367 Pembaca

Lpmarena.com- Seruni Bodjawati, begitu perempuan berambut panjang memakai blouse hijau ketika ditemui ARENA di Greenhost Boutique Hotel dalam pameran lukisannya ini biasa dipanggil. Perempuan yang lahir di Yogyakarta, 1 September 1991 ini merupakan peraih penghargaan perempuan terinspiratif se-Indonesia yang diberikan oleh Ibu Ani Yudhoyono isteri mantan orang nomor satu di Indonesia. Ia mengalahkan Agnes Monica yang saat itu juga sebagai kandidat juga beberapa perempuan berprestasi lainnya.

Penghargaan tersebut Seruni dapatkan karena sepak terjangnya di dunia seni rupa yang ia lakukan sangat gencar. Aktif berkarya, mengikuti pameran, tak jarang pemikiran-pemikirannya ia tuangkan dalam esai-esai yang muncul di media massa. Hal tersebutlah yang mengispirasi perempuan-perempuan khususnya di seni lukis.

Seruni sudah menghasilkan ribuan karya, di berbagai media. Baik di kertas, maupun kanvas. “Setiap hari saya sempatkan untuk melukis meskipun hanya satu goresan, itu sudah menjadi kebiasaan,” tuturnya.

Berbagai penghargaan seni juga berhasil ia dapatkan, antara lain: Karya Seni Terbaik Dies Natalis XXVI dan XXVII ISI Yogyakarta, The Best Watercolor Painting ISI Yogyakarta, The Best Sketch FSR ISI Yogyakarta, Selected Painter: Local Government of Yogyakarta and Kyoto Japan Painting Cooperation, dan 15 kali juara I lomba lukis anak tingkat Nasional, DIY, dan JaTeng.

Pada tahun 2011 Seruni dinobatkan sebagai The Most Successful International Visual Artist under 20 oleh komunitas seni di Prancis, La Société des Artistes Contemporains.  Karya seninya dalam media lukis, drawing dan art film juga dipamerkan puluhan kali di dalam dan luar negeri. Seruni juga terpilih sebagai salah satu Pahlawan Muda Indonesia versi Aplaus The Lifestyle Indonesia atas prestasinya di bidang seni rupa di kancah internasional.

Tahun lalu, ia juga terpilih sebagai juara 1 Duta Museum Yogyakarta. “Pada saat itu kebanyakan yang ikut dari Public Relation, dan yang dari seni cuma saya sendiri. Banyak hal yang saya alami dan pengetahuan yang saya tahu terkait museum. Menjadi duta dari 48 museum yang ada di DIY itu bagi saya adalah pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya sambil menceritakan lagi pengalaman yang menurutnya sangat berkesan.

Seni, Melukis adalah Jalan Hidup

Bagi perempuan yang memulai melukis sejak berumur 10 bulan ini, seni dan melukis merupakan jalan hidupnya, jalan hidup yang ia pilih. Hal tersebut sudah merupakan kebutuhannya. “Ketika saya tidak melukis, saya merasa gelisah,” ucap Seruni.

Hal yang membuat ia konsisten dengan apa yang ia kerjakan saat ini adalah keyakinan bahwa melukis adalah jalan hidupnya. Baginya, hal yang sangat bahagia ketika bisa melukis, kemudian orang lain bisa mendapatkan sesuatu ketika melihat lukisannya. “Ketika mereka menonton mereka akan berfikir macam-macam itu kan menarik,” ungkapnya dengan senyum yang mengembang.

“Bagi saya melukis juga membahagiakan, karena passion saya. Dalam lukisan atau karya saya terlihat bagaimana pemikiran-pemikiran saya, dari garis-garis saya pun akan terlihat bagaimana karakter-karakter saya yang tegas. Seperti Sudjojono bilang bahwa ‘Lukisan itu jiwa ketok dari pelukisnya’ begitu juga lukisan saya, itu ya jiwa saya,” ungkapnya.

Bagi perempuan pengagum Affandi ini, Wara Anindyah, ibunya adalah orang yang menginspirasi bagi dirinya. Bagi Seruni, ibu adalah inspirator yang kuat baginya. Seruni mengatakan akan konsisten melukis, karena salah satu cita-cita yang ia miliki adalah membangun museum.

