416 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Eko Nurwahyudin*

Bisa jadi ketika aku menulis tentangmu, semua kejadian akan kulebih-lebihkan. Bukan lantaran aku mengamini cinta yang punya makna itu cuma cinta pertama yang saban hari ditayangkan televisi. Tentang masa dimana dua manusia memainkan peran kehidupan utopis. Masa dua manusia saling mendongkel makna pada rembulan yang sedang purnama, atau gugusan bintang yang melangit, dan sekehendak hatinya memenggal lembayung senja dari rantai waktu yang pasti mendatangkan gulita dan kesunyian. Dan kesemuanya itu yang berbau keindahan berakhir pada gombalan yang merekahkan senyum kecil.

Ya, lakon cinta yang demikian itu cenderung mencabut manusia dari buminya. Kadang aku merasa bijak dengan menertawai diri sendiri yang kadung terbentuk oleh sinema sialan itu : menjadi manusia berakal picik yang kerap menyederhanakan kehidupan.

Selebihnya daripada itu, kesadaranku yang tumpul oleh sinema murahan yang muluk dan alurnya mudah ditebak itu tidak larut kusesali. Aku yang dibebani ketidakpuasan terhadap acara-acara televisi itu, membuat skenario cinta, mainkannya, dan menuntaskannya bersamamu. Skenario dengan latar waktu purba yang belum kompleks sama sekali. Meskipun aku menyadari kita memainkan kisah yang picisan pula. Tidak lebih baik dari sinema sialan di televisi itu.

Kita yang sedikit sadar tentang kualitas murahan lakon cinta kita memutuskan tidak semestinya dinikmati kelas menengah ke bawah. Sebab banyak kisah dari mereka yang justru lebih baik dan lebih hidup dari cerita kita. Tidak pula bermimpi mementaskannya untuk kelas menengah ke atas yang mayoritas elitis itu. Tidak patut ditampilkan! Kita memainkan dan menyelesaikan berdua, tanpa penonton dan saksi.

Kadang di tengah jalannya cerita, kita menjadi ahli siasat yang mengubah alur cerita dengan adanya cuaca yang tak menentu yang berasal dari luar sana.

Mempercepat klimaks sebelum waktunya: ketika bel sekolah nyaring menggertak kita secara paksa, dan pengumuman hasil kelulusan menampar kita keras-keras, kita yang purba gelagapan. Sadar menjadi makhluk asing di tengah kehidupan yang hingar dan kompleks. cinta tidak sama dengan lapar!

Aku juga masih ingat kita menyelesaikan jalannya ending dengan berjalan ke kutub yang berlawanan. Tidak saling menoleh ke belakang sebelum jarak melampaui seratus langkah. Kamu berjalan ke arah matahari terbenam, sementara aku menjauhinya. Dan hukum alam yang menjerat, menjelma menjadi bayang-bayang membuatmu kesal. Kamu selalu dibuntuti bayang-bayang, sementara aku selalu berjalan dibelakang bayang-bayang.

Ah, betapa sering aku diamuk penyesalan. Mengapa di tahun-tahun itu aku putuskan menghilangkan secara sepihak bagian-bagian muluk sinema murahan yang ditayangkan televisi itu! Sehingga terlampau cepat kita memainkan dan menyelesaikan cinta pertama, layaknya membaca cerpen picisan enam lembar.

***

Bisa jadi ketika aku menulis tentangmu, semua kejadian akan kulebih-lebihkan. Bukan lantaran cinta ini yang masih kecewa, yang menjadikanku Qabil dan menjadikanmu Labuda. Tidak! Itu semua dikarenakan jam dinding yang sungguh sial, sekarat di Gedung Serbaguna Desa kampungmu itu. Titi mangsa yang tidak tercatat secara detail itu, pada akhirnya membuat perjumpaan awal, cikal bakal berseminya kasih menjadi sebatas tanggal-tanggal biasa yang tinggal di bulan yang tak semestinya kita ingat. Diakibatkan jam dinding yang sekarat itu!

Hanya saja, aku masih mengingat beberapa kejadian secara terang, meskipun perjumpaan awal denganmu itu telah lima tahun berselang. Aku ingat waktu itu seusai tes kenaikan sabuk kita dihimpun dalam satu ranting berjumlah seratus lebih belasan. Ruang bangunan yang habis termakan oleh tubuh-tubuh kita menjadi sumpek dan tentunya pengap oleh bau keringat.

Kita yang masih menyandang status siswa itu dengan khidmat melaksanakan setiap instruksi kakak pelatih. Tidak ada suara dalam gedung itu selain suara tubuh kita, instruksi kakak pelatih, dan gumam kakak-kakak yang telah menyandang predikat pendekar.

Tiba-tiba suara beberapa sepeda meminta perhatian di tengah suasana khidmat sesi latihan fisik dan merubahnya secara drastis menjadi suasana mencekam seakan seorang algojo hadir di sela-sela barisan kita. Satu rombongan siswa dari rayon lain yang datang telat.

