371 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Sampai kapanpun cinta rasanya terlahir abadi, ia tak pernah menemui kemampusannya. Ada cinta yang tidak biasa dalam hidup yang tidak sebatas keklisean hubungan antara wong lanang dan wong wadon, yang berkonspirasi mempersempit cinta. Ada dekonstruksi lain dalam upayanya menghadirkan entitas yang lian, seperti cinta terhadap benda mati, cinta terhadap pekerjaan, cinta terhadap masa lalu, atau bahkan cinta pada diri sendiri. Cinta bermetamorfosis menjadi berbagai macam bentuk dan konfigurasi.

Itu setidaknya yang tersirat dalam pameran “Amor Fati in Absentia”, yang merupakan pameran mesra keluarga, antara Seruni Bodjawati, bersama ibunya Wara Anindyah dan adiknya Ratu Pandan Wangi. Pameran yang berlangsung dari tanggal 7 Maret – 7 April di Green Art Space – Green Boutique Hotel Prawirotaman tersebut  merupakan ungkapan kontemplasi, pergulatan, dan kompleksitas memaknai ‘cinta yang tidak biasa’. Karya-karya lukisan tersebut dibuat sebagai respon atas karya antologi cerpen Ratu Pandan Wangi berjudul Amor Fati: Cinta yang Nihil yang berjumlah 20 cerpen.

Amor fati, begitu filsuf nihilisme Friederich Nietszche menyebutnya. Amor bermakna cinta dan fati bermakna takdir. Singkatnya berarti, pada akhirnya cinta terserah pada takdir, dan takdir bukan Tuhan, tapi manusia. Karenanya, cinta harus dijalani sebahagia mungkin. In absentia dalam hukum di pengadilan, dimaknai sebagai “dengan ketidakhadiran”. Artinya, seorang terdakwa yang memilih sikap tidak hadir dalam proses peradilan yang membelitnya.

Ada 16 karya yang ditampilkan dalam pameran ini. 11 lukisan merupakan karya Wara, dan lima lukisan merupakan karya Seruni. Wara lebih menekankan pada interpretasi makna yang kontemplatif. Dalam lukisan berjudul Misteri Hutan Cinta semisal, ia mengumpamakan cinta seperti hutan. Orang bisa tersesat di dalam hutan itu jika sang pecinta tidak bijak dan waspada. Wara menyimbolkan itu di atas kanvas berukuran 50 x 40 cm menggunakan akrilik. Digambarkan ada seorang perempuan berdaster ungu berada di hutan, di tangan perempuan itu menggendong seorang pria kerdil yang dicium telinganya.

Ketragisan cinta yang lain digambarkan Wara dalam kanvas berjudul “Cinta yang Nihil”, yang berkisah tentang kisah cinta seorang pria yang mencintai perempuan yang mati, di mana dua sejoli ini saling berpelukan. Atau tentang kisah dua perempuan yang saling mencintai dalam “Forbidden Love”, yang merupakan perwakilan dari kaum LGBT. Atau kisah pelanggar norma kesetiaan, seperti yang tergambar dalam lukisan berjudul “Perselingkuhan”, “Hubungan Gelap”, dan “Konfigurasi Kekuatan Hati”.

 (Forbidden Love, 2017)

Meski tragis, Wara juga menampilkan sisi-sisi cinta yang humanis dan romantis. Seperti yang tergambar dalam lukisan berjudul “Romansa di Taman Hati” tentang pasangan kekasih yang saling memadu cinta. Atau tentang hubungan yang menyentuh dalam sebuah keluarga, seperti yang dikatakan oleh lukisan berjudul “The Warmth of Family” tentang kehangatan sebuah keluarga yang rasanya seperti permen. Juga cinta kasih seorang ibu dalam “Senja di Musim Gugur”, di mana tertulis caption: Cinta seorang ibu pada anaknya tak lekang oleh waktu. Walau berbagai rintangan menghadang, cinta ibu tak akan menyerah. Tak peduli walau nyawa yang jadi taruhannya. Saat anak-anak pergi kelak, cinta ibu tetap menyertainya.

