255 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Ketika Indonesia sangat berisik dengan fakta-fakta seputar isu identitas, radikalisme, dan keagamaan, pentas taeter berjudul Insiden Mencuci Bau Kencur muncul dengan kesejukan. Pentas tersebut menggali narasi lain tentang kehidupan dan kegaduhan kontemporer manusia saat ini. Terutama mengenai ibadah, agama, penghambaan pada seseorang/isme tertentu, hingga pola komunikasi.

Ya, malam itu, Minggu, 18 Juni 2017, di Beringin Soekarno Universitas Sanata Dharma, pentas dimulai dengan mukadimah dari seorang Habib Syekh Ceng Romli yang berpakaian layaknya pangeran dari Arab yang beberapa bulan lalu datang ke Indonesia. Ia menceracau tentang banyak hal. Dari narasi kapital tentang manusia-manusia kafir (eh, kasir), Islam transnasional, hingga teater adalah hak segala bangsa. Ia kemas hal-hal yang berat menjadi sesuatu yang lucu. Gayanya serupa Aa Gym pula yang mengajak para jamaah teaternya untuk mengikuti kata-katanya.

Saya berprasangka, Ceng Romli mewakili kelas Brahmananya orang Indonesia. Para ustad, dosen, para cerdik cendikia yang menjual ayat dan ilmu pengetahuan mereka untuk mempengaruhi pendengarnya secara halus. Yang itu dimaksudkan untuk berbagai kepentingan: penghambaan ayat dan pengetahuan baru, popularitas, dan upaya-upaya peninaboboan massal ketika semua yang dikatakan dan diproduksi oleh mereka sekedar di-iya-iya-kan.

Dampaknya terlihat pada adegan selanjutnya. Musik serupa disko menandai kemunculan aktor-aktor baru. Mereka masuk dengan motivasi antara jelas dan tidak jelas. Ada aktor yang sedang mencuci pakaian (Muhammad Saleh), ada yang mengibas-ibaskan sarung (Doel Rohim), ada yang menyapu dengan penuh semangat memakai sapu lidi (Ilham Asep Nawawi), ada yang lewat sambil membawa pot di pundak (Prasetya Yudha). Aktor-aktor itu wira wiri membuat kekacauan di panggung. Saling terhubung, sekaligus tak saling terhubung. Mari kita hubungkan saja keottoherenan ini.

Dilihat dari judulnya, ada empat diksi kunci yang dipakai: insiden, mencuci, bau, dan kencur, tapi bau kencur menjadi satu frasa tersendiri yang memiliki pengertian masih kecil, sepele, belum berpengalaman, atau pupuk bawang. Semacam dalam kalimat, “eh, tuh anak masih bau kencur”. Kalau dilekatkan dengan subjek ‘insiden’ dan predikat ‘mencuci’, mungkin akan berarti pentas yang sedang membersihkan hal yang sepele. Atau diagnosa saya, sebenarnya adegan kunci itu ada di aktor yang sedang mencuci baju. Dan, ah, shit, saya tertipu, ternyata yang dicuci bukan kencur, tapi pakaian. Simbol apa kira-kira pakaian itu? Tak salah lagi, identitas! Mencuci idenititas!

Pakaian menunjukkan posisi kelas seseorang. Itu terwakilkan oleh aktor-aktor yang tampil, dari kalangan proletar hingga borjuis ada. Kesenjangan-kesenjangan antar kelas terlihat ketika di babak awal, mereka tak saling menjalin komunikasi. Ada jembatan yang menghubungkan, semisal dengan kemunculan aktor lainnya (Harik). Ia berpakaian tank top hitam, berbandana merah, berambut panjang keriting seumpama Santo datang ke panggung. Harik bersama Prasetya memasang banner foto besar bergambar Habib Syekh Ceng Romli yang sedang berpose layaknya seorang putri duyung menunggu anak buahnya.

Foto tersebut dibentangkan dan mendapatkan sorotan warna yang apik dari peñata cahaya. Kerlap-kerlap seperti poster-poster para idola di TV. Foto tersebut menjadi tidak wajar ketika para aktor melakukan ritus penyembahan pada sosok Bung Besar yang ada di foto itu. Sebuah fanatisme buta ditunjukkan. Melihat fenomena sekarang, pemberhalaan seperti itu kian marak. Tak hanya menjangkiti ABG yang cinta mati sama artis-artis Korea, tapi juga para pemeluk agama pada ustad-ustad mereka, habib-habib mereka, dan meninggalkan “Tuhan” itu sendiri.

Namun, di antara manusia-manusia yang dijangkiti fanatisme, tetap ada dari sebagian kecil orang yang sadar. Usai Saleh mencuci baju berwarna putihnya, baju itu lalu diperas dan dikenakan ke tubuh Harik yang sedang diam di depan foto Ceng Romli. Mungkin maksudnya, Harik menjadi bagian orang yang sadar dan tidak terbawa arus. Meski pada akhirnya orang-orang memusuhinya. Aktor lain pada menggebuki Harik dengan botol air mineral, tapi Harik cuma diam. Kosong menatap jauh di luar penonton.

