343 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

“Dia sudah bersikeras mengompori dan mendemo, tapi uang selalu mengalahkan sisi baik manusia.” Egi Azwul Fikri.

Rasa adalah suatu mikrokosmos. Rasa menanggung beban berat sekaligus di dalam diri manusia, antara agresi (bergerak ke depan) dan regredi (bergerak ke belakang). Di dalam Filsafat Manusia Drijarkara, manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisah antara badan dan roh. Roh di sini salah satunya terwakili oleh rasa, setelah  melalui arus realitas yang konkrit. Rasa baru berfungsi jika badan ada. Berkat badan, ‘rasa’ bisa menemukan jalannya. Sehingga rasa bisa diolah, diodak-aduk semacam adonan, atau tak perlu difungsikan pada kondisi-kondisi kritis.

Di dalam teater, olah rasa menjadi bagian integral selain olah tubuh, olah nafas, olah fisik, olah gerak, dan olah-olah lainnya. Rasa memiliki ikatan erat akan geist manusia. Suatu wilayah kebatinan yang mampu mendeteksi hal-hal yang sangat halus, bisa jadi gaib. Dari sana manusia bisa menunaikan ibadah gnothi seauton atau mengenali dirinya sendiri. Dengan ‘olah rasa’, seorang aktor bisa melatih kepekaannya, baik dalam pentas di atas panggung ataupun dalam laku keseharian.

Konsep tentang ‘rasa’ itulah yang coba digali oleh penulis kelahiran Tasikmalaya, 23 Januari 1990, Egi Azwul Fikri dalam buku antologi cerpen “Olah Rasa”. Terdiri dari sembilan cerpen, antologi ini merupakan rangkaian imajinasi Egi terhadap realitas yang terjadi di sekelilingnya. Yang dibuat dari tahun 2013-2016.

Saya membedakan sembilan cerpen ini menjadi dua kelompok, kelompok satu berbentuk realis, yang terdiri dari cerpen pertama sampai keenam. Kelompok dua, surealis, yakni tiga cerpen terakhir. Benang merah yang saya dapat, cerpen-cerpen ini berusaha untuk melakukan empat upaya: membongkar normalitas, hujatan pada borok pembangunan, hakikat anti-hero, dan distorsi terhadap realitas. Dan izinkan saya mengupas semuanya secara tidak urut.

Membongkar Normalitas

Belum-belum, antologi ini diawali dengan cerpen provokatif. Judulnya hanya terdiri dari satu kata khas Putu Wijaya, yakni “Kiri”. Namanya Arif, sesosok manusia yang digerakkan oleh obsesi akan  tangan kiri. Ini bermula ketika Arif masih kecil, ia melihat kawan sebayanya dimaki ayahnya saat menerima uang jajan menggunakan tangan kiri. Makian ayah kawannya itu tak main-main: “Jangan sekali-kali kau menggunakan tangan kiri lagi, atau tanganmu habis kutebas!”. Aduh, seram sekali jika memiliki ayah fasis seperti ini.

Hasrat membuktikan gagasan egaliter bahwa tangan kiri setara dengan tangan kanan Arif buktikan lewat tindakannya. Arif memakai dan memberikan sesuatu dengan tangan kiri, baik itu di warung, di pasar, di sekolah, sampai nembak orang yang dicintai, dia memberdayakan tangan kirinya. Di lingkup budaya timur, respon yang Arif terima bisa ditebak: ditolak, jijik, dan dirasani orang.

Kiri rasanya menjadi hantu yang tak bersuara tunggal dan menanggung beban sejarah yang kelam. Ia merujuk pada suatu moral, ideologi, dan larangan teologi tertentu. Kiri identik dengan buruk. Arif mencoba mempertanyakan ulang konsep itu lewat tangan. Sederhana saja praktisnya, jika tangan kanan kita gatal, siapa yang akan menggaruk kalau bukan tangan kiri?

Ini mirip dengan konsep doxa yang ditawarkan oleh Pierre Bourdieu. Doxa cenderung mendukung norma-norma tertentu dalam suatu masyarakat, menjadikannya sebuah kewajaran, tanpa kita harus bersusah payah untuk menafsirkan ulang. Arif mencoba mengulik doxa tentang tangan kiri lewat perspektif orang kidal, yang ternyata secara intelektualitas lebih pintar. Isaac Newton, Albert Einstein, Fidel Castro, Maradona, Ratu Victoria, dll, mereka kidal dan mereka cerdas.

