328 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ibnu Arsib Ritonga*

Tidak dapat dibayangkan betapa hampanya dunia ini tanpa adanya budaya menulis. Betapa menyesalnya kita diciptkan jika tidak diberikan kelebihan ini: menulis, dibanding makhluk Tuhan yang lainnya. Betapa berdosanya Adam as dan anak-cucunya jikalau tidak menulis. Tidak akan ada peradaban manusia jika tidak ada aktivitas menulis. Coba saja periksa sejarah perjalanan kehidupan umat manusia sepanjang masa.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada yang lebih kekal kecuali budaya menulis. Kejayaan peradaban secara sejarah dan geografis bisa terjadi di mana-mana. Dapat berganti-ganti. Kadang peradaban besar muncul dari Timur, kemudian muncul dari Barat. Kadang peradaban itu lahir dari orang-orang hebat, bangsa-bangsa yang kuat. Dari anak keturunan Dewa, dari orang-orang pilihan Tuhan dan macam lainnya. Tetap menulis adalah milik semua manusia. Baik yang lemah maupun yang kuat. Baik yang kaya maupun yang miskin. Baik orang kota maupun orang desa.

Kita tidak bisa mengetahui Tuhan menciptakan jagat raya ini. Kita tidak bisa mengetahui, bagaimana adanya manusia pertama, Adam as atau adanya manusia dari evolusi seperti yang diyakini Charles Darwin dan pengikutnya. Kita tidak bisa mengetahui sejarah peradaban manusia sepanjang masa hingga abad-21 saat ini. Tanpa kita membaca tulisannya, tanpa ada yang menuliskannya kita tidak akan tahu itu semua.

Baik tulisan itu dahulu disimbolkan dengan sesuatu benda ataupun lewat huruf-huruf yang menjadi konsensus manusia setempat. Tidak ada yang bisa mengklaim teori mana yang paling benar tentang sejak kapan manusia mengenal atau membuat tulisan.  Baik masa pra-sejarah dan masa sejarah itu hanya konsensus atau kesepakatan beberapa sejarahwan. Yang jelas, kedua teori itu hanya bagian daripada kehidupan manusia.

Tentunya pada masa-masa itu sudah ada budaya menulis. Walaupun bukan dengan huruf yang menurut kita modern seperti saat ini. Buktinya adalah berbeda daerah dan bangsa berbeda pula simbol huruf yang disepakati, walaupun ada pula yang sama. Jelasnya, tulisan itu bisa menggambarkan sesuatu dan dimengerti oleh yang memerlukannya. Dimengerti oleh yang mempelajarinya.

Menulis adalah bagian daripada kehidupan manusia. Dengan menulis, manusia bisa merekam masa silam dan merencanakan sesuatu untuk masa yang akan datang. Kemajuan manusia tidak bisa dipungkiri terjadi juga karena adanya rekaman (baca: tulisan) yang bisa “dipetik” pelajarannya, bisa diambil nilai dan manfaatnya. Kehancuran dan penghancuran pun dapat dilakukan lewat tulisan. Misalnya menyimpangkan sejarah lewat tulisan, membuat manusia salah paham, saling membunuh dan banyak dampak negatif lainnya yang barangkali akan terjadi. Tulisan sifatnya “tergantung”, tergantung siapa dan untuk apa seseorang menulis. Kemajuan di segala ilmu pengetahuan pun tidak lepas dari budaya tulis-menulis. Sebuah kata-kata bijak pun mengatakan: “Menulis adalah bagian daripada perlawanan dan perjuangan”. Saya tentu setuju dengan kata-kata bijak tersebut.

Monyet, Panda, Kuda, Ikan dan hewan-hewan kecil akan mengalami kemajuan peradaban jika mereka bisa menulis. Dan terbukti mereka tidak mempunyai peradaban, karena mereka tidak bisa menulis. Betapa tertinggalnya manusia apabila tidak bisa menulis. Hal ini atau kelebihan ini diberikan Tuhan kepada manusia karena sayangnya Dia kepada manusia. Dia memberikan hati dan akal supaya bisa menuliskan sesuatu. Supaya dapat mengerti dan dipahami. Bahkan dengan menulis, firman-firmannya pun dituliskan supaya seluruh umat manusia yang mempunyai keterbatasan bisa membaca, mempelajarinya, memahaminya dan mengaplikasikannya.

