380 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ibnu Arsib Ritonga*

Aku rebahkan tubuhku di dalam kamarnya. Menikmati pesona disetiap ruangan, tubuhku cepat sekali bersahabat dengan pulau kapuk yang empuk. Tas perjuangan yang kubawa setiap hari kuhempaskan begitu saja. Tas itu seperti lemari berjalan, lemari yang beragam sekali isinya. Wajarlah, namanya juga berproses menjadi seorang aktivis, yang jelas isinya tidak barang-barang haram, tidak juga hanya binder, buku catatan andalam mayoritas mahasiswa saat ini selama kuliah yang simpel dibawa ke mana-mana.

Terkadang tasku lebih tepatnya seperti tas seseorang yang terdapat di salah satu film-film kartun. Di dalam tasku bukan hanya buku, tapi juga ada barang-barang lain. Pahamlah, aku ini sedang mencontoh senior-seniorku dulu, aktivis mahasiswa.

Mataku tak lepas dari langit-langit kamar temanku itu. Dia salah satu kader organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia ini. Setiap sudut, tak satu pun terlewati oleh alat penglihatanku. Asbes-asbes persegi empat terlihat berwarna putih suci dengan garis-garis kecil, cahaya bola yang tergantung menelan kegelapan di saat dinginnya cuaca.

Ruang kamarnya tidak terlalu luas. Ya, ukurannya tidak seluas kamar pribadinya pak Presiden di Istana, tidak pula sesempit kamarnya rakyat pinggiran yang sering kudatangi di samping rel kereta api. Ruangannya bersih dan rapi. Semerbak aroma harum menyegarkan pernafasan. Poster-poster tertempel dengan rapi. Aku sedikit heran dan mengundang tanya di alam pikirku. Biasanya, mayoritas orang memajang poster di kamarnya dengan gambar-gambar tokoh favoritnya, orang-orang terkenallah kita katakan.

Nah, temanku itu mengherankan sekali. Dia memajang poster tapi gambarnya kosong, apa nilai filosofisnya? Aku pun tak tahu, tak sempat aku mempertanyakannya, sehingga tak dapat aku beritahu anda lewat tulisan ini. Yang jelas, posternya tidak bergambar Mr. Socrates, Plato, Aristoteles, tidak bergambar Mr. Rene Descartes, John Locke, Immanuel Kant, Karl Marx, Frederich Angel, Lenin, Stalin, Che Guevara, Fidel Castro, Mao Tse Tung, Jean Paul Sartre, si Pembunuh Tuhan (Niezche), tidak juga Al-kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusdy, Jalaluddin Rumi, Thabathaba’i,  Muhammad Baqir Ash-Shadr, Murthada Muthahari, Ali Syariati, Muhammad Abduh, Iqbal, Al-Maududi, tidak juga pak Presiden dan lain-lain.

Indera penglihatanku terhenti ketika memperhatikan tumpukan-tumpukan kertas yang tersusun dengan rapi di atas meja balajarnya. Bukan hanya di atas meja itu, banyak lagi yang berbaris di dalam rak. Rak itu didesain dengan indah yang tertempel di dinding.

Setiap ruangan rak dipenuhi dengan koleksi buku-buku berkualitas dan bermacam-macam gendrenya yang membuat nafsu bacaku terpancing. Mulai dari buku politik hingga buku komik, mulai dari buku hukum hingga buku-buku alam (sains), mulai dari buku-buku sosial, ekonomi, pendidikan, biografi, agama, kamus hingga buku-buku filsafat, dan yang lainnya juga.

Koleksi buku-bukunya tidak terlalu banyak kalau dibandingkan dengan perpustakaan nasional, tapi aku tidak dapat mengatakan koleksi bukunya sedikit. Kalau aku bandingkan dengan koleksi buku-buku yang kumiliki, bukuku jauh lebih sedikit. Aku berdecak kagum padanya, dia masih mempertahankan salah satu warisan keintelektualan, keilmuan atau juga warisan kebudayaan seorang aktivis. Susah sekali menemukan mahasiswa seperti temanku itu.