Lalu, apa salahnya dengan tangan kiri? Atau jika ditarik lebih luas, apa salahnya ideologi kiri, teologi kiri, wacana kiri? Apakah kiri hanya sekedar berfungsi untuk cebok? Kecoak dalam kamar mandi pun akan tertawa mendengar pertanyaan ini.

Keabnornalan lainnya terlihat di cerpen “Olah Rasa”, yang sekaligus dijadikan judul buku. Bercerita tentang kisah cinta si gondrong Ijal dengan mahasiswi biologi yang menggemari Persib bernama Kiki. Ijal sering mengubah kemurungan Kiki dengan tingkahnya yang konyol dan sepele. Semisal di suatu sore, ketika berada di Terminal Cicaheum, berdua mereka menghitung jumlah angkot yang lewat. Kisah ini mengingatkan saya dengan romantisme cinta antara Dilan dan Milea dalam novel Pidi Baiq.

Di cerpen ini, sisi baiknya, emosi perempuannya sangat dapat. Sifat khas perempuan dalam mencintai, seperti manja, lebih memilih menunggu, dan malu-malu terdapat dalam karakter Kiki. Juga tentang puncak kemarahan Kiki akan sifat Ijal yang suka menggantung hubungan. Hingga dalam kemarahannya Kiki misuh: “Bajingan!!! Aku mencintaimu!!!”, di saat takdir harus memisahkan mereka berdua. Di cerpen ini, Ijal sebagai manifesto ketidakjelasan laki-laki dalam menjalin hubungan. Lelaki cenderung menggampangkan, sedang perempuan cenderung bawa perasaan. Hingga cinta memutuskan, siapa yang harus mengakhiri dan diakhiri.

Pembongkaran terhadap normalitas lainnya ada dalam cerpen “Malaikat Rapuh”, yang mendongeng tentang dekonstruksi akan arti malaikat. Diceritakan tentang cinta tak biasa antara Jibril (dari golongan malaikat) dan Ratu Madelaine (dari golongan manusia). Ratu Madelaine yang merasa derajatnya lebih tinggi dibandingkan malaikat memaki dan menolak cinta Jibril. Madelaine telah menurunkan derajat Jibril sebagai malaikat.

Yang menjadi pertentangan di sini  adalah yang satu egois soal etika, dan yang satu egois tentang idealisme. Madelaine meruntuhkan Jibril dengan ketidaklaziman maliakat yang mencintai golongan manusia, padahal katanya malaikat tak memiliki nafsu. Hal itupun menyudutkan Jibril. Ditulis dengan narasi mabuk, ternyata ujung perseteruan mereka berpangkal pada pengkultusan dan klaim ras mana yang paling unggul. Naif.

Hujatan Pada Borok Pembangunan

“Menara Berdiri Angkuh” bertutur tentang Lutfi kecil yang hidup dalam sebuah kampung asri dan dipenuhi dengan rerimbun bambu. Dia merupakan si jenius yang menemukan enggrang (jajangkungan). Dewasanya, Lutfi melakukan urbanisasi ke kota, menjadi seorang teknisi perusahaan provider. Kerjaannya, Lutfi membangun tower-tower di desa-desa. Ya, Tower yang bisa menyebabkan radiasi otak.

Selama dia bekerja, Lutfi menangkap suatu fenomena aneh pada diri masyarakat, bahwa dengan harga tak seberapa, mau-maunya tanahnya dibeli. Dan kalaupun tanahnya dibeli dengan harga mahal, apakah masyarakat tak mempertimbangkan efeknya?

Puncak pergolakkan itu terjadi ketika desa Lutfi menjadi target pendirian tower. Lutfi langsung mengontak orang di desanya agar menolak. Anehnya, yang ditelpon itu tak jelas siapa. Ah, adegan ini mengganggu saya, karena meninggalkan nuansa realisnya. Jika yang ditelpon kepala desa atau camat, lalu mereka debat, pasti seru. Sebab, dari tingkat kota, kabupaten, dan desa sendiri terjadi kecurangan aparatur desa mengenai perizinan. Satu lembar surat izin, harganya bisa sampai jutaan!

