200 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Jum’at, (17/2) Lembaga Pers Mahasiswa Teknik  (LPMT) Fenomena UNY menyelenggarakan Launching Majalah Protech ke-09, sekaligus diskusi umum bertemakan Peningkatan Kualitas Transportasi Massal Untuk Kepuasaan Masyarakat. Acara yang diselenggarakan di Foodcourt FMIPA UNY ini menghadirkan Elanto Wijoyono aktivis Combine Resource dan Oni anggota komunitas Bus Mania Yogyakarta.

Elanto Wijoyono mengatakan, sampai hari ini persoalan transportasi masih menjadi masalah yang belum juga diselesaikan. Pemerintah daerah Yogyakarta kurang serius dalam membuat Peraturan daerah (Perda) perihal sistem transpostasi lokal.

Pemerintah DIY membuat sistem transportasi yang lebih memprioritaskan kebutuhan wisata daripada kebutuhan masyarakat pada umumnya. Hanya sedikit paket-paket regulasi di tingkat provinsi maupun kabupaten kota yang sudah mengatur rencana-rencana pengembangan sistem transportasi. Yang ada paket-paket regulasi itu terkait dengan pengembangan transportasi pariwisata daerah saja, dalam hal infrastruktur dan sistem. “Ada banyak rencana, tetapi lebih banyak memenuhi kebutuhan wisata daripada kebutuhan warga,” ungkap Elanto.

Kenyataan di atas berbanding terbalik dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, sistem transportasi dibuat untuk kepentingan publik/warga. Kemudian, dari situ para wisatawan bisa memanfaatkan juga. Padahal ada banyak kebutuhan publik untuk penggunaan kebutuhan transportasi publik, tetapi pemerintah Provinsi Yogyakarta tidak peduli. “Hal tersebut menjadi PR, regulasinya sudah ada, tetapi belum diturunkan sampai ke rencana-rencana pembangunan untuk melayani publik,” jelas Elanto.

Permasalahan lain adalah tingginya volume pengguna kendaraan pribadi yang mengakibatkan kemacetan. Oni menjelaskan salah satu faktor beralihnya masyarakat umum ke transportasi massal adalah kebijakan pemerintah sendiri. Oni mencontohkan seperti kebijakan pemusatan terminal-terminal kecil di pinggir kota berharap meminimalisir kemacetan tetapi dalam pengaplikasiannya kurang berhasil. Justru banyak para pengguna transportasi dan pengusaha bus kesusahan mengakses bus trans-kota. Mereka biasanya langsung sampai tujuan tanpa ditempuh jalan kaki lagi atau tanpa transit lagi.

Berdasarkan hasil riset Tim Penelitian dan Pengembangan (litbang) bersampelkan mahasiswa Fakultas Teknik UNY bahwa intensitas pengunaan angkutan umum 70% jarang dilakukan, 14,8% tidak pernah dilakukan. Penurunan ini terjadi dikarenakan penggunaan angkutan umum membutuhkan banyak waktu dan tidak efektif. “Semoga kebijakan pemerintah benar dan tepat. Tepat dalam artian sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas,” harap Oni.

 

Magang: Rahmat Hidayat

Redaktur: Wulan