Adapula adegan Harik berlari-lari kecil mengibarkan bendera warna putih. Di Jogja, bendera putih merupakan simbol lelayu. Dikibarkan ketika ada duka kematian. Dalam konteks pentas ini, sepertinya bukan kematian raga yang dimaksud, tapi kematian akal sehat akan fanatisme-fanatisme yang ada. Juga adegan diinjak-injaknya simbol love di atas seng, sebagai kematian hati (perasaan).

Di adegan lainnya, Saleh dan Pras saling membawa kursi. Mereka beradu cakap tanpa kata lewat mata dan tangan mereka. Aktor lainnya pun saling bertengkar dengan diri sendiri dan sesama aktor lainnya. Hingga di puncak pertengkaran itu, mereka saling diam dan berpelukan.

Adegan pelukan bukan tanpa sebab. Adegan pelukan diberi porsi pengulangan yang intens, baik berpelukan sesama aktor, ataupun mencoba mengajak penonton untuk berpelukan. Adegan pelukan mencoba menerangkan mengenai konsep kecintaan manusia masih terbatas pada satu kelompok ideologi tertentu. Hal tersebut diungkapkan oleh Ridho Ridho Ilahi, yang bertindak sebagai sutradara dan khusyuk menggeluti seni pertunjukkan khususnya teater ini saat diskusi karya.

“Aku temenan sama dia, aku cinta sama dia, karena kita satu kelompok. Bagaimana kalau diblejeti bareng. Kita sama-sama manusia. Gak ada mereka, gak ada kami, adanya kita. Kita sama. Ayo jangan riuh, jangan gaduh, santai aja kali,” ujarnya.

Ridho menambahkan, kebenaran memiliki banyak versi. Kebenaran menjadi sesuatu yang keliru ketika cara mengekspresikan kebenaran itu tidak benar dan tidak baik. Contohnya seperti fenomena masyarakat virtual yang diujarkan oleh Rohim. “Sekarang dunia virtual, banyak orang yang mengekspresikan kegelisahan dengan caci-maki yang menggaduhkan. Menurutku yang seperti itu juga omong kosong,” kata Rohim.

Kegaduhan yang Datar Seperti Beckett

Di pementasan ini, semua aktor yang terlibat harus menentukan batas dari banyak batas akan fenomena yang ada. Hingga batas yang dipilih ialah tema mengenai Insiden Mencuci Bau Kencur ini. Semua adegan dalam pentas ini dijembatani oleh seorang narator yang merangkap MC dan sutradara, Shohifur Ridho Ilahi.

Dari awal, Ridho membacakan naskah dari Samuel Beckett yang berjudul Rekaman Terakhir Krapp. Ridho mengambil keterangan dan deskripsi aktor yang ada di buku itu. Meski Ridho menganggap setiap pertunjukkan yang menggunakan naskah dari Beckett sangat datar dan melelakan, tapi itu yang membuat naskah Beckett jadi menarik. Dari ide Beckett itu, seolah-olah Ridho sedang mengatur aktor.

Kedataran Beckett berkorelasi dengan pesan yang ingin disampaikan Ridho pula. Bahwa sebenarnya persoalan yang kita hadapi sehari-hari datar dan regular. Bahkan seperti sudah dijadwal hari ini isunya apa? Besok apa? Meski di hari libur pun juga flat. “Ramainya ramai, tapi gitu terus,” ujar Ridho.

Kisah yang disimbolkan Insiden Mencuci Bau Kencur terhubung dalam kegiatan sehari-hari kita. Pesan besar yang coba saya tangkap ada di kata kunci “mencuci”. Saleh mencuci pakaian berwarna putih. Andai setiap diri laksana pakaian berwarna putih. Jika ia kotor, ia harus dicuci agar bersih. Upaya pembersihan lainnya juga dilakukan oleh Asep yang menyapu-nyapu halaman yang kotor.

Yang menarik pula dari pentas ini, ternyata aktor-aktor yang terlibat tak sepenuhnya memiliki latar belakang teater. Ada yang seorang fotografer (Prasetya) dan jurnalis (Rohim). Ini menjadi upaya yang cukup cerdas dalam menampilan suatu pentas yang partisipatif. Di akhir pentas pun, para aktor diajak untuk menari bersama di panggung. Diiringi lagu-lagu bernada disko, penonton diajak menggoyangkan kaki, pinggul, tangan, kepala, sambil berputar-putar.

Judul Pertunjukkan Insiden Mencuci Bau Kencur │ Produksi Rokateater │ Sutradara Shohifur Ridho Ilahi │ Aktor Ceng Romli, Doel Rohim, Prasetya Yudha, Giarian Harik, Ilham Asep Nawawi, Muhammad Saleh │ Penata Musik Gendra Wisnu Buana │ Penata Cahaya Oong M. Pathor │ Manajer Panggung Kurnia Yaumil Fajar │ Durasi 50 menit │ Tiket 0 Rupiah │ Peresensi Isma Swastiningrum