(Empat lukisan Wara tentang cinta yang humanis dan romantis)

Lebih lanjut, mengulas lima karya yang ditampilkan Seruni, ia lebih memiliki karakteristik yang berani dan dramatis. Seruni mengaku karya-karya tersebut terinspirasi dari kisah cinta perupa dunia. Tokoh tersebut seperti Frida Kahlo dalam lukisan Dunia Senyap Frida Kahlo, yang dikisahkan bahwa hidup Frida sebagai pelukis perempuan dunia memiliki banyak konflik dan warna dalam hidupnya: ia mengabdi dan mencintai kehidupan dalam ketaksempurnaan.

(Dunia Senyap Frida Kahlo, 2014)

Lalu ada tokoh lainnya, yaitu Salvador Dali dalam lukisan A Star is Reborn. Lukisan ini menceritakan hubungan asamara antara Dali dan kekasihnya Gala yang memiliki jalinan hubungan yang penuh teka-teki dan absurd. Sama enigmatiknya dengan kisah Kaisar Pu Yi di Cina dalam lukisan Episode Bulan Merah Jambu.

“Saya banyak melukiskan biografis tentang cinta yang aneh-aneh. Kaisar China itukan namanya Pu Yi, istrinya akhirnya bunuh diri, karena mereka saling mencintai tapi istrinya tidak tahan, padahal dirinya seorang kaisar. Jadi bukan tentang cinta-cinta yang biasa saja. Ada kisah kompleks di balik itu,” kisah Seruni ketika diwawancara penulis, Selasa (7/3).

Lain Pu Yi, lain lagi kisah cinta tragis yang dialami oleh dokter Yap dalam lukisan Memoirs of Love. Seorang keturunan Tionghoa yang terkenal dermawan dan prestasinya sangat banyak. Namun, di balik itu banyak sisi kelam dari kisah cinta dr. Yap yang bunuh diri di rumah sakit. Seruni melukiskan kisah sedih itu dalam suasana merah yang kental. Ia melukis dengan teknik kolase, ada campuran tempelan-tempelan. Dalam lukisan tersebut ada satu mata besar yang digambar, yang di dalam mata besar itu ada banyak sekali mata. Seolah Seruni ingin melukiskan bahwa cinta itu suatu yang harus dijalani dengan kesadaran, seperti sadarnya mata ketika sedang melihat.

Dalam caption di lukisan itu tertulis: Sejarah panjang pra kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari kehadiran sosok filantropis Yogyakarta bernama dr. Yap. Beraneka warna, ragam, dan corak mengukir sejarah hidupnya. Ada misteri dan keajaiban tak terduga.

(Memoirs of Love, 2016)

Buku Amor Fati

Selaras dengan pameran Amor Fati in Absentia, buku Amor Fati: Cinta yang Nihil karya Ratu Pandan Wangi juga bercerita tentang ‘cinta yang tidak biasa’ seperti yang telah dijelaskan di paragraf awal, seperti cinta pada sesama jenis, cinta pada makanan, cinta pada pekerjaan, cinta pada uang, dan lain-lain. Pandan ingin menyampaikan kalau cinta itu luas dan tak terbatas. Bahwa semua orang punya pilihan, punya keputusan, Pandan ingin orang-orang itu mengerti alasan di balik pilihan itu.

“Buku ini berusaha mengangkat kaum-kaum minoritas di Indonesia, kayak misalkan penyandang disabilitas. Trus ada juga pelacur, trus ada juga lesbian, saya ingin membuka mata pembaca supaya nggak termakan stereotipe-stereotipe yang ada di masyarakat,” kata perempuan yang saat ini tengah menjalani pendidikan semester akhirnya di Sastra Prancis UGM.

Cinta bagi Pandan adalah sesuatu yang rumit. Dari judul buku Amorfati: Cinta yang Nihil, menurut Pandan, cinta bisa menjadi nihil, bisa menjadi hampa ketika seseorang tidak bisa mencintai diri sendiri. Banyak orang yang mereka berusaha mencintai pasangannya, mencintai pekerjaan, mencintai apa saja, tapi mereka lupa mencintai dirinya sendiri. Disanalah cinta jadi nihil dan hampa.

