245 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Muhammad Arwani*

Malam ini (18/4) sembari menonton pertandingan liga champion antara Real Madrid melawan Bayern München saya berusaha untuk menulis. Pikiran saya terbawa pada peringatan Hari Kartini yang sudah berlalu.

Rasanya setiap tahun Hari Kartini selalu diperingati oleh para perempuan Indonesia yang masih setia mengenangnya. Hari Kartini mengajak kita untuk merefleksikan mengenai, sejatinya perempuan Indonesia seharusnya bagaimana. Saya sangat mengagumi R.A Kartini karena beliau adalah sosok wanita hebat pada jamannya. Meskipun pada umur 12 tahun beliau sudah tidak boleh sekolah karena harus dipingit, tetapi  masih saja suka membaca dan mau untuk menuliskan karya untuk Bumiputera.

Beliau juga banyak menulis meski tulisannya tidak pernah dimuat di majalah, karena memang pada masa itu wanita belum mendapatkan akses untuk menjadi seorang penulis. Saya membayangkan kalau beliau adalah satu-satunya perempuan Indonesia yang membaca majalah De Locomotif yang beredar di Semarang, juga novel Max Havelaar, meskipun juga itu belum tentu. Beliau juga mendirikan sekolah wanita pertama di Bumiputera. Bagi saya hal itu adalah kontribusi yang luar biasa dari seorang wanita keturunan ningrat yang mau men-dedikasikan dirinya untuk kaum sebangsanya, lebih khusus kaum perempuan.

Dulu saya sempat ilfeel, kenapa harus Kartini terlalu dibanggakan dan hari lahirnya dijadikan hari besar nasional? Padahal banyak perempuan di negeri ini yang juga berkontribusi untuk Bumiputera. Raden Dewi Sartika misalnya, atau Cut Nyak Dhien atau jika merunut ke belakang lagi ada sosok ratu besar yang bernama Tribuana Tunggadewi. Namun, belakangan saya sadari bahwa rasa distorsi saya terhadap Hari Kartini tersebut tidak hadir secara murni.

Rasa tidak begitu sepakat dengan Hari Kartini itu sudah banyak diwacanakan di jaman Orde Baru, sedangkan hari kartini ditetapkan oleh Bung Karno. Jadi bisa saya simpulkan sendiri kalau wacana yang mendistorsi soal Hari Kartini tersebut adalah wacana Orde Baru yang gayanya bisa dibilang anti Soekarno. Kesimpulan tersebut belum tentu benar, namun juga belum tentu salah. Jika memang butuh untuk diperdebatkan, mari kita diskusikan.

Kartini adalah proses

Menurut hemat saya, Kartini adalah satu tokoh wanita Indonesia pertama yang memiliki cara pandang modern, bukan gaya hidupnya. Kita tentu tidak bisa membandingkannya dengan Cut Nyak Dhien yang secara berani ikut berperang melawan kolonial. Karena keduanya hidup dalam konteks geopolitik yang berbeda waktu itu. Jika kemudian yang dipermasalahkan adalah Kartini sebagai produk Belanda karena beliau banyak difasilitasi mereka, itu sama halnya dengan pemerintah menetapkan organisasi Budi Utomo sebagai tongak Kebangkitan Nasional, padahal sebenarnya Budi Utomo tidak begitu radikal secara organisasi.

Kartini tentu bukan tokoh pejuang feminisme. Dia adalah wanita yang melihat kenyataan dengan perasaannya. Bahwa tidak seharusnya perempuan Bumiputera  dibelenggu oleh adat dan kelayakan sosial. Karena ketentuan posisi dan peran seseorang baik perempuan atau laki-laki seharusnya muncul lewat sebuah kesepakatan, bukan hadir sejak lahir langsung sebagai tuntutan. Dengan begitu harmoni akan benar-benar tercipta.

Berkat perjuangan beliau mendirikan sekolah wanita, hari ini sudah banyak perempuan indonesia yang menempati sektor-sektor formal, baik politik, sosial maupun ekonomi. Mungkin memang masih jauh tingkat pemerataannya, karena hal itu terkait dengan persoalan ekonomi juga. Namun dengan semakin banyaknya perempuan yang mau berefleksi untuk dirinya maupun untuk orang lain di hari Kartini ini, saya optimis bahwa proses emansipasi tidak akan pernah mati. Sebab saya melihat Kartini sebagai proses, bukan sebuah produk. Yang perlu ditekankan adalah untuk tetap setia pada proses perjuangan emansipasi itu.

Tapi kemana ujungnya?                                                                                                

Perjuangan Kartini adalah hasil dari pendidikan orang Eropa. Belajar dari Eropa tidaklah lantas menjadi Eropa. Sebagian besar orang Eropa membangun peradaban negerinya lewat kolonialisme, sedangkan Kartini dan pahlawan lainnya membangun bangsa ini dengan melawannya.

Kolonialisme hadir di bumi putra untuk melakukan penghisapan sumberdaya alam(eksploitasi), maka bagi kita emansipasi adalah menjaga tanah tanah air kita untuk generasi yang harapannya akan lebih harmonis. Perjuanagan para ibu-ibu Kartini Kendeng dalam mempertahankan sawahnya di daerah Sukolilo sangat patut diapresiasi. Meninggalnya ibu Patmi salah satu tokoh Kartini Kendeng kemarin memberi pelajaran bagi saya. Bahwa barangkali ujung dari perjuangan itu adalah kematian kita sendiri.

Dunia terus berjalan, persoalan akan terus bermunculan, dibutuhkan banyak orang yang kritis, baik itu perempuan ataupun laki-laki, untuk mau melakukan analisa sosial. Hingga kemudian  dia bertindak menentukan posisi dan peran dalam bertindak di kehidupan sosial.

Pertandingan berahir. Skor 4 : 2 untuk Real Madrid. Rasanya agak kecewa, karena klub kebanggaan saya kalah.[]

*Penulis mahasiswa jurusan Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Biro Buruh.

Ilustrasi: http://cdn.img.print.kompas.com