458 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

SIANG 11 Juli 2017, dalam bangunan dengan luas 700 meter persegi, yang memiliki 4 kamar Shinta Ratri  mulai mengenang kembali peristiwa setahun lalu. Ketika Front Jihad Islam (FJI) datang bersama massanya. Mereka menolak adanya waria dengan argumen Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Mereka juga menuntut agar Pondok Pesantren Waria Al- Fatah ditutup.

“Setelah kejadian tersebut, ada trauma yang dialami teman-teman  di  Ponpes waria Al-Fatah. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihan,” ungkap Shinta, yang merupakan ketua ponpes.“Tidak serta merta setelah kejadian tersebut kami bisa berkegiatan rutin,” sambungnya.

Ponpes mengalami vakum selama  empat bulan. Selama empat bulan itu pula, teman- teman waria melakukan trauma healing, konsultasi psikologis, serta melakukan discussion forum  dibantu oleh ahlinya, seperti Dokter Ashanti. Pada Juni 2016, aktivitas dimulai kembali, namun sepi. Teman- teman waria masih merasa takut untuk datang ke ponpes.

Setelah keberanian teman- teman waria  di ponpes pulih, serta perasaaan dan kenyamanannya sudah kembali, akhirnya ponpes bangkit lagi pada Januari 2017. Kawan- kawan waria sudah mulai ramai berkegiatan. Kegiatan ibadah seperti salat berjamaah, mengaji, dilakukan lagi di Ponpes waria Al-Fatah. Dilaksanakan setiap hari Minggu, mulai pukul 16.30 hingga 21.00 WIB.

“Ini kan juga bukan sekolah yang formal, jadi tidak menuntut kawan-kawan waria berada terus disini. Mereka  juga punya pekerjaan dan aktivitasnya sendiri- sendiri,” Shinta yang saat itu tengah memakai jilbab berwarna cream menjelaskan kepada ARENA. Kegiatan di ponpes pun dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama, tambahnya.

Kegiatan diawali dengan mengaji hingga magrib. Membaca Al-Quran bagi yang bisa, sedangkan bagi yang belum bisa, belajar membaca iqro. Setelahnya, kawan- kawan waria salat berjamaah. Setelah salat berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan kelas Pendidikan Agama Islam (PAI). Sesuai dengan kurikulum PAI yang setara dengan kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang disusun oleh Ustadz Zakaria, serta diisi oleh Ustadz Arif Nuh Safri dan Ustadzah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Kita ini juga manusia yang punya hak untuk beribadah. Kebebasan kita juga dijamin pada pasal- pasal di Undang- Undang Dasar. Hak berkumpul, hak berserikat, hak berekspresi, hak mengeluarkan pendapat, dan hak beragama,” ucap Shinta.

Menurut Shinta, waria merupakan ekspresi gender. “Jadi kita mempertahankan hak kita sebagai individu, sebagai manusia. Kalau kita dilarang beribadah, ini sangat lucu, sangat  aneh,” tambahnya.

Menjadi waria juga bukan sebuah pilihan. Ketika seseorang merasa ia seorang waria, ia tidak bisa memilih menjadi laki- laki. “Kami menjadi waria itu bukan pilihan kami. Tahu- tahu kami sudah ditakdirkan. Dan mau tidak mau harus menjalani ini. Ridho tidak ridha harus menjadi waria,” ungkap Shinta. “Saya mau menjadi laki- laki tidak bisa.”

Shinta bersama kawan- kawan waria di Ponpes waria Al- Fatah akan tetap memperjuangkan hak mereka. Menurutnya, apa yang ia dan kawan- kawan lakukan merupakan haknya sebagai manusia. Haknya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Waria juga memiliki hak untuk belajar, beribadah dengan nyaman, merasa aman, sama seperti hak- hak yang didapatkan oleh laki-laki dan perempuan. “Masa ya kita ngaji, salat, mau dibunuh hanya karena kita waria?” Shinta.

***

PAGI 19 Februari 2016, Shinta didatangi intel yang mengaku dari Polsek Banguntapan. Intel itu mengatakan setelah salat Jumat, Pondok Pesantren Waria Al-Fatah akan didatangi ormas. Satu jam berikutnya teman-teman Shinta memberitahu ada broadcast yang mengajak untuk berjihad, untuk menutup pondok.

Didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Shinta melaporkan ancaman tersebut ke Kapolsek. Kapolsek pun memerintahkan jajarannya untuk mengamankan ponpes. Sekitar pukul 12.00 aparat sudah berada di lokasi. Tidak hanya Polsek, pada saat itu datang pula Camat, Komandan Rayon Militer (Danramil), dan wartawan. Tak lama, Front Jihad Islam (FJI) datang bersama massanya. “Mereka berkata mau mengklarifikasi tentang fikih waria, mau tabayun, silaturahmi gitu,” Shinta menceritakan. Pada saat itu tidak terjadi kerusuhan karena ada aparat yang menjaga.