Saat ini, banyak sekali mengaku aktivis mahasiswa, aktivis kampus, aktivis organisasi dan sering pula mengklaim sebagai kelompok intelektual yang bergelut dalam ilmu pengetahuan (epistemologi). Akan tetapi, kalau di lihat dari bukti-bukti fisiknya dan aktivitasnya, tidak ada ada buku-buku di rumahnya atau kamarnya. Ada pun, hanya buku-buku mata kuliah karena diharuskan seorang dosen. Kalau tidak, boro-boro punya buku yang lumayan banyak, membaca aja dianggap pekerjaan yang sangat membosankan dan berfikir tidak ada gunanya, apalagi berdiskusi dan menulis, sudah sangat jauh dari dirinya mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa terjebak dengan konsep berfikir seperti ini, “Tidak perlu membaca, langsung terjun kelapangan saja”, cara berpikir seperti itu harus dievaluasi kembali.

Dahulu, di zaman masih jaya-jayanya gerakan mahasiswa di Indonesia, kemanapun seorang mahasiswa itu pergi pasti membaca buku, di mana pun dia berada pasti membaca buku, sampai-sampai harus denga cara-cara sembunyi. Mahasiswa dahulu (tidak perlu kusebutkan zaman apa, harap paham) kurang makannya, berani lapar demi hanya menabung untuk membeli buku bacaan. Nah, hari ini bagaimana? Uang mahasiswa saat ini, mayoritas habis untuk membeli paket internet dan untuk hiburan semata.

Aku bangkit dari tempat tidur yang empuk dan lembut itu, mendekati buku-buku yang berbaris teratur seperti militer yang sedang berbaris menghormat sang komandan. Kuperhatikan satu-persatu buku yang berbaris, aku bergumam dalam hari, “Wajarlah temanku ini luas wawasannya, dalam pemikirannya, bacaannya saja banyak”. Dia memang ingin betul-betul menjadi mahasiswa yang tidak hanya menumpang nama dan status sebagai mahasiswa. Aku  tahu itu setelah aku membaca, ada slogan tertulis di atas, “Berani Menjadi Mahasiswa Harus Berani Mengabdikan Diri”.

Aku pikir, hal itu patut untuk dicontoh. Di atas mejanya aku juga melihat ada setumpuk kertas yang bertulis tangan, belum dijilid dengan rapi. Kupandangi sejenak, “Tulisan-Tulisan yang akan diterbitkan”, demikian bacaannya. “Waauu..”, aku langsung tertegun, dia tidak hanya hobi membaca dan berdiskusi, ternyata dia juga suka menulis. “Tapi, kenapa dia tidak mengirimkan tulisannya ke media?”, tanyaku dalam hati. Luar biasa sekali, tak terbayangkan majunya negeri ini jikalau mayoritas mahasiswa (sebagai generasi pengganti) kita seperti dia.

Tangan ini tak tahan berdiam di dalam saku, pelan-pelan ia keluar menghampiri tulisan itu. Tulisan itu belum sempat kubuka, tiba-tiba aku dikejutkan suaranya, tamanku itu masuk membawa dua cangkir kopi panas dan pisang rebus untuk menghangatkan badan yang sebelumnya kehujanan dari tempat kami bersua dengan memberikan les privat pada anak-anak kurang mampu menuju rumahnya. Kopi panas dan pisang rebus itu juga untuk menghangatkan diskusi malam itu. Tidak pernah habis bahan untuk kami diskusikan setiap hari. Kiranya, begitu juga setiap mahasiswa pada umumnya. Mari seruput secangkir kopi panas.

*Seorang mahasiswa yang menjadi writer

Ilustrasi: www.benarnews.org