Sayangnya lagi, Lutfi kalah dengan masyarakat. Meski awalnya melakukan penolakan, masyarakat mau juga karena ada uang. Masyarakat telah disumpal pemodal dengan proyek 1,7 Milyar dan kontrak lahan 10 tahun. Nyata benar, uang telah mengalahkan sisi rasional manusia. Sangat jelas proses reifikasinya, ketika banyak hal dibendakan dan dibeli dengan uang. Di sanalah tersisa kepingan menyakitkan akan kenangan-kenangan yang dirubuhkan.

Di cerpen “Kasihan, Ikannya Tenggelam” hampir sama kritiknya dengan cerpen “Menara Berdiri Angkuh”. Menggunakan sudut pandang orang kedua, cerpen ini berkisah tentang tokoh “kamu” yang meski telah berkuliah di Eropa, selalu merindukan durasi-durasi saat bermain di Sungai Kelanduan, sembari memancing ikan dengan umpannya kepiting bakar. Namun, ketika ia pulang, sungai, ikan-ikan, sawah, dan pohon besar tak ada. Makin modern, manusia makin tak harmonis dengan hewan dan tumbuhan. Kaserakahan sebagai antek-antek kapitalisme telah merusak harta jiwanya.

Hakikat Anti-hero

Saya pernah mendengar curhatan dari seorang guru honorer dalam suatu diskusi. Dia bercerita jika menjadi guru honorer gajinya sangat rendah, antara 200-500 ribu. Derita guru honorer ini terjadi juga pada tokoh Guru SD dalam cerpen “Luka Seorang Guru Honorer”. Dia adalah seorang guru muda yang sudah empat tahun menjadi guru sukwan dan tak diangkat-angkat menjadi PNS. Ia hidup bersama istri dan anaknya yang masih sangat kecil. Anak itu demam dan minta susu, tapi orang tuanya tak bisa membelikan susu.

Di sekolah, ‘Guru SD’ ini muak dengan ulah para guru tetap. Guru sukwan yang gajinya kecil, selalu diberi beban yang lebih ekstra, dibandingkan guru lainnya. Ia kadang juga tak dihargai. Ketika guru tetap berleha-leha (tertawa, ngemil, nggosip, ngrokok), guru sukwan sering disuruh-suruh. Ruang guru lalu menjadi ruang yang tidak menarik, bisa jadi menjadi neraka bagi guru sukwan. Kasihan sekali dikau, guru yang katanya pahlawan…

Dalam laporan dengan atas pun, semisal laporan untuk Dinas Pendidikan, kepala sekolah hanya melaporkan hal yang baik-baik. Kepsek bilang guruya rajin dan produktif, hidup bahagia dan sejahtera, padahal bohong. Tidak sedikit guru yang malas, tak pernah membuat karya, dan hidupnya di bawah kata sejahtera. Apalagi gaji guru sukwan yang digaji sangat di bawah UMR.

Guru sukwan dalam kultur Indonesia masih dianggap semacam kerja sosial (relawan). Posisi mereka sangat dilema. Di satu sisi masyarakat sangat membutuhkan guru sukwan, terlebih di daerah-daerah pelosok. Di satu sisi juga pemerintah tidak tegas dalam memberikan payung kebijakan kesejahteraan bagi guru sukwan. Ada sifat defensif antara pemerintah dan masyarakat. Solusi secara sederhana, posisi “guru sukwan” harusnya tak diperbolehkan. Pemerintah atau organisasi keguruan semacam PGRI harusnya bisa melegitimasi dan melakukan advokasi secara tegas.

Kisah Guru SD tersebut sama anti-heronya dengan kisah Ira di cerpen “Titik Hakikat”. Ira seorang mahasiswi pecinta alam (mapala). Gunung bagi Ira adalah hidup yang menyeretnya pada kelembaban udara, tanah, batuan, dan pohon yang berlumut. Bagi Ira, mendaki gunung bukan hanya sebatas tren (style) untuk para fatalis yang tak mengerti tentang safety dan survival. Mendaki gunung baginya adalah ritual sakral. Namun, entah kenapa judul cerpen ini tak sesuai dengan isinya. Berbicara tentang hakikat juga berbicara tentang epistemologi manusia sebagai makhluk. Saya merasa, cerpen ini tak berbicara tentang itu.