24 Februari 2016, Shinta dipanggil ke kelurahan untuk menghadiri rapat warga. Rapat itu menindaklanjuti kasus Ponpes waria Al-Fatah. Pada saat itu Shinta tidak diperbolehkan mengajak teman-teman dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan LBH untuk mendampingi. Pihak kelurahan mengatakan mereka tidak mengundang FJI, tapi ternyata di situ sudah ada 30 massa FJI, lebih banyak dari massa ketika mendatangi ponpes. Rapat warga di kelurahan tersebut juga dihadiri oleh Camat, Danramil, Kapolsek, RT, RW, Pengurus Muhammadiyah, serta warga.

Dalam pertemuan itu Shinta menjelaskan kepada warga yang hadir tentang apa itu waria. Shinta juga menjelaskan kepada warga bahwa ia lahir dan menua di daerah tersebut. Jadi menurut Shinta, warga semua tahu bagaimana masa kecilnya, hingga ia setua sekarang. “Yang namanya waria itu tidak pernah saya buat-buat. Saya juga tidak pernah melakukan perbuatan kriminal,” begitu Shinta menirukan apa yang sudah ia ucapkan saat rapat.

Saat itu Shinta juga menerangkan tentang fikih waria, yaitu fikih yang berisi tentang kebutuhan teman-teman waria tentang bagaimana kedudukan waria di dalam Islam. “Kita nggak pernah tahu bahwa fikihnya orang difabel, orang yang memakai kursi roda ketika kursi rodanya menginjak kotoran kemudian dia akan solat apakah sah atau tidak solatnya.”

Menurutnya, orang yang bukan difabel tidak pernah berfikir sampai kesana. Hal ini berlaku juga bagi waria, orang selain waria tidak pernah memikirkan bagaimana perawatan jenazahnya, bagaimana busananya, bagaimana ibadahnya.

Shinta mengatakan bahwa pihaknya tidak bermaksud membuat fikih sendiri, mereka mengkaji hal-hal tersebut dibantu oleh akademisi dan ulama. Mereka sadar bagaimana kemampuan agama yang dimiliki sehingga mereka menganggap bagaimana mungkin mereka bisa membuat fikih sendiri.

Setelah Shinta selesai menyampaikan argumennya, FJI angkat bicara, yang pada intinya menolak adanya waria dengan argumen Tuhan hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Dalam forum tersebut, FJI menuntut agar ponpes itu ditutup. Sedangkan dari wakil-wakil kelurahan beserta jajarannya, juga menyatakan hal senada.

***

HUJAN masih mengguyur deras sore itu ketika ARENA mendatangi Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, rabu (23/03). Letaknya berada di gang kecil di daerah Celenan, Jagalan, Kotagede. Dari luar tampak dua buah motor dan sebuah sepeda terparkir di garasi berpintu kayu yang terbuka. Seorang waria yang mengenakan daster putih selutut keluar dari salah satu ruang di rumah tersebut. Waria bernama Nur atau biasa dipanggil Bu Nur itu kemudian mempersilakan ARENA masuk.

Sejarah Pondok Pesantren Waria Al-Fatah berawal ketika gempa tahun 2006 di Yogyakarta. Saat itu, teman-teman waria berkumpul dan mengadakan acara doa bersama untuk teman-teman waria yang menjadi korban. Dalam doa bersama tersebut teman-teman waria mendatangkan seorang Kiai bernama Hamroli. Doa bersama tersebut akhirnya menjadi pengajian rutin yang dilaksanakan setiap Senin Wage.

Dalam pengajian tersebut, Hamroli mengusulkan untuk tidak sekedar mengaji, tapi belajar lebih dalam. “Kenapa kok kalian mengaji aja? Bagaimana kalau kita belajar juga, belajar bersama. Mengkaji, mengkaji apa kedudukan waria dalam Islam itu seperti apa,” begitu Shinta mengulangi apa yang diucapkan oleh Hamroli. Sehingga tahun 2008, teman-teman waria pun membentuk Pondok Pesantren Waria Al-Fatah yang bertempat di Notoyudan, dengan Maryani sebagai ketuanya waktu itu.

Maryani meninggal dunia tahun 2014, sedangkan rumah yang ditempati sebagai ponpes hanya kontrak, maka Shinta yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua menanyakan kepada teman-teman waria akan dilanjutkan atau tidak ponpes tersebut, teman-teman waria sepakat ingin tetap melanjutkan. Kemudian Shinta yang saat itu menjabat juga sebagai ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) menawarkan beberapa tempat yang akan digunakan untuk ponpes, diantaranya adalah Sekertariat Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Sekertariat IWAYO, serta rumah pribadi Shinta. Atas kesepakatan bersama, April tahun 2014 rumah pribadi Shinta digunakan sebagai Ponpes. Ada 42 orang waria dari 223 waria di Yogyakarta yang tergabung di Pondok pesantren waria Al- Fatah. Ada yang bekerja sebagai pelayan toko, pengamen, salon, tukang masak, dan lain-lain.

Shinta menjelaskan bahwa tujuan dari Pondok Pesantren Waria Al-Fatah sendiri adalah memberikan ruang yang nyaman bagi teman-teman waria untuk beribadah dan belajar tentang agama. Karena menurutnya ketika teman-teman waria beribadah di tempat umum akan merasakan ketidaknyamanan.

