238 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Balada harian

 

Adzan subuh lirih dan terabaikan

Tuhan kalah di antara dering alarm dan umpatan

Terbangung dengan sisa harapan

Moga hari ini takkan melelahkan

 

Dzuhur kembali datang

Terik siang tak bisa dihindarkan

Tuhan pun kalah dari panas yang memanggang

Dan masih kalah dengan perut yang mulai kelaparan

 

Asar dan senja beriringan

Kepulan asap selalu jadi makanan

Sumbat perut yang makin keroncongan

Dan Tuhan masih kalah dengan kemacetan

 

Maghrib menjemput angan

Sisa hari tenggelam dari pandangan

Tuhan kalah oleh nasi di meja makan

Dan oleh semua kepayahan

 

Isya merangkul rembulan

Nyalakan lampu-lampu jalanan

Dan Tuhan tetap kalah oleh lamunan

Adakah esok masih bisa diharapkan

 

Gondokusuman, 5 april 2017

 

 

Renung

 

Renung, renung, merenung

Lihat sekeliling hanya ada gunung

Gunung yang tak lagi ada kicau burung

Dan yang ada cuma bahan pembuat patung

 

Renung, renung, merenung

Lihat sekeliling hanya ada gedung

Asap-asapnya mengepul dan mengepung

Yang di dalamnya makin adigung

 

Renung, renung, merenung

Lihat sekeliling banyak orang berkerudung

Hari-harinya dilewati dengan berkabung

Yang ada di pelupuk mata mereka hanya mendung

 

Renung, renung, merenung

Ya, yang bisa dilakukan cuma merenung

Dan lewati hari dengan pikiran bingung

Milik siapakah itu gunung?

Si adigung atau Yang Maha Agung?

 

Yogyakarta, 10 April 2017