313 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Lailatus Saadah*

Aku akan berkisah tentang hidupku yang sebagai pelaku sejarah generasi milenial. Ya, berharap ini akan menjadi pengantar tidur anak cucuku, dirimu, dan semua orang yang pernah kuceritakan kisah ini.

Kelahiranku tecatat sebagai generasi milenial. Meski aku hidup di generasi milenial, tepatnya peralihan generasi abad duapuluh-an menuju abad duapuluh satu. Tetapi, karena teman sejawat di kampungku masuk kriteria generasi milenial, maka mau tak mau aku seperti benang yang tersangkut layang-layang terbang. Aku sendiri memahami generasi milenial sebagai generasi yang keren dengan teknologi serba canggih.

Masa kecilku mungkin tak sekeren generasi milenial yang belajar alfabet melalui benda lipat yang mengeluarkan suara. Kalau kalian anak cucuku, pasti sudah tak asing lagi dengan bentuk itu. Ya.. laptop, netbook, gadget, dan sejenisnya. Entah saat kalian mendengar kisah ini benda-benda sejenis itu mempunyai istilah apalagi.

Sejak kecil aku selalu diajarkan oleh orangtuaku agar memelihara sopan santun, baik dalam tutur maupun perilaku. Apalagi ibuku tipe orang yang suka sekali mengomentari tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Artis di televisi saja menjadi sasaran komentarnya, bahkan orang lalu-lalang di depan rumah pun menjadi objek komentar ibu, entah itu orang waras atau orang gila sekalipun.

“Dasar wong edan, mlaku udo neng dalan yo ora duwe isin (dasar orang gila, gak punya malu berjalan tanpa busana di jalanan),” komentar ibu. Jadi, itulah yang membuatku harus selalu berhati-hati dalam tindak tutur. Ibu bahkan melarangku berucap kotor ataupun menyebut sesuatu yang tabu dengan kata-kata langsung. Ibu mengarahkanku menggunakan kata anu untuk menyebut kata-kata yang tidak boleh dikatakan. “Deloken Le, (lihatlah nak) orang gila kayak gitu anu-nya diumbar (dipamerin) di jalanan. Makannya kamu jangan sembarangan memperlihatkan anu-mu kepada orang lain, biar gak sama kayak orang gila,” kata ibu mencoba menasihati.

Saat ini sudah berubah, karena aku merasa menjadi manusia merdeka tanpa aturan ini itu dari ibuku. Ya, aku memutuskan merantau ke kota Jakarta untuk menyambung hidup dan meraih impianku sebagai artis terkenal. Aku tak senekat orang-orang dari desa itu yang hanya mengandalkan mimpinya. Aku tak mau dianggap sebagai sampah masyarakat yang luntang-luntung di jalanan. Aku pergi ke Jakarta bermodal uang lima belas juta dari hasil penjualan tanah orangtua serta kenalan seorang teman lama yang sukses lebih dulu di kota metropolitan itu.

Di bulan pertama, aku rajin mengikuti casting iklan obat kuat hingga sinetron Anak Jalanan yang sampai tamatnya sinetron itu aku tak lolos casting. Sebulan penuh tanpa pemasukan dengan pengeluaran yang lebih banyak membuatku memutar otak untuk memperoleh pekerjaan paruh waktu sambil tetap mengikuti casting.

“Permisi Bu.. Aku lihat di depan kaca tertulis dibutuhkan karyawan di posisi pelayan dan kasir. Apa masih ada yang kosong Bu?” tanyaku dengan sopan.

“Iya dik, ibu kehilangan pegawai kasir karena dia minta resign. Kalau pelayan itu emang ibu butuh sekali, dengan pelanggan yang semakin banyak. Eh, namamu siapa?”

“Aku Lesatri Bu, ini aku bawa ijazah kuliah sama dokumen lainnya Bu.”

“Oh ya… Langsung kerja aja ya dek, ibu lagi ribet banget. Kamu bantu-bantu melayani pesanan pelanggan aja.”

