1499 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Doel Rohim*

Dalam subuah pidato penyambutan wisuda seorang rektor dengan bangga mengatakan “Semenjak saya jadi rektor, belum pernah didemo,” ujarnya dengan sedikit tawa menghiasi bibir. Kata-kata sang rektor tersebut sempat menjadi buah bibir dari masyarakat kampus yang ia pimpin.

Ada yang mengatakan apa yang dikatakan rektor tersebut sebagai prestasi yang belum pernah dicapai oleh rektor selama sejarah kampusnya berdiri. Tetapi ada juga yang mengatakan, bahwa apa yang dikatakan rektor sebagai bentuk kekalahan mahasiswa dalam mengawal kebijakan kampus selama sang rektor  memimpin kampus ini.

Dalam sebuah cerita, kampus ini sangat identik dengan hal yang bernama demontrasi. Aktivitas demonstrasi seperti halnya mata kuliah wajib bagi sebagain mahasiswa di kampus ini. Bahkan, semenjak mahasiswa baru materi utama yang sering kali ditanamkan adalah tatacara berdemo dengan baik. Beberapa diantaranya adalah bagaiamana cara untuk mengutarakan aspirasi di depan orang banyak,  mempunyai suara yang lantang,  menyanyikan lagu khas demonstrasi, dan yang tidak pernah lupa tutorial  bakar ban agar aman. Semuanya menjadi ritual wajib yang dijalankan setiap tahun.

Hal tersebut belum seberapa,  kampus ini juga tercatat sebagai kampus yang sering melakukan demo dibandingkan dengan kampus yang lainnya di kota yang terkenal dengan kota pendidikan ini. Setiap bulan bahkan setiap minggu aktivitas demonstrasi pasti ada, entah apa persoalanya yang pasti memang kampus ini tidak pernah lepas dari persoalan selama masih ada demo.

Demonstrasi bak aktivitas yang menjadi ciri khas kampus tersebut. Entah apa yang melatar belakangi budaya eksentrik tersebut bisa muncul. Tetapi memang mahasiswa kampus ini terkenal dengan jiwa nekatnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa cerita yang muncul.

Banyak mahasiswa dari kampus ini yang nekat berbuat apapun asalkan bisa makan dan untuk bayar kuliah. Semua dijalani, mau berhubungan dengan birokrasi ataupun dengan rakyat jelata, tidak perduli dengan bayaran seberapa yang penting bisa makan. Hal tersebut sebenarnya yang menyebabkan kenapa dikota pendidkan ini gaji buruh informal itu selalu rendah.

Karena ulah mahasiswa nekat yang mau dibayar berapapun asal bisa makan inilah yang menjadikan bursa gaji menjadi  rendah dan masyrakat sering mengeluh karna gajinya tidak cukup untuk menutupi kebutuhannya.  Sebenarnya banyak cerita lain, tentang kenekatan-kenakatan mahasiswa kampus ini. Tetapi yang pasti kenekatan itu bukan muncul begitu saja dengan alasan yang sederhana. Bagaimanapun kenekatan yang muncul adalah buih semangat yang rasional untuk mencapai perubahan. Dalam arti lain, kenekatan bisa berarti sebuah kreativitas tanpa batas karena dia melampaui rasionalitas manusia normal dalam melihat persoalan.

Dari kenekatan-kenekatan itulah membuat rasionallitas, kritisme, muncul dalam melihat persoalan yang terjadi didalam kampus. Sehingga ketika api disulut dengan minyak bolll, langsung saja membara dan tidak ada lagi yang dapat mengahalanginya, demonstrasi menjadi pilihan ketika diplomasi gagal dilakukan.

Tetapi, demonstrasi tersebut bak hilang digilas peradaban, kampus yang penuh bingar-bingar suara perlawanan bak kuburan sepi dari suara toak yang biasanya memekakan telinga. Orang-orang yang biasanya berani dengan lantang menentang kebijakan yang merugikan mahasiswa, sekarang hilang tak tahu kemana batang hidungnya.

Sang rektor pun merayakan kemenangannya. Dengan senyum lembut berbalut bangga keayem tenteraman, kampus pun sering dikowar-kowarkan pada koleganya. Bahwa kampusnya para pemberani dan sekumpulan orang-orang nekatres telah ditaklukan begitu saja. Dengan begitu, sejarah baru diukir sang rektor yang baru beberapa bulan diangkat ini.