Distorsi Terhadap Realitas

Novel “1984” karya George Orwell pernah membuat teknlogi yang ultra canggih bernama teleskrin. Alat itu digunakan oleh Bung Besar sebagai seorang diktator negara untuk mengawasi setiap gerak rakyatnya. Di cerpen “Ksatria Tupai” ada teknologi baru bernama gelang chip. Bedanya, jika teleskrin berfungsi sebagai CCTV, gelang chip berfungsi memberitahukan seluruh kampung bahwa naga telah datang. Lampu merah dalam gelang itu akan berwarna dan chip itu dipunyai oleh seluruh warga.

Konteksnya, terkisahlah dua sahabat bernama Indra dan Qadir yang tengah melakukan perburuan terhadap tupai. Tiba-tiba di tengah sawah, ada sebuah naga besar yang menyemburkan api, dan merusak ketenangan. Naga hendak melakukan genosida terhadap penduduk.

Lalu, barisan Garda Nasional yang terdiri dari kavaleri, invanteri, helikopter SAR, jet sukhoi Angkatan Darat, melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap naga. Garda nasional ini tak ubahnya sebuah Minipax (Kementerian Perdamaian, bagian yang menangani perang) yang dimiliki Bung Besar dalam novel Orwell −selain aparatus lainnya, yakni Minitrue (Kementerian Kebenaran), Miniluv (Kementerian Cinta Kasih), dan Miniplenty (Kementerian Tumpah Darah).

Saya belum bisa menangkap secara pasti, apa simbol dari naga dalam cerpen ini. Logika saya jadi tak sampai jika membenturkan cerpen ini pada realitas. Saya juga malah kepikiran film naga-naga di salah satu stasiun TV. Yang pasti, naga tersebut menimbulkan keresehan terhadap pemerintah dan masyarakat. Mirip-mirip dengan isu-isu terorisme yang berkembang di dunia.

Anehnya juga di akhir cerita, Indra dan Qadir berubah menjadi tupai, tapi dengan otak yang masih seperti manusia. Meski tubuh mereka seperti dikendalikan oleh remote control. Mereka saling berkomunikasi menggunakan Bahasa Tupai. Kuku itu memanjang dan menyerang naga.

Pendistorsian lainnya saya temukan dalam “Hilang” yang menjadi cerpen (semi) erotika pertama yang mengganggu saya. Jika biasanya cerita erotis picisan membuat seseorang ereksi sampai onani dan masturbasi, di Hilang saya merasakan semacam erotisme yang sublim dan absurd. Bukan tentang selangkangan, tapi nilai-nilai spiritualitas diri. Perayaan akan nafsu di cerpen ini unik, tanpa agresifitas yang menggebu-gebu mampu membuat ketagihan. Saya cuplik benar satu adegannya:

“Kubelai rambutmu yang hitam lebat, tergerai seperti aliran sungai meliuk, bermuara di ubun-ubunmu yang kerap kukecup. Kau sedang mendesah pelan, kau remas tanganku dengan erat, keras namun kadang melemah. Saat mata kita bertemu, seolah pupilmu berbicara sangat halus, membahas tentang romantisme pelukan dan kecupanku yang sangat panjang. Aku enggan melepasnya, badanmu teramat nyaman sayang. Sesekali aku merasakan nafasmu, degup jantungmu, dan dalam darahmu seolah aku sedang berenang. Aku sedang berada dalam dirimu, menyatu dalam satu keutuhan. Dan kau berbisik pelan dalam hatiku. ‘Dekap aku sampai kau merasa lenyap dari dunia’.” (Hal. 85). Sungguh, ulasan foreplay yang cantik. Egi rasanya membawa maqam aktivitas biologis primitif manusia ke arah yang lebih tinggi.

Foucault dalam bukunya Histoire de la Sexuality memaparkan tentang bagaimana seksualitas memiliki bobot moral dan dapat berfaedah secara teknis. Bahwa masa depan tidak hanya bergantung pada kondisi material seseorang, tapi juga bergantung pada kondisi seksualitas warganya dalam mendayagunakan seks. Sebab alasan itu, sampai-sampai negara harus mengetahui kondisi seks warganya. Kata Foucault, “seks dibentuk sebagai pertarungan kebenaran” dan kebenaran bisa dirumuskan jika ada pembebasan.