(Sebuah poster yang tertempel pada salah satu dinding Ponpes Waria Al-Fatah)

“Kita tidak punya angan yang muluk- muluk. Kita hanya memberikan muatan agama terhadap kawan- kawan waria,” ujar Shinta. Menurutnya, dari beberapa kawan- kawan waria yang memproklamirkan kewariaannya, terpaksa meninggalkan keluarganya, karena keluarganya tidak setuju. Di dalam perantauan kawan-kawan waria tersebut, sebagian besar tidak pernah atau jarang tersentuh secara spiritual.  Rohaninya sangat kekeringan. Maka, di Ponpes waria Al- Fatahlah diadakan pemulihan rohani. Pengembalian ke fitrah manusia sebagai umat beragama, juga sebagai makhluk Tuhan. Memahami esensi sebenarnya sebagai makhluk Tuhan, demi menatap masa depan yang lebih cerah.

Adanya ponpes juga memberikan dampak positif terhadap teman-teman waria, menurut Shinta teman-teman waria yang tadinya emosional menjadi lebih tenang, yang tadinya galak menjadi lebih santun. Pondok itu juga mencoba membangun interaksi kekeluargaan sehingga timbul rasa kesetiakawanan.

Banyak aktivitas yang dilakukan di ponpes, selain salat berjamaah, mengaji, dan belajar agama, mereka juga mengadakan kegiatan sosial untuk memperingati hari-hari besar Islam. “Pada dasarnya kita itu punya tiga pilar besar, pertama mendidik teman-teman waria tentang agama islam, kedua mendidik masyarakat supaya mereka paham bagaimana waria, siapa waria, dan yang ketiga mengadvokasi pemerintah supaya pemerintah memberikan hak-hak waria sama seperti hak-hak warga yang lain, hak-hak warga negara Indonesia.”

Ketika ditemui ARENA, Aditia Arief Firmanto, Kepala divisi Sipol LBH Yogyakarta mengatakan, Pondok Pesantren Waria Al-Fatah harus dipertahankan karena ponpes merupakan sarana pembelajaran bagi teman-teman waria yang ingin belajar agama, mencari Tuhannya. Ini sudah dilindungi oleh konstitusi maupun di konvenan sipil dan politik terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi setiap warga negara.

“FJI yang mengatakan ponpes ada miras, jadi tempat karaoke, dan narkoba itu adalah alasan yang mengada-ada dan mencari cari kesalahan saja. Harus dibuktikan dulu apakah ada bukti yang dituduhkan, kalau tidak ada namanya fitnah dan itu melanggar hukum pidana,“ ucap Aditia.

LBH Yogyakarta ikut mengadvokasi Pondok Pesantren Waria Al-Fatah. Beberapa langkah yang sudah dilakukan di antaranya melaporkan kasus ini ke Komnas HAM dan Komnas Perempuan dan itu sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kemudian ke Polsek Banguntapan yang menolak laporan karena adanya ancaman yang dilakukan oleh FJI melalui WhatsApp yang inti dari isi pesan broadcast adalah penolakan dan penyegelan ponpes. Pihak ponpes yang didampingi oleh LBH Yogyakarta juga akan melaporkan Kapolsek Banguntapan karena menolak laporan dari seorang warga negara yang membutuhkan perlindungan dan keadilan hukum ke Polda DIY.

***

SETELAH kedatangan FJI, teman-teman waria menjadi tidak pernah datang ke pondok, mereka takut untuk datang ke pondok sehingga pondok menjadi sepi. Bu Nur yang bekerja sebagai tukang masak yang menerima pesanan makanan, belakangan ini mengaku jadi sepi pesanan. Masyarakat takut kalau pesan di waria dikira mendukung wacana lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT). “Biasanya sehari ada yang pesan makanan, sekarang nggak. Masyarakat jadi takut.”

Shinta mengatakan sampai sekarang, LBH masih ikut mengadvokasi dan mengawal kasus ini, LBH ikut melaporkan kasus ini ke Komnas Perempuan, Kapolri, dan Komnas HAM. “Bahkan dari BPJ mau datang kesini, Bu Ratu itu menjadwalkan kalau tidak datang kesini, kita mau diundang untuk bertemu dengan Bu Ratu untuk sharing hal ini.“

Waria yang masih berada di pondok saat ini ada empat orang, Sementara teman-teman waria lain beribadah di rumahnya masing-masing. Aktivitas pondok hanya berhenti untuk sementara, sebentar lagi kan bulan puasa dan aktivitas pondok akan tetap jalan.

Bagi Shinta, adalah sebuah ketakutan yang tidak masuk akal jika takut kepada FJI. Jika dibalut rasa ketakutan bagaimana bisa bekerja, bisa beraktivitas. Menurut Shinta, FJI tidak punya hak untuk menindasnya dan teman-teman waria yang lain.[]

Reporter: Wulan Dwi Agustina

Redaktur: Wulan