270 Pembaca

Lpmarena.com- Berawal dari kegelisahan ibu-ibu Dasawisma terkait debit sampah yang meningkat. Rukun Warga (RW) 04 yang terdiri dari lima Rukun Tetangga (RT) dan dua puluh Dasawisma sepakat untuk mengadakan program Sodaqoh sampah di tahun 2005.

“Hal itu juga karena melihat kerepotan ibu-ibu sekitar dasawisma mengenai sampahnya yang terkadang ngga diangkut sama tukang sampah, untuk sampah residu. Terkadang terlalu penuh apalagi ketika libur lebaran, natal, dan libur-libur lainnya. Sampai penuh- sampai meluber sampahnya,” ujar Endang Lukisyanti selaku Ibu RW 04 yang juga penggerak Sodaqoh dan Bank Sampah Mina Sembada yang ARENA wawancarai di Galery Mina Sembada.

Selain itu, tujuan Sodaqoh Sampah juga untuk mengedukasi warga bagaimana memilah- milah sampah organic dan non organic. Sodaqoh Sampah juga bertujuan untuk mengolah sampah sehingga mempunyai nilai ekonomi atau menghasilkan. Secara organisasi hal tersebut akan menguntungkan, uang dari hasil pengolahan sampah tersebut dapat dimasukan dalam kas. Digunakan untuk membeli bibit tanaman, dan keperluian lainnya.

Endang juga mengatakan bahwa saat itu belum ada sodaqoh maupun bank sampah. Hingga di tahun 2005, melalui RW ia bersama suaminya menginformasikan dan menawarkan kepada Dasawisma untuk membuat Sodaqoh Sampah. Dasawisma pun menyepakati dan menyetujui hal tersebut.

“Sebelum disosialisasikan ke warga saya sendiri harus praktik dan mencari cara terbaik dan tepat dalam mengolah sampah , dari beberapa bacaan, dan literatur. Praktiknya pun berulang – ulang supaya menghasilkan cara pengolahan yang tepat, atau hasilnya baik,” Endang menjelaskan.

Seiring berjalannya waktu, ada instansi Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang menggiatkan tentang persampahan. Seperti gayung bersambut, akhirnya Endang mengajukan proposal, dan disetujui. Menurutnya, pada saat itu mengurus sarana dan prasarana seperti itu masih mudah.  Dari situ mulai diadakan sosialisasi, pelatihan, sehingga warga pun menjadi bertambah pengetahuannya. Warga jadi tahu bagaimana pengolahan sampah yang baik dan benar. Sehingga warga semakin percaya diri untuk mengembangkan pengolahan sampah di wilayah RW 04 Minomartani.

“Setelah kita bergerak semakin intens di dalam pengolahan sampah, akhirnya kita mendapatkan bantuan tong-tong sampah untuk pemisahan jenis-jenis sampah yang  Dinas Pekerjaan Umum  juga Badan Lingkungan Hidup (BLH),” ucap Endang.

Dari ke-intens-an warga mengolah sampah juga menjaga lingkungan, RW 04 Minomartani berhasil memenangkan Lomba Green and Clean yang diadakan pemprof DIY.  Tahun 2006/2007 dari 100 wilayah di Yogyakarta, RW 04 Minomartani berhasil  mendapatkan rangking ke dua, setelah penilaian selama satu tahun. Tahun 2009 mendapatkan peringkat pertama se DIY.

Sodaqoh sampah dilaksanakan tiap hari, dengan tersediannya tong-tong sampah dengan kalsifikasi tertentu, sehingga warga tinggal memasukan sampah yang sudah dipilah pilah sesuai jenisnya ke dalam tong, dan akan diambil oleh anggota dikumpulkan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang tersedia.

Tong Sodaqoh sampah yang disediakan di tiap Dasawisma RW 04 Minomartani(Tong Sodaqoh sampah yang disediakan di tiap Dasawisma RW 04 Minomartani)

“Dari sodaqoh sampah yang dikelola oleh Dasawisma dijual di pengepul. Tapi tidak hanya itu, dari sampah-sampah non organik tersebut, kita juga membuat  kerajinan- kerajinan seperti tas, dompet , sandal, dan lain-lain yang karya tersebut kita pamerkan dan jual. Kadang kita jual di pameran-pameran yang kita adakan di pemda, BLH, sekaten, supermarket dan swalayan,”  ucap Endang. “Dan itu banyak terjual,” sambungnya.

Tak jarang Mina Sembada mandapatkan undangan dari kelurahan untuk memberikan edukasi pelatihan membuat kerajianan dari daur ulang sampah.

Di Galery Mina Sembada yang juga menjadi TPS bagi sampah-sampah non organic juga sering kali mengadakan pelatihan untuk tamu-tamu, bagaimana mendaur ulang sampah menjadi hasta karya, sehingg bernilai ekonomis.

“Mesin jahit, dll ini juga dapat dari hadiah-hadiah, dan Sodaqoh Sampah,” ucap Endang sambil menunjukan mesin jahit yang berada di Galery Mina Sembada.  Endang juga mengatakan dalam mengelola pemerintah juga turut andil, dalam pendanaan. Dengan cara ya mengajukan proposal. “Pertahun, Itu pun baru satu dua tahun ini, sebelumnya dalam pendanaan kita swadaya.”