“Rayon mana kalian? Sudah tahu latihan dimulai jam berapa? Sudah jam berapa ini! Baru naik tingkat saja sudah belaga kalian. Pulang saja sana!” suaranya kakak pelatih meninggi. Belum lagi penjelasan keluar dari salah satu mereka, kami diintruksikan untuk kuda-kuda, mengeraskan semua bagian tubuh.

Dua ratus duapuluhan bola mata mencoba gentar. Memandang ke depan dengan dihinggapi cemas. Suasana yang telah hening, menajamkan pendengaran. Meniti langkah kaki algojo yang lalu lalang di sela-sela barisan.

Bruukkkkkkk!! Satu siswa ambruk di baris belakang jauh.

Bruukkkkkkk!! Bruukkkkkkk!! Dua siswa ambruk secara cepat di baris tengah dua dari kanan.

“Kuda-kuda, Dek!” suaranya meninggi. “Kuda-kuda saja tidak becus kalian mau belaga. Apa dari dulu kalian dididik tidak disiplin?” ujarnya. “Punya kuping tidak! Jawab! Apa macam ini didikan pelatih rayon kalian? Mengerti kalian berbudi luhur? Datang telat, petentengan, sudah merasa mampu kalian?”

“Tidak!” ungkap kami serentak.

“Hei kalian! Tahu jam berapa sekarang?” matanya yang tajam membidik dua belas siswa yang masih mematung itu. Telunjuknya yang tegas diarahkan ke lengannya yang telanjang, tanpa sebuah jam tangan menghiasinya.

“Anu Mas, maaf tidak tahu,” ujar salah seorang dari mereka lirih.

“Pakai kalian punya mata itu! Lihat itu jam dinding. Jelas- jelas terpampang di depan sana,” tidak ada jawaban. “Kenapa menunduk! Punya mulut tidak?” terusnya. Kepalanya yang mendidih kesal memacu ketidaksabarannya.

Sebuah jam dinding yang tengah sekarat dengan jarum jam yang masih berdetak di angka yang sama berusaha menghidupkan jenaka bagi seisi gedung. Kewibawaan kakak pelatih terlanjur cuil oleh beberapa tawa kecil spontan beberapa dari kita. Buru-buru ia tutupi dengan dampratan.

“Siapa suruh cengengesan? Gerakan saja tidak becus, kelemak-klemek!” dampratan-dampratan malam itu dan hukuman berlipat-lipat akhirnya menjadi pembuka kisah pertemuan kita selanjutnya.

Betapa kita mencoba berdamai dengan diri sendiri, menerima dampratan dan hukumn itu secara ikhlas sebab kita sadar bahwa sedari awal menjadi siswa kita didik menjadi manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah. Kita juga selalu ditekankan tentang persaudaraan, bahkan hukuman yang diperbuat salah seorang dari kita harus ditanggung bersama. Ya, aku menyadari semua itu benar, agar kami tidak melulu mengedepankan keegoisan dan mengutamakan saling membantu dan mengingatkan. Tetapi pondasi keyakinan bahwa semua dampratan dan hukuman itu harus diterima sebagai coba dan dijalani dengan iklas tetap saja hancur. Kekecewaan terlanjur menghancurkan leburkan keyakinan itu dan menerangkan secara gamblang bahwa betapa bagi orang berilmu kewibawaan menjadi teramat penting daripada sadar akan batas benar dan salah.

***

“Tanpa hujan harus turun, malam dan suara-suara lirih makhluk nokturnal yang saling mengisi teramat kuasa menciptakan sunyi,” kataku di sela-sela sesi istirahat sebelum memasuki sesi materi. “Bahkan tanpa harus ayam jago nglilir dan berkokok, suara perutmu yang keroncongan teramat mampu memberitahu bahwa waktu sudah memasuki titi yoni,” tambahku, memberanikan membuka perkenalan denganmu sembari menawarkan ketela goreng.

“Panggil saja aku Ana. Biasa saja, kok kesannya kata-katamu nyereti kaya ketela gorengmu,” katamu sambil menebar senyum dan menjulurkan tangan.

“Aku boleh minta gula arenmu?” terusku menyambung-nyambung pembicaraan, mengulur waktu memandangi dua biji matamu yang memancarkan binar redup, diambang kantuk.

Jam sekarat yang sekarang benar-benar mati tidak patut mendapat iba dariku. Aku pun melarangmu menorehkan iba untuk jam dinding tak berguna itu yang sudah menjadi penyebab kekesalan. Kita didamprat habis-habisan dan dihukum, lebih kecewa lagi titi mangsa yang rinci pertemuan dan perkenalan denganmu tak tercatat.

***

20 November 2013 pukul 14:23 kali ini tak kubiarkan detik-detik istimewa terulang sirna. Tak tercatat. Tepat di hari ulang tahunmu ini aku menghadiahkanmu kado yang sudah lama kamu inginkan. Sebuah jam tangah warna putih murahan yang kubeli dengan hasil tabunganku di toko pinggir jalan sepanjang alun-alun kotamu.