Jika seseorang tidak mau terjebak dalam cinta yang nihil, maka orang perlu mengalir bersama takdir. “Bukan berarti kita berserah sepenuhnya pada takdir. Kita juga perlu berjuang dan berusaha, tapi ada kalanya kita juga perlu berserah diri, beristirahat juga, nggak melulu berjuang.”

Di salah satu kisah dalam cerpenya, ada cerpen yang bercerita tentang cinta pada diri sendiri. Tokoh utama dalam cerpen itu remaja, dia merasa dirinya selalu dituntut oleh lingkungannya. Ia dituntut orang tua untuk begini, dituntut kampus untuk begitu, dituntut masyarakat untuk yang lain-lain, dan parahnya dia berusaha memenuhi semua itu. Remaja itu tidak berusaha menyaringnya, dia berusaha menyenangkan semua orang.

Pada akhirnya, remaja itu memang berhasil dengan usahanya. Dia menjadi orang yang pintar, sukses, dan terkenal, tapi dalam dirinya sendiri dia merasa hampa. Ketika ada waktu untuk merenung, ternyata dia merasa tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Dia tidak tahu cita-citanya apa? Mimpinya apa? hobi aslinya apa? Kesukaannya apa? Sangking dia terpengaruh dengan omongan orang-orang.

Perempuan

Jika ditelisik lebih lanjut, acara yang dimotori oleh tiga perempuan ini sarat dengan pesan gender. Di dalam lukisan-lukisan atau antologi cerpen sendiri, tiga perempuan ini menempatkan perempuan sebgai subjek yang berkesadaran. Ia memiliki takdinya sendiri yang tak harus bersembunyi di ketiak lelaki. Ia bebas berkarya, berekspresi, dan membuat karya monumentalnya. Bahkan, Elisabeth Inandiak selaku sastrawati yang menerjemahkan Serat Centhini saat membuka pameran mendeklarasikan, jika perempuan itu perupa pertama di bumi, bukan laki-laki. Sebab perempuanlah yang melukis di gua-gua, ketika pasangan prianya tengah berburu. Seruni sendiri berpesan dan memiliki harapan agar semakin banyak perempuan untuk tidak ragu dalam membuat karya dalam bidang apapun, tak hanya di seni lukis. Bahwa perempuan bisa berbuat lebih.

Tak berbeda jauh dengan Seruni, Pandan memandang  perempuan merupakan makhluk yang sangat tangguh, karena perempuan menghadapi banyak hal. Misalnya saat hamil, melahirkan, mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan sebagainya. Namun, di masyarakat ada perempuan yang dipandang buruk sama masyarakat, misalnya perempuannya jadi pelacur, perempuannya lesbian, atau perempuan yang hamil di luar nikah.

Menurut Pandan setiap perempuan berhak menentukan pilihan apapun baik buat dirinya, tidak terlalu menuruti masyarakat, yang penting itu terbaik dan paling pas untuk dirinya. Ia juga ingin agar masyarakat tahu alasan perempuan melakukan sesuatu, atau apa yang tersebunyi di balik itu. Misalnya ketika ada perempuan yang aborsi, masyarakat cenderung memandang hal itu dari satu sisi saja.

“Aborsi itu dosa, aborsi itu salah, padahal dari sisi perempuan pasti ada alasan. Semisal mungkin karena dia diperkosa dan dia aborsi agar dia nggak trauma dan sebagainya. Pasti ada alasan di balik semua tindakan perempuan,” ujar Pandan.

Judul Pameran Amor Fati in Absentia │ Perupa Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati│ Penyelenggara Seruni Art Management │ Tempat Green Art Space – Greenhost Boutique Hotel Jl. Prawirotaman II/629 Yogyakarta│ Tanggal Penayangan 7 Maret – 7 April│ Launching Buku “Amor Fati: Cinta yang Nihil” karya Ratu Pandan Wangi 7 April 2017, bertempat yang sama dengan pameran.

Peresensi: Isma Swastiningrum, pecinta hal-hal yang aneh dan berbeda.