Memang bisa diakui kehebantan rektor yang satu ini, bagaimana tidak kalau kita mau bandingkan dengan rektor sebelumnya. Hal yang terjadi sangatlah berbeda, kalau kita mengingat lagi, sekitar tahun 2014 ketika rektor  baru terpilih. Rektor baru disambut dengan berbagai rentetan aksi, mulai dari aksi kenaikan BBM, kemudian adanya pemutaran film Senyap yang mengundang reaksi dari ormas yang mengancam menyerang kampus karna mengangap film tersebut  menyimpang.

Bukan itu saja, masalah laten yang tak kunjung usai yaitu masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT)  juga menjadi salam penyambutan  untuk rektor baru pada saat itu, yang mengakibatkan aksi sering dilakukan. Bahkan, karena seringnya didemo oleh mahasiswa, sang rektor pun tidak sampai akhir masa baktinya menjadi rektor dengan alasan kesehatan. Kita sendiri belum tahu pasti entah karna didemo ataupun ada hal yang lain, yang pasti sang rektor mengundurkan diri.

Setelah rektor mengundurkan diri yang menjadi PLT saat itupun tak ketinggalan pusing dengan berbagai aksi yang sering dilakukan oleh mahasiswa. Itu baru cerita tentang bentuk perlawanan mahasiswa terhadap birokrasi kampus dari beberapa tahun belakang, kalau mau melihat kebelakang lebih jauh, sebenarnya banyak  dan lebih herois lagi. Tapi, tidak usah dibuka semuanya lah akan lebih membuat malu kalau melihat kondisi hari ini.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, sebenarnya aji-aji  apa yang digunakan rektor saat ini hingga mampu meredam berbagai massa aksi yang biasanya melakukan aksi tersebut. Padahal jika melihat kondisi kampus hari ini banyak persoalan yang terjadi, mulai dari masalah UKT yang semakin hari semakin menjerat mahasiswa, ruang publik dikampus yang semakin menyempit, masalah birokrasi yang dengan semenang-menang membuat kebijakan, dan banyak masalah yang lainnya.

Dari hal tersebut seharusnya tidak ada alasan bagi mahasiswa nekat ini untuk mengatakan bahwa kampus ini sedang aman-aman saja. Karena sebenarnya banyak permasalahan yang sampai hari ini belum terselesaikan. Tetapi anehnya, semua permasalahan yang ada seperti  tersembunyi diruang gelap yang tak tersentuh oleh siapapun. Sepertinya sang rektor berhasil menerapkan tradisi santri yaitu sendiko dawoh sama pak kyai. Karena diakui atau tidak sang rektor juga pernah menjadi seperti mereka yaitu mahasiswa nekat yang sering dielu-elukannya.

Tetapi bisa jadi, mahasiswa nekat ini sudah tidak lagi mampu melihat persoalan yang terjadi dikampus ini. Hal ini sangat mungkin terjadi, sempat mendengar kabar dari seorang kawan pasalnya bahwa apa yang dilakukan sebagian banyak orang nekat ini sudah tidak lagi mencerminkan apa yang orang-orang nekat ini biasa lakukan. Seperti, baca buku, diskusi, pembacaan, kemudian melakukan pengorganisiran. Bahkan parahnya karena gagal membaca persoalan yang terjadi, meraka malah menyibukan diri dengan melakukan kegiatan-kegiatan semacam EO (Event Organizier). Yang mereka anggap sebagai bentuk perjuangan.

Entahlah, mereka menyebut apa. Yang jelas kampus tak lagi diwarnai dengan orang-orang yang lantang menyuarakan persoalan yang dihadapi mahasiswa lainya. Mahasiswa disibukan dengan tugas-tugas kuliah yang semakin tidak ada habisnya. Ruang-ruang diskusi semakin sepi dari peminat. Unit-unit kegitan mahasiswa semakin ditinggalkan penghuninya.

Terakhir, dengan optimis sang rektor ingin membawa kampus ini menjadi kampus yang siap mencetak orang-orang yang diminati pasar global.  Tak peduli biaya yang diterapkan memberatkan mahasiswa ataupun pola pendidikan yang semakin jauh dari esensinya. Yang terpenting mahasiswanya dapat bersaing di bursa calon buruh yang sedang diminati pasar dunia.

Seperti itulah, kampus yang mempunyai julukan kampus putih atau kampus perlawanan ini mempunyai cerita.  Tak tahu ini cerita baik atau cerita buruk. Atau ini sebuah tragedi yang memilukan bagi penghuni kampus ini. Kemudian pertanyaan yang kembali muncul adalah akan sampai kapan kondisi ini terjadi? Wallah hualam bisoafs

*Penulis adalah Pimpinan Umum LPM Arena