161 Pembaca

Lpmarena.com- Acintyacunyata Speleological Club (ASC) merupakan komunitas yang berdiri sejak tahun 1984 tepatnya Tanggal 1 Januari. Dibentuk pertama kali oleh kumpulan anak-anak SMA yang sama-sama menyukai caving, mereka adalah Ari Wahyu, Iwan Baskoro, Tanjung Satrio, Hari Primadi, Ilyas Nasution, dan Yanto Tanu. Setelah duduk di bangku kuliah, mereka kemudian mendirikan ASC.

Seperti lambang komunitas berupa Kelelawar yang mempunyai filosofi sebagai makhluk yang hidup di goa, ASC  merupakan komunitas Spelelogi atau komunitas yang mempelajari ilmu tentang goa dan lingkungannya.

“Jadi kebanyakan anggotanya adalah penelusur goa, anak-anak ASC itu kebanyakan mainnya di goa sehingga kelelawar digunakan sebagai simbol komunitas yang merepresentasikan komunitas sendiri,” ucap Sya’roni ketua panitia Speleologi Goes to School yang juga merupakan bagian dari ASC.

Untuk saat ini ASC memiliki anggota sebanyak 80 orang, ditambah dengan 20 anggota muda. “Dari 80 anggota dan 20 anggota muda di ASC, yang aktif itu hanya sekitar 10 orang, tetapi  kalau anggota yg tua-tua  itu tiap ada kegiatan mereka  ikut men-suport, mereka datang, soalnya mereka kan ada yang sudah bekerja, mempunyai isteri atau suami, tetapi kalau libur mereka menyempatkan waktu untuk datang ke jogja,” sambungnya.

Sya’roni mengatakan, tidak ada ketentuan calon anggota ASC diwajibkan memiliki basic speleologi. Sehingga tidak sedikit mereka yang mendaftar sebagai anggota merupakan orang-orang yang memulai mempelajari speleologi dari nol. “Saya pun basic-nya kan di Industri. Speleloginya nggak ada hubungannya. Tapi  seiring berjalannya waktu dituntut untuk mengerti dasar-dasar spelelogi. Seperti geologi, geologi praktis. Dituntut untuk tau dan bisa hal itu. Mau nggak mau kan harus mempelajari karena itu adalah ilmu dasarnya,” jelas mahasiswa Teknik Industri UPN tersebut. Selain  itu dengan bimbingan orang-orang terdahulu, menurutnya kendala-kendala yang awalnya terasa sulit menjadi teratasi.

Sya’roni juga mengaku kegiatannya di ASC tidak mengganggu aktivitas kuliahnya, karena kegiatan seperti  ekspedisi dilakukan di hari libur kuliah. Banyak pula hal yang berpengaruh pada dirinya setelah mengikuti ASC, dari caranya berkomunikasi, dan kerja organisasi.

“Sebelumnya saya kan anak rumahan, kerjanya cuma dirumah sepulang kuliah. Setelah ikut ASC saya jadi lebih mengenal luas Indonesia, serta apa yang disebut Karts,” Sya’roni. Begitu juga Adi Guna Prasetyo selaku ketua ASC periode 2016/2017. Ia mengaku mendapatkan ilmu dan petualangan yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah.

Kegiatan ASC

Kegiatan ASC meliputi Penyusuran goa, pendataan, dan penelitian terhadap goa untuk kepentingan ilmu pengetahuan, sosial dan masyarakat. “Jadi, untuk membentuk masyarakat khususnya di wilayah Karst, memanfaatkan air untuk kepentingan masyarakat,” ujar Syaroni.

Selain melakukan penelitian terhadap goa, komunitas ini juga melakukan  beberapa penelitian lain seperti penelitian air, arkeologi, geologi, biota, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, ASC  juga membantu masyarakat khususnya di Gunungsewu, Gunungkidul dan daerah lainnya untuk mencari sumber-sumber air bersih. Menjadi konsultan air bersih di Goa Pulo Jajar, serta pendampingan masyarakat untuk pengangkatan air. ASC juga ikut berpartisipasi jadi pengembang sumber air tanah untuk masyarakat.