Budaya Menulis Masa Kini

Tinjauan historis yang saya sebutkan di atas adalah bagian terkecil bukti-bukti betapa pentingnya tulis-menulis. Telah banyak tokoh-tokoh menjelaskan tentang pentingnya menulis. Seperti Al-Ghazali pernah berkata: “Karena kamu bukan anak raja, maka menulislah”. Saya tidak akan  membahas bagaimana teori-teori dalam tulis-menulis. Biarlah hal tersebut pembaca dapatkan dilain tempat dan dilain waktu. Tulisan ini hanya bermaksud memotivasi kita untuk menguatkan bahwa budaya menulis bagian dari kehidupan kita. Menulis memang sudah menjadi naluri alamiah-Sunnatullah bagi manusia. Baik itu tulisan yang bersifat akademik (ilmiah) maupun non-akademik.

Banyak orang mengatakan di dunia yang pragmatis dan praktis saat ini manusia telah berkurang drastis intensitasnya untuk menulis. Saya katakan secara tegas: pendapat itu keliru dan salah besar. Data-data yang dipaparkan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Data-data tersebut sifatnya berdasarkan klasifikasi jenis tulisan. Sering yang masuk data itu tulisan yang bersifat akademik. Padahala masih ada budaya menulis yang bukan hanya bersifat akademik-ilmiah. Saya yakin sekali di dunia ini, seluruh manusia sudah menulis-asal dia sudah berakal dan mengenal huruf. Sekali lagi saya katakan: menulis adalah naluri-komunikatif menusia lewat simbol. Manusia tidak akan menulis apabila dia tidak berakal lagi dan tidak hidup lagi. Tapi tulisan akan menemaninya, di atas kuburannya: batu nisan yang terukir dengan simbol huruf.

Masyarakat kita: rakyat Indonesia, sering disebut-sebut memiliki ketertarikan untuk menulis yang sangat minim. Saya katakan: tuduhan itu tidak tepat dan salah sasaran. Di zaman yang modern ini, yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, intensitas masyarakat kita untuk menulis meningkat drastis. Selagi dia mengenal silmbol huruf, dia akan menulis.

Setiap harinya, rata-rata dan saya yakin masyarakat Indonesia khususnya pemuda-pemuda, menulis lebih dari seribu kata perhari. Apalagi dia memiliki akun media sosial. Yang ditulis barangkali percakapan sehari-hari, namun hal tersebut sudah masuk bagian dari menulis. Tulisan non-akademik atau sifatnya tidak ilmiah. Saudagar-saudagar sering menulis pemasukan dan pengeluaran setiap harinya. Pegawai kantoran apalagi. Jurnalis dan atau Wartawan jangan ditanya lagi. Petani juga menulis walau tidak seintens tokenya atau juragan tanah. Tukang Becak pun menulis: mengisi TTS (Teka-Teki Silang). Seluruh lapisan masyarakat mayoritas pasti menulis. Terlepas ilmiah atau tidak. Apalagi dosen atau para akademisi, kalau dia tidak menulis, buang saja mereka ke hutan atau ke Taman Margasatwa.

Nah, tinggal bagaimana aktivitas menulis kita. Untuk apa kita menulis? Untuk perbaikan atau menghancurkan. Untuk menzalimi, menindas atau untuk memperbaiki. Menulis untuk ekploitasi manusia atau untuk keadilan dan kesejahteraan manusia? Apakah untuk kepuasan hedonis-kapitalistik atau untuk menyampaikan nilai-nilai moralis, nilai-nilai yang baik dan nilai-nilai ketuhanan.

Menulis adalah bagian dari kehidupan saya, hal tersebutlah yang selama ini memotivasi saya untuk terus menulis. Dalam keadaan tidak suka (sedih), saya menulis. Dalam keadaan suka (senang) apalagi. Bagi yang tidak suka dengan apa yang saya tulis, terserah bagaimana mereka menanggapinya. Kalau timbul unsur tidak suka (benci), cukuplah membenci tulisan saya. Mohon jangan membenci saya. Bagi yang menyukai tulisan saya, terserah mereka pula bagaimana cara mereka menikmatnya. Tapi, saya memohon, nikmatilah tulisan saya. Jangan nikmati tubuh saya, karena sudah ada yang diciptakan Tuhan khusus untuk itu. Karena menulis telah menjadi bagian dari hidup saya, saya pun harus terus menunaikannya. Sesegera mungkin. Dimanapun dan kapanpun.

Setiap orang pastinya ada yang sama dan ada pula yang berbeda motivasinya untuk menulis. Kalau tidak mau disebut seperti hewan atau sejenisnya. Kalau tidak mau ditempatkan di Taman Margasatwa (Kebun Binatang), maka menulislah. Allazi ‘Allama bilqolam.[]

*Penulis merupakan Mahasiswa UISU Medan

Foto: blog.ruangguru.com