226 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Kehadiran Melanie Subono pada malam “Ziarah Budaya dan Peringatan 40 Hari Yu Patmi”, yang diadakan oleh massa yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen, di Parkiran depan Fakultas Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, Senin (24/04), menarik perhatian banyak orang. Beberapa kali penonton antusias, meminta foto bersamanya.

Di mata Melanie, Yu Patmi merupakan sosok pejuang yang jujur dan polos. Seorang petani yang mempertahankan lahannya agar tetap bisa bertani dengan lahannya sendiri. “Apa yang kurang sederhana, dari itu sih?” tanya heran Melani, saat ditemui ARENA. Seperti yang diberitakan Tirto.id, Yu Patmi merupakan pejuang Kendeng, yang meninggal sesudah melakukan aksi semen di depan Istana Negara.

Menurut Melanie, tidak ada alasan khusus, mengapa dirinya begitu getol mendampingi ibu-ibu Kendeng dalam melakukan penolakan atas berdirinya pabrik semen. “Ini rumah gue, mereka saudara-saudara gue,” tutur Melani.

Seperti diketahui sebelumnya, Melanie ikut terekam dalam film dokumenter ‘Samin VS Semen’ yang diproduksi oleh Watchdog . Saat itu ia terlihat menyambangi ibu-ibu Kendeng, sesekali terlihat berbincang dan foto bersama. Film tersebut mengambarkan perlawanan masyarakat Samin terhadap keberadaan pabrik Semen Gresik, yang kemudian berganti nama menjadi PT Semen Indonesia.

Indonesia menurut Melanie merupakan karunia Tuhan yang luar biasa. Ia menilai Tuhan pernah sombong dua kali. Pertama, saat menciptakan Indonesia dengan segala kekayaan alamnya. Sejak dulu Indonesia menjadi rebutan bagi para penjajah. Kekayaan yang terhampar di Indonesia jika tidak mau diambil oleh pihak lain, maka perlu dijaga. Kedua, Tuhan sombong saat menciptakan perempuan. Perempuan merupakan makhluk yang memiliki banyak tugas, seperti hamil, haid, dan sebagainya. “Kalau di ayat, Tuhan nggak pernah kasih cobaan melebihi kemampuannya,” ujar Melanie.

Hal itu menunjukan, perempuan  merupakan sosok yang kuat, tinggal bagaimana individu itu mau menunjukkannya atau tidak. “Kalau lu nggak mau dianggap lemah, jangan tunjukkan kalau diri kita lemah. Kalau lu nggak masalah dibilang lemah, ya terserah lu,” ujar perempuan yang aktif sebagai anggota Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia itu.

Perempuan yang aktif di dunia tarik suara ini pun menilai, kasus yang menimpa masyarakat Kendeng benar-benar menjadi permainan pemerintah. “Pemerintah nggak mau kehilangan investor,” terangnya. Padahal menurutnya produksi semen di Indonesia sudah melebihi kebutuhan.

Meskipun PT Semen Indonesia akan tetap beroperasi bulan Mei 2017, Melanie mengatakan, yang paling penting adalah melawan, sebab itu lebih baik daripada diam sama sekali. “Kalah menang gue akan terus melawan,” tegasnya.

Selepas berbincang dengan ARENA, Melanie maju ke depan bersama kedua personelnya yang memegang gitar. Menyanyikan beberapa lagu, di antaranya lagu kebangsaan Indonesia Raya, Darah Juang karya John Thobing. Sunset di Tanah Anarki, milik Superman Is Dead, Nyalakan Tanda Bahaya karya Iksan Skuter. Serta Rumah Kita karya God Bless, yang mewakili perasaannya bahwa Indonesia adalah rumah kita. Merupakan lagu yang menjelaskan alasannya mengapa ia peduli terhadap Kendeng.

 

Reporter: Mujaeni

Redaktur: Wulan