Bank Sampah

Berbeda dengan Sodaqoh sampah, yang secara ekonomi digunakan untuk kepentingan organisasi atau bersama, rupiah yang dihasilkan dari Bank Sampah yang mulai dijalankan tahun 2013 justru akan dikembalikan lagi kepada si penyetor berdasarkan jumlah sampah yang sudah ditabungkan di Bank Sampah.

“Jadi di Bank Sampah sudah disediakan buku tabungan. Disitu tertulis jumlah berdasarkan berat perkilogramnya. Sampahnya berupa sampah non organik, bisa kertas, kardus, kaleng, botol kaca, maupun plastik,” ucap Nancy Inggrama Dewi selaku warga RT 17 RW 04 Minomartani.

Perempuan yang bekerja sehari-hari sebagai distributor snack ini mengaku untuk hasilnya sendiri bisa diambil berdasarkan waktu yang ditentukan oleh pengurusnya, dalam bentuk uang.

Menurut warga yang sudah mengikuti program Bank Sampah selama dua tahun ini juga mengaku keuntungan mengikuti bank sampah, anaknya jadi ada tabungan. “Meskipun kecil kalau kita mengolahnya dengan baik lama-lama kan jadi banyak,” ucapnya.

Bank sampah melayani penabungan sampah warga setiap hari Jum’at sore, seminggu sekali.

“Tabungan Bank Sampah  diuangkan tergantung nasabah. Jika sewaktu waktu butuh bisa diambil. Tapi tergantung kebutuhan dan berapa tabungan sampah dia. Kadang pas butuh uang buat beli sepeda anaknya missal,” ucap Endang selaku pengelola.

C360_2017-02-18-09-29-56-294(Bank Sampah Galeri Mina Sembada)

Membaca Literatur, Media, dan Praktik

Dalam berproses, sudah tentu ada kendala-kendala yang dihadapi Endang dalam memulai program Sodaqoh Sampah dan Bank Sampah.

Awal melakukan percobaan, Endang mengalami kegagalan. Menurutnya, sebelum disosialisasikan ke warga, ia sendiri harus melakukan praktik dan mencari cara terbaik dan tertepat dalam mengolah sampah dari beberapa bacaan dan literatur. Praktiknya pun berulang- ulang supaya menghasilkan cara pengolahan yang tepat, atau hasilnya baik.

Endang mengaku dalam menambah pemahaman dan pengetahuannya tentang pengolahan sampah baik organic maupun non organic dia sering membaca buku, koran, majalah atau melihat media. Ia juga mencari tahu bagaimana cara mengolah sampah organik supaya menjadi pupuk.

“Sebelum saya sosialisasikan, saya mempraktekan sendiri bagaimana cara mengolah sampah organik,  bagaimana cara mengolahnya.  Ternyata teori dan praktek itu berbeda. Kan saya pelaku, ketika yang di buku itu saya praktekan ternyata hasilnya ngga seperti yang ada di teori buku. Hasilnya berbeda,” ucapnya.

Ia mengaku, di sampah yang ia kelola menjadi pupuk organik itu justru muncul  belatung-belatung. Dan waktu itu belum berani ia sosialisasikan dulu ke warga. Karena ia berfikir itu akan membuat ibu-ibu jijik, sehingga ia putuskan untuk tidak menginformasikannya terlebih dahulu sebelum ia menemukan bagaimana supaya hal tersebut tidak terjadi.

Tidak hanya itu, kendala yang ia hadapi adalah bagaimana menggerakan warga untuk mau berpartisipasi. “Itu kan perlu kesepakatan dulu,” ujarnya.

Ada 300 kepala keluarga, tetapi  tidak semua aktif . “Mungkin paling banyak sodaqoh sampahnya. Kalau bank sampah hanya sekitar 60 persen yang menjadi anggota. Tidak semua yang terlibat karena pertama barangkali warga tidak sempat karena aktivitasnya juga banyak pendatang baru yang silih berganti.”

“Menurut saya, penting sekali memisahkan antara tumpukan sampah organik dan non organik. Karena sampah itu kan makin lama makin banyak, terus kalau organik itu kan bisa jadi pupuk, dan tiap rumah sebenarnya dihimbau untuk membuat, tapi karena ada yang kerja dan aktivitas lain jadi kurang berjalan baik. Kalau saya sendiri kurang maksimal walaupun saya juga mencoba membuat. Tapi masih kurang baik, soalnya ngga intens,” ucap Nancy selaku warga RT 17 RW 04 Minomartani ketika ARENA temui di kediamannya.

Menurut Nancy, tiap warga dianjurkan mengolah sampah organiknya dan tempatnya pun disuport oleh Ibu RW. Dari awal, setiap arisan tiap bulannya, Ibu RW bersama pengurus memberikan pelatihan, juga membuka tanya jawab terkait kendala yang dihadapi selama melakukan pengolahan sampah organik.

Reporter: Wulan 

Redaktur: Wulan