225 Pembaca

Lpmarena.com Media sebagai alat demokrasi ke-empat mempunyai pengaruh dalam mewujudkan tumbuhnya stabilitas nasional. “Akan tetapi, masih banyak ketimpanagan dalam menjalankan atau memanfaatkan media, sehingga sering kali media melakukan diskriminatif terhadap salah satu objek. Dalam hal ini adalah difabel,” ujar Ajiwan Arief Hendradi selaku Redaktur Pelaksana Solider.or.id.

Merespon permasalahan tersebut Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara Monthly Coffeebilty, dengan tema “Media Sebagai Strategi Propaganda Advokasi Difabel” Rabu (26/4), di Ruang PLD UIN Sunan Kalijaga.

Ajiwan selaku pembicara yang juga penyandang difabelitas mengatakan bahwa dirinya sering melihat adanya diskriminatif media terhadap orang-orang penyandang difabelitas. Ia juga menambahkan bahwa dirinya pernah merasakan dampak langsung dari diskriminatif media terhadap penyandang difabelitas.

Misalnya ketika dirinya mengikuti tes masuk UGM, media mendiskriminatifkan dirinya dengan mengatakan bahwa pecandang difabelitas kesulitan dalam membaca soal-soal ujian dengan mengunakan kaca pembesar. “Padahal dirinya merasa biasa-biasa saja, dan media terlalu mendramatisir sehingga kita di diskriminatifkan,” ucap Ajiwan.

Ajiwan selaku pecandang difabelitas mengharapkan kepada jurnalis untuk tidak mengunakan kata-kata yang mendiskriminatifkan suatu golongan tertentu dalam hal ini adalah penyandang difabelitas. “Ada kata atau diksi yang lebih bagus yang itu lebih memanusiakan penyandang difabelitas,” imbuhnya.

Magang: M. Abdul Qoni Akmaluddin

Reporter: Wulan