Dengan raut wajah antara senang dan sedih, karena aku berpikir ijazah kuliahku tak tersentuh sedikitpun oleh ibunya. Sambil meratapi nasib ijazahku, aku mengikuti seorang perempuan dengan perawakan tinggi putih dan kukira usianya tak jauh berbeda dengaku. Aku mengambil sebuah kertas dan bolpoin yang disodorkan lalu segera menyambangi pelanggan yang baru datang.

“Mau pesan apa, Mas?”

“Aku pesan gigolo dua ya.”

Aku tak langsung mencatat setelah mendengar pesanan dua orang di depanku. Aku berpikir ‘Apa mas-mas ini lagi mabuk atau jangan-jangan warung ini…’ Lamunanku terbuyarkan ketika pelanggan itu mengacungkan jari di depan wajahku. Salah satu dari mereka menujuk banner besar yang terpasang di ujung ruangan dekat dengan kasir.

Aku mengikuti arah yang ditunjuk, ke atas dan menelusuri dinding mencari informasi menu yang tersedia. Baru kusadari nama menu makanan di sini begitu aneh dan tak lazim. Kemudian aku langsung mencatat pesanan mereka berdua dan segera menuju meja pesanan.

“Mbak.. Pesen penis sama es teh satu ya.”

Aku terpatung dan terbengong mendengar kata-kata yang selama ini haram bagiku untuk diucapkan dan dilarang keras untuk didengarkan. Melihat aku berdiri mematung, Mbak Santi yang tadi memberiku kertas dan bolpoin menegurku untuk segera menulis pesanan para pelanggan.

“Tari.. Itu pesanannya dicatat biar gak kelewatan.”

Aku tersadar dan segera menggoreskan kata tersebut ke atas note pesanan.

Delapan bulan sudah aku bekerja sambilan dengan tetap mengikuti casting berbagai acara televisi. Aku menjadi terbiasa dengan istilah-istilah menu makanan yang awalnya membuatku ngeri dan risih. Seperti sodomi untuk semangkuk olahan indomie dan peniz untuk spesial nasi sosis. Aku masih bertahan di warung makan Pelacur karena mencari pekerjaan kota tidaklah mudah. Tiba-tiba nada dering handphone-ku berbunyi keras membuyarkan lamunanku di jam istirahat siang.

“Iya halo.. Ini dengan siapa?”

Suara di seberang seperti tak asing bagiku, tetapi nomor yang tertera tak mempunyai nama kontak di hpku.

“Kami dari agensi Media Picture menyatakan bahwa saudara Lestari lolos casting reality show Panti Curhat. Mohon kepada yang bersangkutan untuk bisa datang besok pukul 09.00 di gedung Media Picture lantai lima.”

Suara di seberang sudah tak terdengar lagi. Sementara aku masih menempelkan hpku di telinga, memastikan suara itu benar-benar sudah hilang.

Keesokan harinya aku datang pagi-pagi, lebih pagi dari yang dijadwalkan oleh penelepon kemarin.  Tiga jam berlalu, namaku dipanggil untuk masuk ke sebuah ruangan. Di sana, aku bertemu dengan artis ternama ‘Papa Koya’ sedang mengobrol dengan salah seorang yang entahlah aku tak mengenalnya, mungkin manajernya atau bisa jadi pegawai kantor di sini.

Aku diarahkan untuk menghadap ke seoorang lelaki bertubuh gempal dengan perut agak buncit.

“Jadi begini Lestari, untuk hari ini kita ambil satu take shoot dulu. Kamu baca skenario terlebih dahulu, persiapkan. Nanti kita mulai pukul dua siang ya!”

Aku menerima sebendel kertas dengan tulisan yang banyak kutipan tampak seperti sebuah naskah drama. Aku baca dan pelajari berulangkali, hingga semua orang sibuk mempersiapkan peralatan shooting.

Lelaki gendut tadi memanggil semua pemeran dan mengarahkan para kru untuk melakukan tugas masing-masing.

“Semua siap ya.. satu.. dua.. siap.. action!”

“Baik, bertemu lagi dengan saya ‘Papa Koya’. Di sini kita punya klien seorang pelajar mahasiswi yang punya pacar dan tidak lama ini mereka putus, karena si ceweknya ini mengetahui kalo cowoknya *_ _ _* (mengisyaratkan dengan menaik turunkan jari tekunjuk dan tengah masing-masing tangannya) dengan sahabatnya. Kita minta dia untuk masuk ke sini untuk menceritakan kisahnya, karena sampai sekarang katanya si cowok maupun sahabatnya itu tetap tidak mengakuinya.”

