251 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Kalijaga (Mapalaska), Arifudin saat ditemui Arena dalam sela-sela kesibukannya mengkoordinir anniversary ke- 36 tahun Mapalaska yang dilaksanakan di gedung Student Center UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan, sejak gempa pada 2006 banyak pohon-pohon besar di kampus yang ditebang. Menurut Arif adanya pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengurangi Ruang Terbuka Hijau di kampus. “Dan harapannya bisa ditindaklanjuti nanti dengan kampus,” ungkap Arif pada Senin malam (27/2).

Dia juga mengatakan menurut penuturan para alumni, pengelolaan lingkungan kampus dulu diserahkan kepada Mapalaska. Namun karena saat ini sudah ada tim pengelola dari kampus pihaknya tidak lagi dilibatkan.

Hal itu dibenarkan oleh Sulistiyo Inzaki, alumni Mapalaska angkatan 1997. Sulis menceritakan, menjelang 1998 Wakil Rektor III memberikan ruang untuk dijadikan kebun oleh Mapalaska. Kebun tersebut digunakan untuk pembibitan pohon-pohon rindang yang dipilih oleh Mapalaska, sebagai UKM yang memiliki basis di bidang kealaman. Sehingga memiliki tanaman tepat untuk tipe ruang seperti kampus.

Namun ketika kampus mengalami masa transisi dari IAIIN menjadi UIN, kebun tersebut dirubah menjadi gedung Koperasi Mahasiswa (Kopma) yang ambruk saat gempa 2006 dan sekarang menjadi masjid. “Kita dikasih kebun itu untuk pembibitan. Kalo sekarang kita malah kesulitan,” ujarnya.

Mapalaska juga senantiasa dilibatkan dalam mengelola ruang hijau. Dia menceritakan saat masih IAIIN, bahkan ketika hendak menebang pohon, pihak kampus berkonsultasi dengan Mapalaska. “Mungkin  karena sudah terjadi perubahan birokrasi. Kita nggak tahu juga,” ungkap Sulis ragu.

Melihat hari ini Sulis menilai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kampus sangat kurang. Selain itu pohon-pohon yang ditanami pihaknya dulu, kini hanya tersisa satu Kalpataru yang tumbuh di selatan Student Center.

Menanggapi tidak dilibatkannya Mapalaska, Wakil Rektor III Waryono Abdul Ghofur yang juga turut menghadiri acara tersebut, mengaku belum mengetahui persis bagaimana keterlibatan UKM tersebut dahulu. Dia menyatakan bahwa kedepan bagaimana pengelolaan lingkungan yang dilakukan bersama-sama juga menjadi tanggung jawab Mapalaska.

Kurangnya RTH di kampus, Waryono juga tidak mengetahui bagaiamana persisnya. “Sebelumnya saya juga tidak tahu persis ya. Makanya nanti saya tanya-tanya dulu aja,” ungkap wakil rektor yang juga alumni UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Sementara untuk menanggulangi minimnya RTH, Sulis berharap ruang kosong sebelah utara sekre Mapalaska atau Student Center, yang belum difungsikan itu, dijadikan RTH atau taman dengan pohon-pohon rindang sebagai jantung hutan. “Kalo semisal Gajah Mada, yang fakultas Kehutanan, di situlah ditanami pohon yang rindang,” tutur Sulis.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Wulan