324 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Kampung Cyber, begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah kampung yang selangkah lebih maju dalam hal teknologi dibandingkan dengan kampung-kampung yang ada di Yogyakarta, bahkan Indonesia. Seorang Mark Elliot Zuckerberg, sang creator sekaligus pencipta jejaring sosial Facebook pun menyempatkan diri mengunjungi kampung ini.

Bukan tanpa alasan seorang Zuckerberg mengunjungi tempat ini. Tempat dengan gang-gang sempit dan mural yang tergambar di beberapa dinding temboknya. Pasalnya, kampung yang terletak di Rukun Tetangga (RT) 36/Rukun Warga (RW) 09 Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta ini sudah mengaplikasikan teknologi ke berbagai macam aktivitas maupun kegiatan kampung.

Misalnya dalam hal berkomunikasi, warga RT 36 yang sudah mempunyai komputer serta jaringan internet di rumahnya masing-masing dapat memantau keadaan kampung dengan Closed Circuit Television (CCTV)  yang  tersambung ke tiap PC (Personal Computer) yang dimiliki warga. Berbagai informasi terkait kegiatan yang dilakukan seperti kerjabakti, arisan, dan kegiatan lainnya oleh warga RT 36 pun dapat diakses di Facebook serta website yang sengaja mereka buat untuk berkomunikasi.

Semua hal itu tentu tidak terlepas dari sosok pria botak berkacamata dengan nama lengkap Antonius Sasongko Wahyu Kusumo, selaku penggagas ide Kampung Cyber. Koko, begitu ia biasa dipanggil merupakan otak dari munculnya Kampung Cyber di RT 36 Kelurahan Patehan.

Berawal dari kebutuhannya akan internet, Koko yang berhenti dari kantornya di tahun 2008 dan bekerja di rumah memutuskan untuk memasang jaringan internet di rumahnya. “Di tahun-tahun itu kan banyak kegiatan di kampung. Kegiatan yang menarik untuk diliput. Akhirnya saya liput, saya foto, saya bikinkan blog untuk kampung, untuk mengenalkan kegiatan-kegiatan dan aktivitas di kampung sini apa aja,” Koko menjelaskan.

Pria kelahiran Yogyakarta 10 Mei 1979 ini juga mengatakan bahwa pada saat itu warga di RT 36 belum mengenal internet. Beberapa alasan diantaranya karena sebagian besar warga bekerja sebagai wiraswasta yang jauh dari teknologi. Ditambah lagi tingkat ekonomi warga dimana ia tinggal, yang notabennya perkampungan adalah masyarakat menengah kebawah, belum ada yang memiliki PC (Personal Computer). Sehingga, untuk menunjukan kegiatan-kegiatan warga yang ia posting di website atau blog ia harus mengundang teman-teman atau warga ke pos ronda juga rumahnya.

Dari situlah muncul ide dan gagasan untuk membuat jaringan internet antar warga di RT 36 untuk mempermudah warga mengakses informasi dari website yang ia buat. “Saya pikir, ketika internet ini saya setor ke warga, itu pasti manfaatnya lebih banyak daripada internet ini saya pakai sendiri,” ujar Koko.

Original

Kampung Cyber merupakan ide dan gagasan original yang berusaha Koko aplikasikan pada tempat dimana ia tinggal. Ide ini termasuk original karena sebelumnya belum ada yang membuat hal seperti ini. “Malah setelah kita, banyak yg meniru. Ini kan basic-nya kampung, bukan perumahan. Kalau perumahan kan banyak, soalnya dari sisi ekonomi mereka menengah ke atas, tapi nyatanya dikampung ini bisa kita aplikasikan konsep Kampung Cyber,” ucap alumni ISI jurusan Desain Komunikasi Visual angkatan ’96 ini.

(Koko tengah berpose bersama Mark Elliot Zuckerberg creator jejaring sosial Facebook di Kampung Cyber)

Gagasan dan Ide Kampung Cyber juga telah disebar  di RT lain, tidak hanya RT 36. “Keinginan saya sih Kampung Cyber jadi meluas , kalau bisa semua kawasan ini terkoneksi semua, RT, RW, bahkan kelurahan,” ucap Koko yang juga menjabat sebagai ketua RT sejak akhir 2015. Sehingga akan terwujud kelurahan online, dimana pelayanan dari RT ke Kelurahan dapat dilakukan secara online. Dan hal tersebut yang mulai diaplikasikan olehnya selama menjabat sebagai ketua RT. “Hanya saja yang memadai secara infrastruktur  hanya disini,” sambungnya.  Ia berkeinginan supaya kampung- kampung lain juga seperti  Kampung Cyber saat ini.