Aku menunggumu di sepanjang gang samping sekolahmu, dibalut perasaan tak menentu. Cemas-cemas kamu tidak menyukai hadiah murahan ini. Ah, lagipula aku mengerti kamu yang sama berasal dari akar rumput tidak setega itu menolak bahkan mengejek pemberian orang lain yang didapatnya dari keringat sendiri, meskipun murahan.

Pukul 14:35 kau keluar menemuiku, dengan membawa teman-temanmu. Sial, memang. Mengapa harus bersama teman-temanmu yang cerewet itu? Aku yang kikuk tak banyak mengeluarkan kata-kata sedangkan kamu yang dirangsang malu hanya singkat mengutarakan terima kasih. Dan bayangmu di antara para gadis cerewet itu perlahan pergi. Benar-benar hilang di balik tembok berduri karatan sekolahmu.

***

Persetan! Setelah catatan kecil ini jadi, kamu akan menyambutnya atau menampiknya dengan sikap ketidakpedulianmu. Memang tidak ada keistimewaan yang tercatat dengan pasti dan rinci selain pemberian kado di hari ulang tahunmu. Selebihnya cuma lakon dua manusia sebagai pembual yang terlatih secara alami, yang kulebih-lebihkan.

Pada bangku-bangku batu di alun-alun kotamu, terang aku menunggu ketidakmungkinan: kamu sudi menemuiku. Aku mencoba menghubungimu dengan pesan singkat yang terang pula tidak terjawab. Aku merasa canggung, setelah lima tahun berjalan menapak lajur ke-aku-an. Aku urungkan niat menelponmu.

Dua jam lebih rindu mendorongku berkelakuan bodoh. Sampai pada titik jenuh yang hampir menggugurkan niatan memberimu sebuah catatan kecil yang banyak kulebih-lebihkan ini.

Aku beranjak pergi berjalan ke arah kendaraan kuparkirkan. Samar-samar pandangku mendapati salah seorang kawan sekolahmu dulu. Aku bersemangat menyapanya. Cepat-cepat pula ia bergegas menghindar dengan pasangannya.

Aku memburunya dan berhasil menghentikan langkahnya. Pada dua biji matanya tergambar aku yang seorang kurang ajar. Terang, ia menombakku dengan kata-kata tajam. Sedangkan pasangannya yang cepat-cepat mengambil kesimpulan yang salah kira pun menambah beberapa liang luka perasaanku. Baru, ketika kujelaskan duduk perkaranya, dua sejoli yang berapi-api menghabisiku itu mendapati kedewasaannya kembali. Ya, teman sekolahmu sudi membantuku, mengantarkan catatan kecil ini padamu.

***

Dua hari sudah. Tidak ada kabar darinya. Aku naik pitam terejek kotak masuk ponselku yang masih saja kosong, “Brengsek! Berani ia membohongiku,” gerutuku sendiri.

Tak lama, ponselku berdering kencang seperti sirine kendaraan pemadam kebakaran yang memberi harapan matinya amuk si jago merah. Sebuah pesan singkat darimu tegas dan terang menyulut kembali gejolak batin yang hampir padam.

“Tentu kau tahu aku masih memegang teguh wejangan yang kita peroleh di tahun-tahun silam. Cinta kasih ada batasnya. Kau tidak perlu bersusah payah memainkan peran jam dinding sehat yang masih sigap mencatat. Mengabadikan tanggal-tanggal di tahun-tahun yang sudah lewat. Kini seorang lelaki telah memberiku kasih, aku yang dirundung sepi dan masih mengharap kau kembali menjemputku dua tahun lalu, tidak kuasa menolak lelaki yang datang di saat-saat yang aku butuhkan. Oh ya, dan perihal jam tangan yang kau hadiahkan di hari ulang tahunku lima tahun lalu pun sudah benar-benar mati sekarang. Aku akan mengirimnya ke tanah perantauanmu. Maaf, aku memang sengaja membiarkannya mati. Bukankah kau melakukan hal yang sama di tahun-tahun perjumpaan awal kita? Tidak patut menorehkan iba untuk jam sekarat yang tidak berguna menjalankan tugasnya mencatat detik, menit secara tegas. Ingatlah cinta kasih ada batasnya. Biarkan aku memilih menjadi fana, biar kamu tidak lagi berjalan membututi bayangmu sendiri”.

 

Yogyakarta, 10 Juni 2017

Keterangan :

Nglilir : terbangun di malam hari

Titi Yoni : Penyebutan waktu Jawa, berkisar antara pukul 02:00 – 02:59

Nyereti : membuat seret, terasa tidak lancar.

 

*Akrab dipanggil Petruk lahir di Kebumen 11 Januari 1996. Mahasiswa aktif yang menempuh program pendidikan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa. Belum pernah menerbitkan satu buku dan tidak berniat menjadi penulis yang ngartis di media cetak maupun online.

Ilustrasi: http://rahmanrupa.blogspot.co.id/2014/05/memahami-aliran-aliran-dalam-seni-rupa.html