“Kegiatan ASC ada yang namanya program berkelanjutan, program umum, dan program kerja tiap bidang. Dan pada umumnya tiap kepengurusan sama program kerjanya, hanya saja yang membedakan di program kerja umum. Di kepengurusan baru, saya mencoba membuat beberapa kegiatan baru yang salah satunya Speleology Goes To School,” ungkap Adi. Kegiatan tersebut merupakan pengenalan dan pengembangan ilmu spelelogi kepada siswa-siswa SMA atau sederajat.

ASC adalah komunitas yang terbuka untuk umum maupun mahasiswa di atas 17 tahun. Sistem perekrutan anggota di ASC meliputi beberapa tahap,  pertama adalah diklat, diklat merupakan syarat sebagai anggota. Selanjutnya menuju anggota muda, yang harus mengikuti kurikulum yang ada. “Ada tahap-tahapannya.  Ada- tahap tahap atau ilmu yang harus dipelajari. Setelah itu mengikuti ekspedisi, baru diangkat anggota muda. Kalau anggota penuh, dia harus memilih salah satu ilmu yang harus digeluti. Jadi memilih spesialisasi,” Sya’roni menjelaskan.

Selain pelatihan, diklat, ASC juga memiliki agenda rutin tiap tahun yang disebut ekspedisi. Tujuan dari diadakannya ekspedisi adalah untuk mendata Karst-Karst yang masih kosong. Pelatihan-pelatihan seperti pemetaan, tipografi yang bergerak di bidang speleologi, dan lain-lain. “Ekspedisi mempunyai banyak tujuan, salah satunya pendataan kawasan karst. Jadi nyari goa-goa dan potensi yang lainnya agar melindungi mereka. Karena Karst sendiri kan perlu perlindungan khusus dan rawan terhadap pertambangan dan yang lain. Jadi perlu pendataan, dan mengetahui data-data yang lain” ujar Sya’roni.

Ekspedisi dilakukan di Pulau Kalimantan, Sulawesi,  Sumba, pulau Jawa, dan yang terakhir ASC melakukan ekspedisinya di Halmahera tahun 2016 lalu.

Tidak hanya itu, ASC juga memiliki agenda kegiatan bernama fotografi goa. “Fotografi Goa itu berbeda dengan fotografi biasa. Di dalam gua itu melibatkan atau memanfaatkan cahaya, jadi dengan teknik khusus.  Fotografi Goa memadukan cahaya untuk memunculkan keindahan goanya,” ucap Sya’roni.

Adi selaku ketua yang saat ini masih menjadi mahasiswa Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta mengaku, kendala yang saat ini dihadapi adalah konsekuensi anggota muda ASC dalam menjalankan program kerja dianggap masih kurang maksimal. Mahasiswa Jurusan Geologi ini juga mengatakan hal tersebut dikarenakan sebagian anggota muda ASC adalah mahasiswa yang tidak bisa dituntut untuk terus bekerja menjalankan program kerja pengurus.

“Dalam kegiatannya, kendala ASC sendiri itu di dana, karena ASC merupakan organisasi independen dan non-provit jadi tidak ada penyokong dana pasti. Dana sendiri biasanya dapat dari iuran anggota, biasanya kalau ada pekerjaan-pekerjaan dari pemerintah atau swasta untuk membantu, nah itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional sehari hari,” ucap Sya’roni.  “Pekerjaan dari pemerintah atau swasta itu biasanya jadi pendamping atau konsultan. Kalau kegiatan ekspedisi biasanya pendanaan dari sponsor-sponsor, dari swasta ataupun dari pemerintah,” sambungnya.

Sya’roni berharap untuk kedepannya ASC mampu menyebarkan ilmu speleologi seluas-luasnya. Mempopulerkan ilmu speleologi, karena untuk saat ini ilmu speleologi  khususnya di Indonesia masih menjadi ilmu minoritas berbeda dengan di luar negeri, sehingga kedepannya dapat dimanfaatkan lebih besar lagi. “Never Stop exploring!” Adi menutup wawancara dengan ARENA.

Reporter: Wulan

Redaktur: Wulan

Foto: http://asc.or.id/asc-jogja/galeri/