357 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Kutatap sepasang matamu

Tidak ada Soekarno yang geram menantang Amerika dan konco-konconya

Tidak ada Konsensus Washington dan agenda neoliberal bagi negara berkembang

Tidak ada kudeta dengan penerbitan empat UU yang menjadi pintu masuk penjajahan kembali dan genosida enam lima

Tidak ada rezim Otoriter Fasis Orde Baru

Tidak ada Manikebu yang mengering di Utan Kayu

Tidak ada Lekra yang mengerang di Pulau Buru

 

Kutatap lebih dalam matamu

Tidak ada Koperasi yang dipolitisasi

Tidak ada BUMN yang diprivatisasi dan dijadikan alat segelintir elit pemerintah dan investor asing guna memperkaya diri

Tidak ada Mafia Berkeley yang disebar ditiap lembaga pendidikan untuk mencuci otak mahasiswa-mahasiswi jadi kaum elitis

Tidak ada organisasi gerakan yang bobrok-rusak dengan kepentingan politis

Tidak ada praktek-praktek pembentukan intelektual organik yang bermental kompromis

Tidak ada darurat kebebasan literasi yang dipraktekan beberapa perguruan tinggi dengan menskorsing mahasiswanya atas tuduhan menyebarkan faham komunis

Tidak ada cecunguk-cecunguk penjilat di kampus-kampus yang berlindung dibalik ketiak seniornya yang didambakannya sebagai juru selamat

Tidak ada korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjangkiti mahasiswa-mahasiswi baik di dalam organisasi maupundalambirokrasikampus

 

Kutatap jauh ke dalam matamu!

Tidak ada kolam-kolam merkuri bekas pertambangan pasir besi yang di umbar pihak korporasi

Tidak ada percepatan abrasi

Tidak ada korban penembakan atau peluru nyasar Angkatan Darat TNI yang brutal terhadap para petani yang berdemonstrasi

Tidak ada lima bocah yang menjadi korban ledakan martir di wilayah pesisir

Tidak ada rimba yang hancur porak poranda

Tidak ada perang saudara dan rintih duka

Tidak ada anak rimba, anak-anak desa yang terusir dari tanahnya dan tercerabut dari akar budayanya

Tidak ada preman-preman bayaran yang melakukan pengeroyokan dan teror kepada rakyat yang memperjuangkan keadilan

Tidak ada nelayan yang gusar dengan hasil tangkapannya yang sepi akibat proyek reklamasi

Tidak ada para petani yang mati-matian menjaga gunung-gunung suci tetap lestari untuk anak, cucu, cicit, dan keturunannya

Tidak ada para petani yang dikriminalisasi

Tidak ada seorang buruh perempuan yang digampar kasat intel polri

Tidak ada pembubaran paksa demonstrasi para buruh menolak Perwali yang mengancam kebebasan berekspresi

Tidak ada TKI yang menjadi korban penyiksaan dan dihukum mati

Tidak ada kampung-kampung yang hilang akibat tambang

Tidak ada sungai-sungai keruh macam comberan

Tidak ada hotel-hotel yang pongah bersanding sumur-sumur kering

 

Bah!

Kekasihku! pada sepasang matamu aku hanya temukan sebuah taman firdaus di jantung labirin kesunyian

Ruang dimana tak terdengar sedikitpun raung

Sehingga kita tak pernah bosan mengulang-ulang kisah cinta picisan

Membalas rayuan dan hanya bertukar ciuman

 

Mataku, matapisau

Matamu, mata dadu

Mata ibu, diambang mati

 

Yogyakarta, 11 April 2017. 15:08 wib.

Eko Nurwahyudin, Petrulahir di Kebumen 11 Januari 1996. Kader PMII Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ilustrasi: catatankosongblog.files.wordpress.com