166 Pembaca

Lpmarena.com –  Oom Pasikom namanya. Memiliki ciri-ciri laki-laki bertopi khas pemain golf dan berjas tambalan. Tokoh ini merupakan tokoh karikatural yang muncul di Harian Kompas kala hari Sabtu. Lewat sosoknyalah, Gerardus Mayela Sudarta menggambarkan ironi, satir, parodi, dan kritik terhadap fakta dan fenomena yang terjadi di Indonesia dari masa ke masa, dari akhir Orde Lama, sepanjang Orde baru, hingaa di tahun 2017 ini mencapai usia Oom Pasikom yang ke-50.

Sebab sumbangsihnya itulah, digelar “Pameran Karikatur 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom” di Bentara Budaya Yogyakarta, Kotabaru, dari tanggal 24-31 Mei 2017. Juga diskusi pameran bertema serupa di tempat yang sama, dengan mendatangkan pembicara wartawan-wartawan senior Kompas: Ashadi Siregar, GP Sindhunata, dan Trias Kuncahyono pada Jumat (26/05).

Ashadi  menjelaskan, pesan karikatur menggambarkan realitas spesifik yang melibatkan unsur jurnalisme (who, what, when, where). Karikatur memberi sentuhan emosi dan sumber penumbuhan rasionalitas. “Bagaimana realitas sosial ditangkap karikaturis dan dijadikan karya,” katanya. Karikatur Oom Pasikom berinteraksi dengan realitas spesifik tersebut dan membuat pembaca mencari substansi dari gambar yang dihasilkan.

Berbeda dengan Ashadi, Sindhunata mengulang kembali mengenai pengalaman-pengalamannya di Kompas. Saat ia dan GM Sudarta berada dalam satu kantor. Menurut Sindhu, GM Sudarta sering bekerja sendirian. Orangnya pendiam, kaku, apa adanya, tapi menghasilkan banyak karya yang humoris, karikaturis. “Sore kalau kumpul, Mas GM asyik menggambar di ruanganya. Dia sering baca banyak koran, tapi jarang ngomong sama kami,” kenangnya.

Sindhunata menilai laku itu lebih kepada pergulatan pribadi GM yang orisinil. Baginya, karikaturis yang baik tak hanya menguasai jurnalisme, tapi juga seni. Ini GM Sudarta tunjukkan melalui Oom Pasikom, ia begitu pas dalam menggambarkan seorang figur tertentu. “Ini kehebatan GM Sudarta yang perlu kita pelajari.  Tak hanya latihan saja, tapi juga ekspresi yang pas.”

Trias lebih menekankan pada proses lahirnya karikatur Oom Pasikom. Trias dan GM Sudarta sering berbincang dan diskusi bersama terkait masalah aktual hari ini. Meski sudah tak muda lagi, di umur GM yang saat ini menginjak 71 tahun, GM sangat aktif bertanya pada yang lebih muda. “Yang muda tak serendah hati GM. Sudah 50 tahun ikut Kompas. GM buat sensor pada dirinya sendiri,” ujar Trias.

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan GM pada Trias seperti: “Mas, yang rame apa? Isune nopo nggih? Mas, wonten ide nopo nggih?” atau mengajak diskusi Trias “Mas, kula kathah ide” dan mereka melakukan diskusi. Setelah diskusi, GM membuat karya karikaturnya dan kebanyakan hasilnya membuat Trias terkejut. “Ketika muncul, jauh dari gambaran saya. Mas GM selalu buat kejutan.”

GM Sudarta sendiri pernah mengajar di Jepang terkait karikatur. Namun, murid-muridnya di sana lebih memilih manga, dan menurut data dari Sindhunata yang menjadi karikaturis hanya tiga. GM pernah mengatakan, ketika di sebuah negara demokrasi sudah berjalan, orang tidak membutuhkan karikatur lagi. Yang ini diperkuat oleh pendapat Ashadi tentang kenapa sebuah negara tak ada karikaturnya? Sebab di negara tersebut tidak ada ironi.

Lebih lanjut, di zaman dulu, Sindhunata dan GM Sudarta berada dalam kekuasaan rezim Orde Baru. Masa di mana seorang wartawan dan karikaturis dididik untuk menemukan bahasa jurnalistik dan karikatur yang pas. Mereka bekerja dalam tekanan Orba yang luar biasa dan dituntut untuk mengambil celah.

Berbeda dengan zaman sekarang yang menurut Sindhunata, manusia hidup dalam iklim ketakutan yang apa-apa bisa salah. Bahasa kebebasan sekarang terlalu banyak, Lalu radikalisme, sara, konflik primordial, dan golongan silent majority jauh lebih menakutkan daripada didatangi tentara pas Orba. Ini menjadi tugas yang tidak mudah bagi seni, bagaimana demokrasi menjamin bahwa kita berani. “Di balik kebebasan, ada ketakutan luar biasa. Lawannya massa, politik, dan ideologi,” ujarnnya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan

Ilustrasi: https://kompas.id/baca/utama/2017/05/09/selamat-berutang-janji-pak