267 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Pengemis di Pertigaan

 

di persimpangan ini ia bertalu-talu

menyanyikan irama sendu dan rindu

bertamu pada kekosongan

yang terbangun di jiwanya sendiri

 

menjala lautan, ikan-ikan besi beterbangan

ke sana dan ke mari

matanya terpaksa ditarungkan

dengan asa-asa yang mengapur dan menghambur

 

bengis bukan alasan untuk merintih

ia berpikir

berhenti berjalan berarti mati

 

waktu benar-benar memilikinya

sepenuhnya tanpa secuil pun kata tersisa

 

Kompensasi, 7 Mei 2017

 

 

Sajadah

 

alas ampunan ini tak pernah ternaungi awan

tapi sangat bersahabat dengan yang namanya kemungkinan

 

di atasmu, entah sudah berapa kali aku mencoba

mencari-cari kemungkinan

di sela-sela doaku yang menyempil di dalamnya

beberapa kali mataku menjerit

lalu lesap tergerus lubang waktu

yang berpusat di kelembutan tiada tandingnya ini

 

aku kuman kecil

namun dosaku segunung kesalahan

maka tempat paling dapat mendamaikan

di atas sajadah

yang entah sudah berapa juta kali

kucat dengan jiwa hitamku

 

Kompensasi, 7 Mei 2017

 

 

Mukena

 

Mengelebatkan dunia

Di ambang hati yang terbang

Ke sana dan ke sini

Tak karuan arahnya

 

Kompensasi, 12 Mei 2017

 

 

Wajahmu Merambat di Atas Waktu Bersalju

Teruntuk teman-teman Kompensasi

 

datanglah angin pengantar tidur pengganggu kersik ranting

dari balik kaca yang terlukis kesepian

terpantul padaku yang sedang dalam kedukaan

aku adalah logam yang mulai berkarat

namun aku masih tahan terhadap asap

yang merambat menjalar dari lingkungan

ke dalam diriku sendiri.

 

dari mata puisiku, kulihat wajahmu menggantung sejenak

di waktu yang bersalju, lihai berselancar tak kenal perhitungan

sedari awal hingga akhir

yang pernah aku dan kau hiasi api dan hujan

 

kini mata puisiku sedikit bergeser, menatapmu yang mulai bergerak

masih dari balik kaca, kau berjalan merambat pada waktu bersalju

perlahan tapi pasti

kau tinggalkan emisi

detik ini juga sebelum aku menyusun esok hari

rasanya aku ingin enyah

dari kuburan buku yang bisu tapi menyakitkan

 

kau telah pandai berpuisi

di atas deretan bilangan yang mungkin tak pernah kau tahu

 

Kompensasi, 7 Mei 2017

 

 

Cinta Serumit Matematika

 

berdiri di angka-angkamu yang ganjil

tak kuasa menatap semburat tangismu

yang kutimbulkan oleh kerumitan-kerumitan

awam yang ramai menguasai

 

siapakah yang rumit sesungguhnya?

aku menoleh ke kanan dan ke kiri

melihat kekar-kekar angkamu yang tegak tak beraturan

 

memang sedari dulu pun, angka-angka yang kita miliki

tidak pernah bersahabat dengan yang namanya berurutan

 

Kompensasi, 7 Mei 2017

 

Risen Dhawuh Abdullah. Lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra 2015, kelas cerpen. Bergabung di Komunitas Pecinta Sastra Indonesia (KOMPENSASI), yang di bawah pengawasan penyair Jogja, Evi Idawati. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Ilustrasi: http://galeri-nasional.or.id/collections/570-pengemis