305 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Rabu (15/2) UKM Teater Eska UIN Sunan Kalijaga mengadakan diskusi umum bertema “Wacana Pasca Kolonial”. Diskusi yang diselenggarakan di Gelanggang Teater Eska ini menghadirkan narasumber Katrin Bandel, seorang muallaf  berkebangsaan Jerman sekaligus Dosen di Universitas Sanata Dharma.

Kajian pascakolonial bermula dari kesadaran bahwa kolonialisme telah mengubah dunia secara subtansial, dan implikasinya dirasakan sampai saat ini. Dipresentasikan 84,6% tanah di bumi ini merupakan tanah jajahan, hanya sedikit saja yang bukan tanah jajahan di antaranya Negara Thailand. “Seperti yang kita sadari, relasi kekuasaan global tetap tidak adil sampai saat ini,” tegas Katrin yang sudah 10 tahun mendiami Indonesia.

Katrin merefleksikan bahwa negara yang dulu sempat dijajah, termasuk Indonesia tetap tidak mengalami kemajuan. Hal itu disebabkan Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dieksploitasi oleh perusahan-perusahan asing multi nasional yang berpusat bukan di negara bekas jajahan itu. Walaupun secara formal, pada 1945 negeri ini telah diproklamirkan dan diakui secara internasional sebagai negara merdeka, tetapi penjajahan tetap berlanjut dalam bentuk non-fisik.

Seringkali kata imperialisme dan kolonialisme dipersepsikan se-makna. Namun, Katrin membedakan secara definitif, bahwa imperialisme lebih pada sikap dan teori bahwa yang ada di pusat yang mendominasi di wilayah jajahan. Sedangkan, kolonialisme adalah praktek dari imperialisme. “Imperialisme adalah ideologinya, kolonialisme adalah prateknya,” tegasnya.

Berlangsungnya kolonialisme bukan hanya didorong kekuatan ekonomi dan senjata, melainkan pula wacana. Wacana kolonialisme merupakan omongan orang barat untuk melegitimasi kolonialisme baik untuk Eropa sendiri maupun orang yang dijajah (non-eropa). Katrin mencontohkan beberapa wacana kolonialisme yang laris di pasaran masyarakat dunia yaitu kapitalisme, rasisme, orientalisme (Edward Said).

Katrin menspesifikasi pembahasannya pada rasisme sebagai elemen yang melancarkan arus kolonialisasi. Manusia berkulit putih dianggap paling progresif, berbudaya, beradab, rasional dan superior. Manusia lain (kulit berwarna) dipandang konservatif, primitif dan irrasional. Oleh karena itu, mereka berhak dan bertanggung jawab untuk mengeksploitasi wilayah timur supaya bertranformasi menjadi manusia beradab dan berbudaya seperti mereka (ideologi kolonial).

Wacana kolonial menjadi fokus utama kajian pasca kolonial dengan tujuan mengkritik kolonialisme dan ideolgi-ideologi barat. Kajian ini guna mengamati dari jarak tertentu, tentang mereka (non-eropa) yang berorientasi ke barat dengan mereka yang mencari autensitas budaya. Justru hal itu merupakan kelanjutan dari kolonialisme. “Hibridasi budaya adalah solusi bukan tunduk pada budaya barat, melainkan mengkritisinya. Tidak mungkin kita terlepas dari budaya barat,” ujar Katrin memberi solusi atas permasalahan kolonialisme yang buming.

Magang: Rahmat Hidayat

Redaktur: Wulan