179 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Pelajar Islam Indonesia (PII) mengadakan diskusi terbuka pada Kamis, (16/02) di sekretariat PD PII, Jalan Mangkuyudan No.34 Yogyakarta. Diskusi yang mengusung tema Perkembangan Teknologi di Mata Masyarakat ini berlangsung sejak pukul 8 hingga 10 malam. Selain oleh anggota PII, diskusi juga dihadiri oleh beberapa mahasiswa UIN, UGM, Universitas Tidar, UTY, dan pelajar SMA.

“Globalisasi, terutama teknologi masuk ketika kita belum siap, sehingga mengarah kepada hal-hal negatif. Kita masih menjadi obyek dari teknologi,” ucap Naila, salah satu peserta diskusi ketika menyampaikan pendapatnya.

Forum diskusi sepakat bahwa sumber daya manusia Indonesia masih belum siap menerima perkembangan teknologi dari luar yang masih jauh dibandingkan perkembangan kultur masyarakat Indonesia sendiri. Akibat dari itu terjadi banyak sekali penyelewengan penggunaan teknologi.

Berdasarkan data dari UNESCO Indonesia masuk ke dalam lima besar pengguna internet sedunia. Sementara minat bacanya hanya 0,001 persen. Itu berarti masyarakat mengakses internet bukan untuk hal-hal bermanfaat seperti membaca, melainkan hal lain yang tidak terlalu penting.

Selain itu, mudah menyebarnya berita hoax juga menjadi indikator prematurnya masyarakat Indonesia dalam menerima perkembangan teknologi khususnya internet. Masyarakat yang tanpa sadar menjadi distributor hoax menyebabkan tersebarnya fitnah.

“Seorang filsuf pernah berkata bahwa hoax terbaik berasal dari penguasa,” papar Azzam, Mahasiswa Universitas Tidar Magelang yang juga mengikuti diskusi.

Masuknya teknologi di Indonesia tentu saja juga tidak lepas dari peran pemerintah. Pemerintah yang seenaknya menerima produk teknologi dari luar tanpa memperhatikan keadaan kultur masyarakat Indonesia menjadikan Indonesia hanya sebagai obyek dari teknologi.

Muhammad Salahudin, peserta diskusi dari UIN Sunan Kalijaga memaparkan bahwa teknologi tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan permasalahan teknologi di Indonesia juga tidak jauh dari sistem pendidikan yang masih belum benar.

“Bukan karena kita yang bodoh. Tapi bagaimana pemerintah mengakomodir masyarakat Indonesia untuk berkembang sebebas-bebasnya. Teknologi hanyalah buah dari ilmu pengetahuan. Pendidikan di luar negeri itu bebas sehingga teknologinya berkembang , sementara pendidikan di Indonesia terlalu membelenggu.”

 

Magang: Fikriyatul Islami Mujahidah

Redaktur: Wulan