408 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Nadhiroh A*

Malam itu hari Kamis tanggal 23 Maret 2017, Bella dengan luntang lantung perjalanannya menyusuri trotoar samping Brimob Sleman Yogyakarta. Keadaan lelah, lunglai, yang bersumber dari pikirannya menjadikan ia memutuskan diri untuk menikmati malam. Entah hanya sekedar menghabiskan waktu atau untuk merapikan pola pikirnya.

Udara yang dingin, malam sunyi, keramaian menyusut dari sudut kota lapangan Kridosono. Sembari motor berjalan berseliweran, Bella memarkirkan motornya di salah satu warung angkringan di dekat lapangan Kridosono. Dia mulai teringat, hingga siang hari, perut belum terisi oleh nasi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.

“Mbak, nasi Takoyaki satu sama gorengan pelas[1] satu ya,” pesannya pada kasir sembari membayar 6.000 untuk memakan nasi kucing yang besarnya segenggaman tangan bayi.

Berselang sepuluh menit berikutnya, Bella memutuskan diri untuk duduk di bawah pohon yang letaknya di antara dua belah jalan raya di dekat angkringan.

“Mbak, saya nitip motor dulu. Saya mau duduk santai di bawah pohon sana,” ujarnya sambil menunjuk salah satu pohon besar di tengah jalan raya.

Ketika duduk merenung, dengan kaki disila di atas tempat duduk yang disemen, ia mencoba bertanya pada dirinya, berpikir, mencoba menjawab dan mencari jawaban atas alasan dia menjadi ling lung di malam itu. Sambil berbicara sendiri, sambil mengangkat-angkat tangannya layaknya berbicara seperti presenter di televisi dan diiringi dengan gelengan kepala ke kanan dan ke kiri. Tingkah fisik yang ditunjukkan Bella mengundang perhatian salah satu intel yang mendiami salah satu rumah dinas di samping kantor Brimob.

“Dek, dek, kamu gak papa kan? Kamu gak punya masalah kan?” tanya intel sambil mendekati Bella.

Dengan senyum ramah, Bella menjawab dia dalam keadaan baik-baik saja dan aman. Setelah mendengar jawaban dari Bella, Raka sebutan laki-laki paruh baya yang menyapanya kembali ke dalam rumah. Walaupun dia kembali dalam ruangannya, dia masih memperhatikan gadis yang sedang kontemplasi di bawah pohon itu. Dengan perasaan ragu, Raka mencoba mendekati Bella.

“Dek, saya boleh ngobrol dulu denganmu? Banyak hal yang ingin saya omongkan sama kamu Dek,” pengantar Raka untuk Bella. Walaupun Bella belum mengizinkannya, dia tetap duduk berhadapan dengannya.

“Maaf Pak, saya malam ini hanya ingin merapikan pola berpikir saya. Saya sudah biasa menyendiri. Saya biasanya kalau lagi semrawut perlu menenangkan diri,” jelasnya ke Raka.

Tanpa menggubris, Raka tetap mengajak ngobrol Bella. Dia menceritakan identitasnya sebagai Advokad yang telah dipecat dari keprofesiannya sejak tahun 2010 karena telah melanggar kode etik Advokad pasal 6 ayat 2. Dimana dalam UU Nomor 18 tahun 2003 tentang advokad tersebut berbunyi “Berbuat atau bertingkah laku yang tidak patut terhadap lawan atau rekan seprofesinya”. Dia alumni salah satu universitas di Malaysia, lanjut kuliah magister di Janabadra. Dia menceritakan bahwa dirinya juga sudah naik haji, dia memiliki lima anak perempuan dari dua istri yang bertempat tinggal di Jakarta dan Manado.

Raka merasa bersyukur dengan hidupnya. Dia merasakan kemerdekaan atas hidupnya. Dia memiliki dua istri dengan dua keyakinan yang berbeda. Istri pertama beragama Islam, sedang Istri yang kedua beragama Nasrani. Dia merasa telah menjadi lelaki yang paling bahagia di muka bumi. Dengan bangga dia memperlihatkan fotonya ketika masih suka main dengan perempuan.

“Ini foto saya waktu masih nakal, di Bali Dek,” jelas Raka dengan rasa bangga diapit oleh dua perempuan yang salah satunya memegang gelas isi wiski di salah satu Baar di Bali.

Raka merasa menjadi manusia bebas, oleh sebab itu dia tidak pernah mempermasalahkan agama orang lain termasuk agama kedua istrinya.

“Saya tidak pernah mempermasalahkan keyakinan, Dek. Persoalan agama itu urusan istriku dengan agamanya” jelas Raka dengan menggebu.

