464 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: M. Wildan Sidqi Purwanto*

Seakan tidak berujung, pembangunan pabrik dan infrastruktur ‘negara’ yang mengorbankan kelestarian alam ternyata tidak hanya berhenti menyakiti bumi Kendeng, Rembang. Gunung Slamet, sebagai ikon daerah komunal ‘Banyumasan’, dimana saya beserta sanak keluarga dan teman sejawat lahir dan dibesarkan, kini mendapat giliran merasakan dikebiri ekosistem dan kelestariannya.

Gunung Slamet yang sejak lama sudah menghidupi masyarakat daerah ujung barat Jawa Tengah ini telah dijadikan sebagai ‘the sexiest biodiversity place’ bagi warga sekitar, kalangan akademisi, juga para pecinta alam. Menjadi laboratorium alam dengan panoramanya yang aduhai, ekosistem hewan dan tumbuhannya yang kaya, serta hutan hujannya yang ‘semoga’ masih dapat dinikmati anak-cucu kita kelak.

Seperti yang dilansir situs Mongabay.co.id, ahli geologi dari Pusat Survei Geologi, Prof. Sutikno Bronto, mengungkapkan bahwa Gunung Slamet sebagai gunung api aktif mengandung sumber daya melimpah untuk mendukung kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, termasuk potensi sumber daya geotermalnya. Namun tiba-tiba sebuah megaproyek dari korporat kapital, PT.Sejahtera Alam Energy (PT. SAE) datang. Akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). Seolah tanpa dosa. Hal tersebut jelas akan mengebiri dan mengeksploitasi kelestarian alam Gunung Slamet.

Pembukaan lahan sementara seluas 7000 hektar saja terbukti mulai mempengaruhi kualitas air sungai yang keruh di beberapa kawasan selatan lereng Gunung Slamet sejak Desember 2016 lalu, seperti di Kecamatan Cilongok, Ajibarang, Karanglewas, dan Banyumas. Dimana warga sekitar hidup dan terhidupi selama beratus-ratus tahun dari sungai yang berhulu di gunung setinggi 3.428 mdpl itu.

Air keruh yang merupakan dampak dari pembukaan lahan pun sangat berpengaruh terhadap roda perekonomian warga sekitar. Warga sangat merasakan dampaknya. Apalagi air merupakan kebutuhan primer dan sesuatu yang paling krusial bagi warga. Untuk berproduksi maupun kebutuhan lainnya. Beberapa dampak yang dirasakan beberapa diantaranya; peningkatan kematian ayam ternak, sulitnya pemijahan ikan dewa, serta kurangnya pasokan air bersih untuk kebutuhan primer warga seperti konsumsi dan lain sebagainya. Akibatnya mereka terpaksa mendapatkan air dari sumur, padahal sebelumnya didapat secara cuma-cuma dari sungai.

Megaproyek PLTPB juga memakan 90% lahan hutan lindung. Dimana hutan lindung tersebut berfungsi untuk memelihara tutupan vegetasi, menjaga stabilitas tanah, dan sebagai daerah resapan air sekaligus pemasok air ke dalam sistem reservoir. Hal ini tentu akan mengancam sedikitnya lima kabupaten sekitar (Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang) yang terhidupi dari sumber air Gunung Slamet.

Seperti dilansir kbr.id, Bupati Banyumas, Ahmad Husein, telah meminta PT. SAE agar membangun instalasi berupa ponds (kolam sedimen untuk mengendapkan lumpur), dam atau bendungan, serta manajemen pengerjaannya, guna menanggulangi makin parahnya dampak lumpur yang mencemari sungai. Namun seberapa efektifkah pembangunan instalasi tersebut?

Menimbang secara ekologis, hal tersebut rupanya akan menjadi bom waktu yang justru semakin merugikan masyarakat.

Instalasi ponds dan dam akan dibangun secara remanen, yang berarti akan melapuk seiring berjalannya waktu. Bahkan pelapukan akan lebih cepat terjadi karena air akan begitu mudah melarutkan material. Jika kemudian instalasi tersebut lapuk, rusak, dan tak bisa berfungsi kembali, maka sudah pasti pemukiman warga bakal ‘dihantui’ dengan banjir bandang yang tidak pernah kita tahu kapan ia akan datang. Anehnya, metode biofilter dengan melibatkan beberapa spesies tumbuhan berjenjang yang jelas-jelas lebih efektif dalam mereduksi kandungan material dalam air tidak digunakan karena dianggap terlampau ‘mahal’.

Aspek ekologis serta ekosistem Gunung Slamet memang menjadi aspek yang mau tidak mau bakal terkebiri dengan megaproyek tersebut. Gunung Slamet memiliki sebaran vertikal spesies tumbuhan, mulai dari tipe ekosistem dataran tinggi hingga sub-alpen. Mulai dari ketinggian + 1000-2000 mdpl tercatat 39 genera terdiri atas 51 spesies. Pada ketinggian + 2000-3000 mdpl tercatat 31 genera terdiri atas 35 spesies, dan ketinggan + 3000 mdpl tercatat 3 genera terdiri atas 3 spesies. Gunung Slamet dianggap sebagai habitat spesies tumbuhan pegunungan sejati terakhir di Pulau Jawa. Juga dijumpai tiga spesies flora langka pada ketinggan >1000 mdpl, yaitu Pimpinella pruatjan, Scutellaria javanica, dan Bulbophyllum truncatum (anggrek epifit).

Tingginya angka diversitas flora tersebut sangat berpengaruh pada fauna di kawasan Gunung Slamet. Terdapat sedikitnya 21 spesies reptil, 14 spesies amfibi, 28 spesies ikan, dan 31 spesies mamalia, di antaranya seperti bajing (Callosciurus nigrovittatus), jelarang (Ratufa bicolor), kelelawar pemakan buah (Aethalops alecto), dan musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) serta beratus-ratus makhluk hidup lainnya menjadikan Gunung Slamet sebagai rumahnya.

Keberlangsungan ekosistem flora dan fauna tersebut merupakan kunci utama untuk menjaga dan memulihkan situasi vegetasi dan ekologi Gunung Slamet. Bagaimana jadinya jika pembukaan lahan akan diperluas? Bagaimana nasib ratusan spesies tersebut? Akankah anak-cucu kita kelak dapat menikmati keindahan hayatinya walau secuil? Ironisnya, megaproyek sebesar 7 triliun ini hanya diwajibkan memenuhi dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) saja, yang cukup setara dengan perijinan usaha bengkel di pinggir jalan, dan belum mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) oleh Kementrian Kehutanan dan tidak menjunjung tinggi kaidah-kaidah konservasi.

Akankah kita hanya duduk diam termangu sementara alam Gunung Slamet yang menjadi sumber kehidupan manusia, flora, dan fauna dikebiri oleh korporat kapital sialan itu? Menjaga alam tetap lestari dan bumi yang hijau adalah harga mati di atas semua kepentingan korporat kapital yang memberangus. Salam lestari, selamatkan Gunung Slamet yang tak lagi selamat![]

* Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Foto: http://www.catatanhariankeong.com/