232 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Kamis (1/6), kelompok masyarakat yang mengatasnamakan dirinya “Aliansi Masyarakat Peduli Kebhinekaan” memperingati Hari Pancasila di depan Poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bertepatan dengan Bulan Ramadhan, Peringatan tersebut dibarengi dengan buka puasa kebangsaan yang mengangkat tema “Pancasila adalah Kita”, menghadirkan peserta dari berbagai lintas agama.

Acara tersebut merupakan respon dari kasus intoleransi yang banyak berkembang di masyarakat. Maka kegiatan ini menjadi upaya mengingatkan, sekaligus merefleksikan nilai-nilai Pancasila sebagai kesepakatan bersama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Orang-orang hari ini sedikit-sedikit bicara agama dan etnis,” tutur Agnes Dwi Rusjiyati, selaku penanggung jawab acara.

Perempuan yang aktif di Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) ini juga menuturkan, pemuda hari ini rentan menjadi sasaran maupun pelaku radikalisme. Hal itu dapat dilihat melalui aktivitas mereka di media sosial yang notabene banyak digunakan pemuda. “Di media sosial nyaris isinya sampah-sampah yang penuh dengan kebencian,” sambung Agnes.

Maka perlunya menggerakan pemuda agar memiliki kesadaran terkait tanggung jawab terhadap keutuhan bangsa. Kesadaran itu akan muncul apabila ruang-ruang komunikasi antar golongan sering diadakan. Selama ini ruang-ruang terbuka yang mempertemukan kelompok yang berbeda masih minim. Padahal ruang tersebut menjadi wadah bertukar pikiran, saling mengenal dan memahami.

Bagi Yulius Radian Galih Hastanto, dari rentetan acara tersebut yang paling berkesan ialah saat dia membacakan doa mewakili agama Katolik. Saat itu ia bersama teman-teman lainnya menjadi penutup sebelum adzan magrib berkumandang dan menyantap hidangan buka puasa. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengaku tidak ada perasaan gerogi dan khawatir. Meskipun acara tersebut diadakan di UIN yang notabene sebagai kampus yang berbasis Islam. “Aku sudah beberapa kali menghadiri buka bersama, namun acara ini yang paling istimewa, yang Pancasila, yang mampu menyatukan keberagaman,” tutur Yulius.

Alissa Wahid salah satu putri mantan orang nomor satu di Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang juga hadir pada acara tersebut mengingatkan, agar peringatan Hari  Pancasila tidak hanya menjadi acara seremonial. Tugas yang terpenting yaitu bagaimana Pancasila menjadi hidup sebagai karakter berbangsa dan bernegara. “Apakah kita siap menghidupi itu?” tanyanya.

Mengutip kata-kata gusdur Alissa menjelaskan peran mahasiswa sebagai salah satu kaum intelektual harus menjadi jembatan antara kondisi rakyat saat ini, dengan kondisi rakyat yang dicita-citakan.

Reporter: Muzaeni

Redaktur: Wulan