Dia meyakinkan pada Bella di awal perkenalannya, bahwa dia memang lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan memiliki lima anak yang berjenis kelamin perempuan.

“Saya tidak akan macam-macam denganmu Dek, lawong anakku perempuan semua yang di rumah. Aku gak akan menyakiti kamu, aku sudah naik haji lho. Walaupun saya mabok malam ini, tapi saya tahu batasan yang tidak boleh dilanggar”

“Ya, pak. Saya percaya saja,” potong Bella di sela-sela omongan Raka.

Bella malam itu ingin segera pergi meninggalkan Raka yang mengobrolkan banyak hal, termasuk agama dan ketentuan-ketentuan Islam. Berusaha Bella memalingkan muka, tetapi Raka langsung mengeluh atas tingkah yang ditunjukkan Bella.

“Kamu tersinggung ya Dek aku di sini? Jangan tersinggunglah, aku hanya ingin nemenin kamu ngobrol,” bujuknya.

Selama proses mencairkan suasana, Raka menceritakan kebiasaannya pasca tidak menjadi advokad.

“Baru kemarin saya tanggal 3 balik dari Lombok, terus tanggal 8 saya sudah menggerebek diskusi soal Papua di UGM, Dek”

Merasa obrolan semakin menarik, karena Raka mulai menyinggung persoalan tentara, persoalan Soeharto, persoalan Marxisme, Komunisme, Leninisme. Soal pemberontakan dan keinginan Papua Barat yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, akhirnya Bella merasa tertarik. Lantas ia menanyakan agenda di UIN Sunan Kalijaga, kampus yang dikenal mahasiswanya kritis-kritis itu ke Raka.

“Jangan-jangan Bapak yang menggerebek nonton film SENYAP di SC UIN kemarin?”

“Iya. Saya yang menggerebek, mengerahkan anak buah saya juga. Saya kemaren yang menggerebek dan membubarkan anak-anak AJI waktu nonton film Pulau Buru. Jangan-jangan kamu bagian dari mereka?” Raka mulai curiga.

“Enggaklah pak, mereka siapa? Saya tidak tahu apa-apa,” sanggah Bella.

“Hallah, aku gak percaya, kamu pasti kenal Otto kan? Yang kemarin ditangkap sama aparat anak Papua itu?”

“Enggak, saya tidak tahu beneran,” berusaha meyakinkan.

“Hallah, mbok jujur saja. Aku tadi udah terbuka semua lho. Dari kegiatanku, dari jumlah istriku sudah aku kasih tahu semuanya. Kamu ditanya saja gak mau jujur. Terbukalah sama saya Bel.”Rakamulaimemanggilnamapanggilan Bella.

“Anak UIN itu Bel, banyak yang komunis. Kamu tahu sendiri kan Kivlan Zen juga sudah berkata demikian. Kamu jangan-jangan juga komunis? Komunis itu tidak bisa hidup Bel di Indonesia. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari paham itu”

Dalam usaha Raka meyakinkan Bella, Bella tersadar dengan Jam yang sudah menunjukkan pukul 23.30. Dia bergegas menghampiri motor yang telahdiparkir di depan warung angkringan di dekat lapangan Kridosono.

“Mana motormu Bell, saya akan nganter kamu!”

“Enggak usah pak, saya berani sendiri”

Raka tidak mengindahkan yang diucapkan Bella. Alhasil dia tetap mengikuti Bella dari belakang dia berjalan.

Berselang beberapa menit sampailah Bella di tempat tujuan. Dia kaget menghampiri warung angkringannya sudah tertutup dan terkunci gerbangnya.

“Waduh, dimana motor aku ya,” keluhnya.

“Tuh Bel, jangan-jangan hilang,” goda Raka.

“Tidak mungkin,” sanggah Bella.

Bella mengitari warung angkringan tersebut, dia menemukan motornya telah terparkir rapi di dalam gerbang.

“Alhamdulillah itu di dalam gerbang,Pak. Terus saya pulangnya bagaimana ini Pak? Besok pagi jam 07.30 saya harus bertemu dengan dosen pembimbing skripsi saya,” ratap Bella.

“Wah, saya juga gak tahu Bel, seandainya di rumah ada motor Bel, kamu bisa makai motorku. Tapi gak ada. Gimana kalau kamu tidur di rumahku saja?” usul Raka.

“Tidak mungkin Pak, saya harus pulang.”

