi persma untuk tidak berbenah, menata ulang, membangun perspektif baru bagi persma agar menjadi ruang yang benar-benar strategis dalam konteks gerakan.

Salah satu gambaran posisioning yang penulis rasa dapat menjadi alternatif bagi persma adalah  bagaimana presma hari ini dapat menemukan skema gerakan yang efektif untuk kampus dan di luar kampus. Yang perlu dipahami dari kata efektif itu adalah persma memiliki ukuran yang jelas, bagaimana persma dapat mengintegrasikan persoalan yang ada di luar kampus juga dalam kampus.

Artinya, persoalan yang ada di luar dapat digunakan sebagai basis wacana untuk persma kemudian diaktualisasikan dalam bentuk gerakan yang rill didalam kampus. Seperti halnya, persma sebagai katalisator antara dunia kampus dan dunia masyrakat sesungguhnya.

Perlu diingat, sebagus apapun persma memiliki konsepsi terkait posisioning persma hari ini dalam proses bergerakan, ketika kondisi internal persma masih tidak setabil dalam mengatur ritme organisasi yang sehat, penulis rasa hal di atas menjadi sangat tidak berguna. Karna bagaimanapun kondisi internal persma saat ini, menjadi penentu keberhasilan persma memberikan kontribusinya terhadap suatu persoalan untuk dapat diselesaikan.

Akhirnya beberapa poin di atas harus penulis selesaikan dengan tidak puas, karena bagaimanapun beberapa tawaran di atas merupakan pembacaan subjektif dari penulis yang masih absurd, barangkali akan lebih menarik jika kita diskusikan bersama terkait masa depan persma. Mongoo kawan-kawan…

*Penulis adalah Pimpinan Umum LPM Arena periode 2016/2017