“Karena di rumah itu lukisan ada ribuan, tidak hanya lukisan saya, tapi juga lukisan ibu, dan ayah saya. Juga banyak lukisan dari perupa-perupa lain yang juga merupakan koleksi ayah,” jelas Seruni.

Saat ini ia juga mengelola Seruni Art Management. Dengan prinsip dari seni untuk seni yang artinya ketika ada uang masuk ke Seruni Art Management, uang tersebut akan diputar lagi untuk membantu seniman-seniman lain membeli karya-karya nya. Jadi selain melukis, Seruni juga mengurusi event seni dari Seruni Art Management. “Biasanya seniman kan taunya cuma ikut pameran, tapi saya juga merasakan bagaimana mendesain poster, dan mempersiapkan pamerannya. Jadi saya juga merasakan proses itu.”

Perempuan dan Karya

Saat ini, Seruni sedang menggelar pameran lukisannya bersama sang Ibu yang bertema AMOR FATI IN ABSENTIA di Greenhost Boutique Hotel. Pameran yang gelar selama sebulan ini berlangsung dari 7 Maret 2017 hingga 7 April.

Dalam pamerannya yang sarat dengan pesan gender tersebut Seruni ingin menceritakan bahwa perempuan itu punya banyak sisi menarik. Entah itu dari segi kejiwaan maupun fisik. Perempuan adalah makhluk yang unik dan menarik. “Jadi ngga sekedar kanca wingking  nah disini ada perempuan seperti sosok Frida Kahlo  dia itu kan pelukis dari meksico dia kan seorang perempuan juga pemberontak dan sangat inspiratif hingga saat ini sebagai contoh bentuk perempuan yang pemberani,” ucapnya menjelaskan lukisan yang ia tampilkan dalam pameran.

Menurut Seruni, melukis itu kontemplasinya berat, prosesnya juga berat. Bahkan satu kali melukis saja membutuhkan lima jam, dan itu saja masih kurang, itu belum jadi apa-apa.

Seruni juga menjelaskan di ISI sendiri mahasiswa lukis itu jumlahnya sangat jarang. Ketika lulus mereka akhirnya menikah dan berkeluarga biasanya mereka berhenti melukis, karena ngga sanggup membagi waktu.

Kenapa pelukis perempuan di Indonesia jarang, menurut Seruni hal tersebut karena ketika perempuan sudah berkeluarga, untuk melukis sendiri itu sulit. “Saya melihat Ibu saya misalnya, ia punya anak 5 dalam hal ini kan dia juga mengurusi keluarganya, jadi dibutuhkan support dari keluarga agar si perempuan ini bisa terus berkarya seperti ibu saya yang mendapatkan support dari keluarganya.”

Perempuan yang Lulus Cum Laude di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, saat ini melanjutkan pendidikan S2 di Program Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Yogyakarta dan tengah mengangkat tema museum di daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam karyanya, Seruni juga sering menampilkan symbol-simbol Jawa dan Tionghoa. Hal tersebut berangkat dari pengaruh latar belakang keluarganya. Seruni merupakan seorang keturunan Jawa Tionghoa. “Ibu merupakan perempuan keturunan jawa dan tionghoa, dan ayah jawa dan sedikit ada darah India.” Hal tersebut juga karena bagi Seruni simbol-simbol itu banyak yang menarik. “Orang biasanya ngga lihat, ketika lihat mereka jadi berfikir sesuatu, kemudian mereka mencari arti dari symbol-simbol tersebut,” sambungnya.

(Lukisan Seruni “Menaklukkan Dunia” yang menampilkan sosok Frida Kahlo sedang menaiki motor raksasa mempresentasikan sisi perempuan yang gagah)

“Dari Karya yang paling favorit yang saya ciptakan judulnya adalah “Menaklukkan dunia”. Ukurannya tiga meter. Tahun 2011. Itu Masterpiece saya yang sampai sekarang pun saya masih terkejut juga bisa menghasilkan karya tersebut. Itu besar sekali, melukiskan Frida Kahlo sedang menaiki motor raksasa,” ucapnya. Dari Masterpiece-nya tersebut, Seruni ingin menampilkan sisi perempuan yang gagah hal tersebut terlihat dari sosok Frida Kahlo yang ia lukiskan.

Reporter: Wulan 

Redaktur: Wulan