Lha bagaimana Bel, masak kamu mau jalan kaki? Ini sudah malam lho. Kamu juga perempuan lho. Mending tidur di rumahku aja Bel. Aku janji demi Allah gak akan menyentuh kamu. Kamu tahu kan kalau saya sudah naik haji? Saya punya anak perempuan dan dua istri? Kalau kamu gak percaya, ayo  ke rumahku saja tak lihatin foto-fotonya wis,” jelas Raka.

Dengan usahanya, Raka mampu mengajak Bella menginap di rumahnya. Walupun dengan usaha-usahanya untuk beralasan di dalam rumahnya ada Ibu dan neneknya. Bella masih bertanya banyak hal, katanya di rumahnya ada ibu dan nenek Raka. Tapi kok setelah dia masuk dalam rumahnya tidak ada satu pun orang yang ada di dalam rumahnya. Walaupun begitu, pertanyaan Bella terbantahkan dengan waku yang telah menunjukkan pukul 00.37. Bella beranggapan, barangkali di waktu itu orang-orang yang tinggal di rumah itu sudah tertidur pulas.

“Coba dichek dulu Bel kamarku, tapi aku pesan kamu jangan sampai nyentuh barang aku ya. Apalagi memindahkannya. Ini perintah dan larangan keras!” Pernyataan Raka membuat Bella merasa tertekan. Apalagi setelah pintu kamar dibuka dan di atas kasur ada pistol yang biasa digunakan oleh aparat. Sontak batin Bella terdiam. Dia bertanya pada dirinya, ini maksudnya apa? Siapa Raka sesungguhnya? Walaupun banyak pertanyaan yang bergelantung, Bella hanya bisa terdiam karena tengah mendapati Raka memegang pistol di tangan kirinya.

“Sudah Bella, kamu tidur di kasur ya. Saya kok merasa kedinginan kalau harus tidur di sofa, aku boleh tidur sini kan Bel?”

“Tapi Pak, Bapak kan dalam keadaan mabuk. Saya takut sama Bapak”.

“Astaghfirullah Bel, saya gak bakal ngapa-ngapain kamu Bel. Saya berani sumpah di atas Al-Qur’an ini.” Tangan sambil meraih Al-Qur’an dan mengucapkan sumpahnya.

“Yasudah kalau begitu Pak. Tapi Bapak gak tidur di kasur ini kan?” tanya Bella sambil duduk di atas kasur yang hendak digunakan untuk tidur.

“Enggak Bel, saya tidur di karpet bawah. Sudah kamu tidur saja. Saya minta sama kamu ya, jangan sampai kamu nyentuh barang aku ya. Besok kalau kamu mau pulang cukup puk-puk badan saya. Bilang kalau kamu mau pulang, tapi kalau bisa kasih sayang di pipi ya Bel.”

“Enak aja!”

“haha, becanda Bel, yaudah sana gih. Tapi sekali lagi jangan sampai sentuh barang aku ya Bel”

“Iya pak. Saya gaknyentuh barang Bapak.”

Yaudah silakan tidur. Aku tak tidur dulu ya Bel.”

“Monggo Pak,” ungkapnya,

Walaupun keadaan sudah mulai agak tenang, Bella masih kemrungsung pikirannya. Dia mulai mencoba menghubungi kawannya seorganisasi untuk mengetahui keadaannya.

Waktu menunjukkan 01.00 malam, dengan beruntung teman yang telah dihubungi sedang di sekre tempat biasa berlangsungnya diskusi. Mendengar kabar dari salah satu kadernya, Tony sapaan akrabnya langsung menghubungi teman-teman seorgan yang bisa dimintai tolong. Alhasil, teman-teman yang dari organisasi yang tingkatannya lebih tinggi satu tingkat langsung berkumpul dalam sekre tersebut. Mereka mendiskusikan bagaimana enaknya atas penangkapan Bella dari salah satu kadernya ini.

Awalnya mereka mau menjemput Bella waktu dini hari dengan membawa polisi untuk menggerebek lokasi Bella diamankan Intel. Tetapi, karena sudah ada perjanjian antara Bella dan Raka, Bella melarang temen-temennya melaporkan polisi dan menggerebeknya. Dia meyakinkan ke kawan-kawannya bahwa dia akan tetap baik-baik saja.

“Awakmu gak merasa Wedi[2] ta?” tanya Tony ke Bella via Whatsapp.

“Wedilah, Po maneh aku ngerti ono pistol neng tangane.”[3]

“Cah-cah khawatir terjadi opo-opo seng tidak dapat awakmu lawan.”

“InsyaAllah aman. Kalau ada apa-apa aku langsung kabur.”

