207 Pembaca

Lpmarena.com – “Kita harus menemukan pembaca yang tepat, bukan pembaca yang banyak” begitu yang dikatakan oleh Taufik Hidayat dalam diskusi tentang masalah agraria dan malam puncak Ekspresi Award di Gedung Student Center Lantai 3 UNY, Jumat (5/5).

Taufik yang juga mantan Sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) tersebut mengharapkan kawan-kawan persma untuk terbiasa dengan liputan di luar, sehingga isu yang di dalam pun secara otomatis akan lebih tanggap. Kalau di luar kampus mengangkat kesejahteraan Rakyat, jika di dalam kampus kesejahteraan Mahasiswa. “Bagaimana teman-teman mengarahkan kader-kader itu sejalan. Kita berangkat dari titik yang sama, masalah kesejahteraan,” ujarnya.

Semisal ketika mengangkat isu agraria di luar kampus, bagaimana persma mampu berhubungan dengan warga terdampak langsung. Kawan-kawan persma bisa melakukan itu dengan terjun langsung bersama warga atau mengikuti suatu aliansi. Ketika telah terjun langsung, tema-tema potensial yang penting untuk digarap akan datang berseliweran. “Intinya teman-teman bisa lebih produktif. Main frame.

Hal itu senada dengan yang diungkapkan Abdus Somad yang juga mantan Sekjen PPMI. Ia menyatakan isu di dalam kampus sepengalamannya, ukuran keberhasilan persma di dalam kampus belum ada.

Permasalahan ini bagi Somad diakibatkan oleh dua hal: persma kurang dalam menulis dan hanya beberapa mahasiswa saja yang peduli. Misal soal UKT, yang peduli soal UKT kalangan menengah ke atas. “Kita perlu tolak ukur, kebijakan bisa berubah kalau ada radikalisasi massa,” katanya.

Ketika tulisan jadi pun sedikit bahkan tidak ada perubahan yang terjadi. “Terus ngangkat itu, sampai ada perubahan,” ujar Somad. Masalah lain yang dialami persma bagi Somad, yaitu adanya gesekan antara persma dan lembaga universitas. Ada pendikotomian dua hal itu yang menyebabkan bisa pengetahuan dan bias persoalan.

Sebab itu, Somad memiliki ide untuk mensinergikan dua hal ini, dan lebih jauh sinergi antara isu luar dan isu dalam. Semisal, isu agraria dari luar, tapi wawancaranya dengan dosen dalam kampus sebagai staf ahli.

“Terakhir, kawan-kawan di Yogyakarta aktifinlah forum PU, forum pimred, yang bisa dolah seperti apa?” tutupnya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan