285 Pembaca

Lpmarena.com- Seperti tujuan umum dari perpustakaan- perpustakaan umum seluruh Indonesia yang tercangkup dalam pembukaan Undang-Undang 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.  Perpustakaan Kota Jogja mencoba meningkatkan budaya baca masyarakat  melalui program perpustakaan keliling begitu dituturkan oleh Wahyu Hendratmoko selaku Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta. “Masyarakat itu bisa kita tingkatkan minat baca serta pengetahuannya dengan kita memberi layanan-layanan oleh perpustakaan, baik perpustakaan yang mobil maupun  yang setel,” ucapnya.

Dalam memenuhi misi tersebut, Perpustakaan Kota Jogja memberikan program perpustakaan keliling demi memberi pelayanan bagi masyarakat yang tidak mempunyai kesempatan datang ke perpus kota  maupun karena sudah full pengunjung.

Menurut Wahyu, data menunjukan dengan angka kunjungan perpustakaan yang cukup fantastis. Angka kunjungan dalam seharinya bisa mencapai 900 orang per hari. Dengan gedung yang minim, sangat sesak dan sibuk dari jam 8 pagi sampai 12 malam.

“Maka kita melaksanakan konsep layanan yang sifatnya refrensif. Jadi kita balik, reprensif itu yang dulunya orang yang butuh itu yang datang, dibalik justru kamilah yang mendatangi orang yang butuh layanan kami,” jelas Wahyu.

Mengingat salah satu visi dari Kota Jogja adalah menjadikan Kota Jogja sebagai kota pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Inklusif berarti tidak eksklusif, yang artinya semua sama. Masyarakat  yang tidak berkesempatan datang  ke perpustakaan dengan alasan  tidak ada motor atau sibuk bekerja di rumahnya juga tidak punya uang untuk naik bis kota ke perpustakaan, harus  difasilitasi dengan cara didatangi. Agar masyarakat mendapatkan layanan perpustakaan yang sama, juga kesempatan yang sama untuk meningkatkan kecerdasan dan intelektualnya. Begitu ungkap Wahyu.

Wahyu juga menambahkan, adanya perpustakaan keliling juga mendapatkan respons positif dari masyarakat. “Oleh karena itu perpustakaan Kota Jogja dari hari ke hari semakin meningkatkan layanannya. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat tidak bosan. Sehingga masyarakat akan datang lagi demi mendapat jangkauan yang lebih luas,” sambungnya.

Untuk saat ini perpustakaan Kota Jogja menyediakan enam  armada, tiga armada roda empat atau biasa disebut MONIKA (Mobil Internet Perpustakaan Untuk Wilayah Yogyakarta), serta tiga armada roda tiga atau biasa disebut PUSPITA (Perpustakaan Satelit wilayah Yogyakarta). Kedua jenis armada tersebut juga dilengkapi dengan layanan internet gratis. Dengan operasi layanan setiap hari, Senin sampai Minggu. Mulai pukul  09.00 hingga 21.00. Kecuali tanggal merah dan tanggal libur.

Armada MONIKA ketika melayani warga

Poin- poin yang menjadi titik kunjung perpustakaan keliling  ditentukan oleh dua hal. Pertama, dari usulan warga, usulan kelompok masyarakat, usulan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), dan usulan sekolah. Kedua, berdasarkan survei yang dilakukan internal perpustakaan. Hasil kombinasi dua hal tersebut yang menentukan titik kunjung MONIKA dan PUSPITA.

Berdasarkan survei yang dilakukan, perpustakaan keliling menjangkau titik-titik keramaian, seperti pasar, public space, alun-alun, juga Jalan Mangkubumi. “Karena Kota Yogyakarta sepakat memandang dirinya sebagai kota pendidikan yang berkualitas dan inklusif, maka semua atmosfer Kota Yogyakarta itu harus diciptakan dengan tema pendididkan,” ucap Wahyu.

Wahyu juga mengungkapkan perpustakaan keliling  harus hadir untuk publik sebagai branding, juga pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang literasi.

Untuk satu MONIKA  atau  satu PUSPITA, beredar kurang lebih ke 150 titik kunjung dalam sebulan. Dengan dua pustakawan yang melayani dalam satu perpustakaan keliling. Baik yang roda tiga maupun roda empat.

Up to Date dan Inovatif

Bahan pustaka di perpustakaan keliling yang dikelola perpustakaan Kota Jogja tersegmentasi. Ada yang untuk anak-anak, remaja, dan umum. “Kami memiliki segmen-segmen itu di perpustakaan milik kami. Jadi kalau anak-anak mau datang ke perpustakaan keliling ada segmen juga untuk mereka. Mereka pun bisa mengakses internet,” Wahyu menjelaskan.

Armada PUSPITA ketika melayani pengunjung di salah satu sekolah di Kota Jogja

Untuk membuat masyarakat tidak merasa bosan dengan bahan pustaka yang ada, perpustakaan keliling selalu memperbaiki bahan pustaka setiap hari. Sistem yang diterapkan baik motor maupun mobil ada dua macam yaitu layanan fix dan variable. Fix sifatnya tetap, dan variable sifatnya tiap hari diperbarui.

“Kami menggunakan rumusan marketing dimana kalau layanan kami sifatnya dinamis, masyarakat itu pasti akan tertarik dengan  layanan kami. Kalau buku itu-itu terus saja, otomatis masyarakat akan bosan, sehingga ia tidak lagi menggunakan layanan kami,” ungkap Wahyu.

Agar bidang layanan dicintai masyarakat , sedini mungkin menghindari larangan-larangan untuk masyarakat melakukan aktivitas di perpustakaan keliling . Tujuannya untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat. Meningkatkan budaya literasi, budaya senang membaca, senang menulis. Hal tersebut diungkapkan oleh Wahyu.

“Seru sih, apalagi perpus keliling ini kan juga ada di Car Free Day, hari Minggu, di Mangkubumi. Pas lagi kumpul sama temen-temen biasanya juga mampir kesitu. Nggak cuma bisa akses buku aja, tapi juga bisa internetan. Semoga aja awet atau kalau perlu ditambah lagi armadanya. Biar jangkauannya lebih banyak dan luas,” ucap Reni Handayani salah satu pengunjung perpustakaan keliling yang ditemui ARENA, Jum’at (26/5).

“Ketika masyarakat sudah senang, tanpa komando mereka pun akan menuntaskan haus literasi itu dengan cepat datang ke perpustakaan, cari buku, menurut saya kok seperti itu ya. Jadi kita buka kerannya dulu, setelah mereka senang pasti mereka akan menantikan layanan kita,” sambungnya.

Walaupun berdasarkan survei yang dilakukan organisasi Internasional terkait minat baca orang Indonesia, Indonesia masih sangat rendah. Dari seperseribu orang, baru satu orang yang mempunyai minat baca. Namun Wahyu optimis, dengan adanya perpustakaan keliling dan berbagai fasilitas yang ada, selalu inovatif, dan konsisten, budaya baca akan menjadi bagian dari life style masyarakat Kota Yogyakarta.

Reporter: Wulan

Redaktur: Wulan