“Yaudah, kalau begitu tetap share lokasimu. Barang-barangmu yang ada muatan kiri disave, di leptop dihidden, chat via whatsapp diarsipkan, foto-foto kirim ke aku, amankan semua yang berbau left, jangan terima apapun pemberian darinya termasuk minuman dan makanan apapun itu, dan siapkan vas bunga dan barang-barang yang bisa kamu pakai untuk senjata kamu.”

Hingga baterai hp low, Bella tetap mencoba terjaga dari tidur dengan chatingan bersama kawan-kawan seorganisasinya. Di tengah-tengah chatingannya, Raka terbangun dari tidurnya. Dia menanyakan kartu persnya Bella sebagai identitas Bella bahwa dia adalah wartawan.

“Mana Bel, aku pengen melihat kartu persmu! Aku kurang percaya kalau kamu memang adalah anak pers dan kepentinganmu adalah untuk liputan”

“Ini Pak” sambil mengambil kartu persnya dari dompet yang tersimpan di dalam tas.

“Oh, pers mahasiswa ya. Dari kampus. Nama lengkapnya Bella Syafira. Okelah. Besok-besok kalau ketemu sama aku hati-hati ya Bel, jangan aneh-aneh kamu”

Di sela-sela obrolannya, Raka meminta diinjak-injak badannya. Walaupun Bella mengelak, Raka memakai sumpah atas nama tuhannya bahwa permintaan bantuan ke Bella hanya permohonan tulus, tiada maksud lain.

Beberapa menit berikutnya, pidakan selesai, Raka lanjut tidur dan Bella kembali menghubungi teman seorgannya hingga pagi hari.

Ketika jam menunjukkan 06.30, Bella langsung mencoba keluar kamar, tetapi ketika dibuka pintu kamar, Bella dapati perempuan tengah menonton tausiah Mamah Dedeh di televisi. Bella akhirnya mengurungkan niatan dia untuk keluar kamar. Sebab, dia takut terjadi fitnah atas keadaan itu.

Dalam renungan Bella, dia berpikir jika peristiwa semalam yang telah terjadi diketahui oleh khalayak umum ataupun diberitakan. Barangkali yang menjadi kesalahan adalah pada perempuannya. Sebab, sejauh ini banyak persoalan dimana dalam pemahaman masyarakat luas yang terdiskreditkan adalah posisi perempuan. Dimana pasti ada berbagai pertanyaan yang menyalahkan keadaan perempuannya tanpa mencari tahu hal-hal apa yang terjadi di dalamnya sehingga bisa terjadi peristiwa yang tengah dialami oleh Bella.

Esoknya, di tengahbimbinganskripsi, Bella menceritakankisahnyatersebutpadaNurdin, pembimbingskripsinyaitu. “Nduk, kamuituperempuan.Perempuan kok keluar malam-malam?Perempuan kok mau-maunya diajak pulang sama lelaki yang baru dikenal?”kata Nurdinmemojokkan Bella.

“Iya, pak, ini memang salah,” nada suara Bella berat, sebenarnya  ia sangat ingin memberontak dengan dakwaan dosennya itu. Selama ini dia merasa posisinya sebagai korban menjadi mengganda. Bahkan, banyak teman Bella yang kebetulan posisinya juga sebagai wartawan menanyakan hal serupa.

“Bel, kamu kontemplasi kok di ruang publik sih?”

“Bel, kok kamu mau-maunya diajak pulang sama lelaki yang baru kamu kenal sih?”

“Bel, mbok kamu ki jual mahal sedikit, jangan sok-sok ramah gitu?”

Bel, kamu seharusnya tidak bla bla.. Banyak pertanyaan dimana hal itu mengindikasikan memojokkan posisi Bella.

Bella merasa kecewa dengan temannya. Sebagai wartawan yang notabenenya seharusnya berpikir lebih terbuka dalam melihat peristiwa yang menyangkut moralitas posisi perempuan, tetapi kenyataannya berbagai pertanyaan yang dimunculkan juga tengah memojokkan posisi perempuan. Dengan berbagai harap, Bella berpesan ke kawan-kawannya memakai cara pandang yang lebih terbuka, seperti memakai analisisnya Sara Mills, feminis yang Bella gemari.

“Sebagai wartawan sudah menjadi keharusan untuk mengambil posisi, terutama jika berkaitan dengan moralitas perempuan,” pikir Bella usai keluar dari ruangan Nurdin.[]

*Penulis merupakan bagian dari BAPER (Barisan Perempuan).

 

[1] Semacam bakwan, tetapi bahan dominan dari jagung

[2]Wedi, bahasa jawa. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya Takut.

[3]Takutlah, apalagi aku tahu ada pistol di tangannya.