Untuk yang terbaru, kampungnya sedang  membuat  aplikasi website pelayanan kependudukan.  Koko masuk di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan. Saat ini, ia sedang membuat aplikasi online dimana kegiatan mengurus surat-surat RT dapat dilakukan secara online. Aplikasi tersebut sudah di-launching Desember lalu. “Jadi saya bisa acc permintaan surat dari warga, tanpa ketemu warga. Ngga perlu tanda tangan karena udah ada barkotnya. Dan itu baru disini saja, di kelurahan Patehan,” ujarnya.

Tetap Konsisten

Bukan tanpa kendala ide dan gagasan yang Koko miliki dapat direalisasikan. Mulai dari tidak tersedianya fasilitas seperti komputer, karena pada saat di perkampungan dengan perekonomian menengah kebawah komputer bukanlah kebutuhan utama bagi warga. Sehingga sedikit sulit memberikan pemahaman tentang kegunaannya. Tidak hanya itu, ditolaknya proposal permintaan PC (Personal Computer) yang ia ajukan ke Pemkot (Pemerintah Kota) juga merupakan kendala yang ia dapati, namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya mewujudkan perkampungan melek teknologi.

Awalnya jaringan internet hanya diaplikasikan ke lima tetangga yang tertarik dan mau, lama-kelamaan timbul ketertarikan dari warga lainnya. Akhirnya dengan biaya patungan untuk membeli peralatan dan kabel seharga 150 ribu, Koko beserta warga memasang internet di pos ronda. Dengan jaringan internet menggunakan miliknya. Namun PC belum tersedia disana, sehingga Koko memindahkan salah satu PC yang ia punya (saat itu Koko mempunyai dua PC) untuk dioprasikan di pos ronda yang dianggap tempat strategis, karena sering kali digunakan bertemu dan berkegiatan warga.

“Dari situ warga warga mulai belajar, berproses. Sekarang mereka sudah membeli dan punya komputer sendiri. Berusaha sendiri, itu pun atas dasar kesadaran mereka sendiri. Bukan saya yang suruh,” ucapnya sambil tersenyum. “Karena ketertarikan dan kesadaran bahwa internet berguna untuk mereka,” sambungnya.

Banyak manfaat dari adanya Kampung Cyber . Menurut Koko, selain manfaat untuknya pribadi yang membutuhkan internet dalam pekerjaan, untuk warga juga memiliki  banyak manfaat. Warga lebih cepat mendapatkan informasi, lebih banyak refrensi  untuk perkembangan warga, juga untuk menggali potensi Usaha Kecil Menengah (UKM). “UKM disini kan banyak. Jadi dengan adanya jaringan internet serta komputer warga bisa menggunakannya untuk berbisnis, atau promosi bisnisnya.”

Merupakan sebuah kepuasan tersendiri, ide dan gagasan yang ia miliki bisa terealisasi bahkan melebihi apa yang ia bayangkan. “Dulu bayangan saya Kampung Cyber atau gagasan saya hanya sederhana, pengennya tuh ya sekampung bisa terkoneksi internet saja, supaya dalam komunikasi cepet, efektif, ketika kita ngga bisa ketemu, atau urgent bisa chatting. Cuma kayak gitu, jadi sebenernya cuma mau berjejaring bersama. Tapi perkembangannya malah bisa sampai seperti sekarang ini,” ucapnya.

“Untuk menjadi seperti sekarang ini, intinya konsisten. Kita kan sudah merasakan naik turunnya seperti apa, kita harus konsisten, suatu saat itu pasti akan ada yang mengapresiasi. Jaga mood warga terus supaya ngga bosen. Awalnya saya ngga bayangin bakal seperti sekarang, punya jaringan yang luas, dan koneksi dengan orang-orang penting,” sambungnya.

“Teknologi itu akan terus berkembang, dan kita harus mengikuti kalau tidak ya akan ketinggalan,” ucapnya menutup pembicaraan.

Reporter: Wulan

Redaktur: Wulan