Aku diarahkan salah seorang kru untuk naik ke atas stage. Aku menikmati peran ini dan sedikit pun tak merasa grogi ataupun canggung.

“Ya jadi gini Mas, aku sudah pacaran sama cowokku ini tuh hampir tiga tahun lah. Kita kalau jalan keluar seringnya ngajakin sahabat aku, karena mama gak ngijinin aku jalan bareng berdua doang sama dia. Lha aku inisiatif sendiri mengajak sahabat aku ini, karena kita semua tuh emang udah akrab sejak SMA. Tapi, lima bulan lalu aku curiga sama pacarku. Curiganya dia punya hubungan lebih dengan sahabat aku ini. Tiga bulan terakhir ini aku cari bukti, sampai akhirnya ada seorang teman yang melihat mereka sering jalan berdua tanpa aku.”

“Jalan berdua doang kan gak masalah. Ya,, mungkin mereka cuma jalan biasa aja sebagai teman kan. Tapi ya biar kita tahu kebenarannya, kita tanyakan saja sama mereka berdua.”

“Jen, aku tuh gak ada apa-apa sama Geri. Kamu harus percaya sama aku.” Seorang perempuan langsung duduk di sampingku dan membujukku untuk mempercayainya.

Aku melirik mencoba melihat raut wajah cowok yang dipanggil Geri itu tertunduk lesu dan malu. Aku marah dengan ketidakjujuran mereka, dan mencoba keluar dari stage. Tanganku terasa berat karena Silvi, yang berperan sebagai sahabatku itu menahanku pergi.

“Oke, aku bakal berkata jujur. Asal kamu tahu aja Jen. Geri tuh lebih bahagia sama aku ketimbang sama kamu. Kamu tuh di mata dia seperti boneka yang cuma bisa dipegang, dipeluk, dan diajak jalan-jalan doang. Ya masak iya.. tiap kali ngedate selalu minta ditemenin sama orang lain.” Silvi berbicara panjang lebar dengan nada suara merendahkanku.

Aku mengibaskan tangan dari genggamannya dan mengangkat tangan ke arah wajahnya.

“Dasar perempuan jalang.”

Aku pun keluar dari stage dengan air mata bercucuran.

Para kru di bawah, termasuk sutradara memberi ucapan selamat dan pujian dengan akting yang kuperankan. Aku merasa puas dan benar-benar bahagia.

Waktu penayangan acara reality show Panti Curhat di salah satu channel televisi telah tiba. Aku tidak lagi bekerja di warung makan Pelacur dan mencoba fokus di dunia akting. Sambil mencomot camilan, aku bersama Pea teman lamaku yang pernah kuceritakan tempo waktu menonton acara yang kubintangi tersebut. Kami sangat menikmati acara tersebut sambil Pea memberi komentar terhadap aktingku.

“Dasar perempuan *_ _ _*.”

Aku kaget kata apa yang seharusnya keluar dari bibirku, tapi hanya suara ‘nging’ yang terdengar. Aku membuka lagi skenario yang sempat kubawa pulang. Halaman terakhir kubuka dan kutemui kalimat dengan tulisan “Dasar perempuan jalang.”

Aku berkomentar pada Pea kalau aku menyebutkan kalimat yang benar sesuai dengan instruksi skenario.

“Tak semua yang tertulis di skenario bisa tersuarakan di atas stage Tari. Tak semua orang sepakat dengan kata-kata yang kita gunakan.” Pea mencoba menjelaskan untuk menenangkanku.

Aku mencerna kalimat tersebut dan membatin dalam batin.

“Toh itu bukan kata-kata tabu seperti yang sering kudengar di warung makan tempatku bekerja dulu. Kenapa suaraku harus tersembunyi dibalik suara aneh dan merusak telinga itu.”[]

 

*Penulis merupakan Sekertaris Umum LPM Arena yang punya hobby menari. Perempuan mungil yang tengah memulai perlawanan dengan tulisan.

Ilustrasi: kompasiana.com