Yang menjadi aneh, di cerpen ini sang perempuan bersenyum surga berubah menjadi seorang pria berkharisma yang ternyata adalah ayah si tokoh utama, Judas. Hukum inses seperti berlaku di sini dan sampai sini alur menjadi tak masuk akal. Meski begitu, saya meyakini satu lagi, seks dalam cerpen ini rasanya hanya semacam bumbu. Ada hubungan yang lebih transenden lagi kaitannya menyatunya kita dengan sang pencipta jagat raya.

Olah Kritik

“Olah Rasa” judul yang tak serta merta diciduk dari sembilan cerpen Egi. Entah kenapa harus ini yang dijadikan judul? Apakah karena penulisnya seorang seniman yang lebih mengutamakan rasa atau bagaimana? Bagi saya tepat saja mewakili delapan cerpen lainnya. Akan datar saja ketika Egi menjadikan “Hilang” sebagai judul antologi ini. Baiknya lagi, beberapa cerpen tidak berakhir dengan adegan kering, karena ada twist cerita yang mengejutkan pembaca.

Sisi jeleknya, secara pesan, di titik paling pedih semua tokoh melihat kehancuran-kehancuran mereka tanpa bisa mengubah apa-apa. Ada kepasrahan yang tidak menarik di sana. Juga Teknik pengambilan adegan yang kurang simbol, permajasan, dan teknik akrobat sastra lain yang harusnya bisa dihadirkan sana-sini. Padat metafora hanya terlihat di tiga cerpen terakhir, lainnya terkesan lengang.

Nuansa kritik rasa dakwah di cerpen kelompok realis, bagi saya narasinya terkesan menggurui. Pesannya mungkin saya dapat, tapi secara penyampaian tidak. Ditambah cerpen-cerpen di sini minim dialog, ada baiknya hal itu diimbangi dengan kekuatan karakter para tokoh dalam menyampaikan kegelisahannya.

Hadirnya ilustrasi di antologi ini bagi saya juga memberi nilai dan sentuhan seni sendiri. Novan Gharuk bagi saya cukup berhasil melukiskan isi yang dikandung cerpen. Meski di beberapa cerpen ilustrasinya cenderung dipaksakan, bisa jadi kurang matang. Semisal di cerpen “Menara Berdiri Angkuh” dan “Titik Hakikat”, ilustrasinya “kursi yang ada pizzanya” dan “bayi dalam kandungan”, ikon yang digunakan serasa tak inheren dengan isi.

Teknis yang tak kalah penting adalah tentang tanda baca yang menjadi elemen dasar yang wajib diketahui penulis. Egi atau mungkin editornya sangat ceroboh di sini. Profesionalismenya sebagai penulis untuk mengurus hal yang sesepele ini dipertanyakan. Sebab kesalahan tanda baca tidak hanya satu – dua, tapi di hampir keseluruhan cerpen ada. Dari kelebihan spasi, penggunaan tanda petik dengan titik dan komanya, tak semestinya ada. Untuk ke depan, agar tak menjadi pemakluman, kecuali ‘hal itu memang disengaja dalam konteks menunjukkan kabaruan’. Kebaruan yang terencana dan lebih baik.

Pada akhirnya, Egi memberikan ruang terbuka pada siapapun untuk menafsirkan cerpen-cerpen di “Olah Rasa”. Seperti mengutip yang ia katakan dalam peluncuran buku ini di Yayasan Kampung Halaman, bahwa: “Lebih ke menebarkan hal-hal yang baik.” Terus menulis, Mang!

Judul Olah Rasa │ Penulis Egi Azwul Fikri │ Penerbit Diandra Kreatif │ Kota Terbit Yogyakarta │ Cetakan Petama, April 2017 │ Tebal vi + 104 halaman │ Dimensi 13,5 x 19  cm │ Ilustrator Novan Gharuk │ ISBN 978-602-336-387-2

Peresensi: Isma Swastiningrum, tipe manusia yang tanpa diminta suka menyibukkan diri dengan olah-olah.