273 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com-Senat mahasiswa (Sema) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan audensi di Ruang Rapat Pusat Administrasi Universitas (PAU) lantai 3 pada Rabu siang (19/7). Mempertemukan ketua kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 93 dengan Wakil Rektor (WR) I Bidang Akademik dan Lembaga Penelitian  dan Pengabdian Masyarakat (LP2M). Namun audiens menyayangkan, WR I Sutrisno dan ketua LP2M Al Makin tidak hadir. Pertemuan hanya dihadiri oleh kepala pusat Pengabdian Abdul Mughits, Sekretaris LP2M Syuhada, dan beberapa staf rektorat.

Audiensi tersebut digelar menindaklanjuti aduan dari peserta KKN yang didapatkan Sema saat melakukan public hearing. “Salah satunya adalah ditiadakannya dana stimulan,” ungkap Viki artiando Putra, ketua Sema Universitas yang memoderatori pertemuan tersebut. Forum berlangsung dengan dialogis.

Abdul Mughits menjelaskan, adanya dana stimulan pada KKN terdahulu karena aliran dari Akun Bansos Kementerian Sosial. Namun, akun tersebut diblokir karena ditemukan  banyak penyelewengan anggaran di lapangan. Tahun berikutnya, LP2M melakukan kerjasama dengan Yayasan Dana Mandiri, salah satu yayasan warisan presiden Soeharto. Melalui kerjasama tersebut, mahasiswa KKN bisa mendapatkan dana stimulan dari anggaran pengembangan masyarakat, termasuk mahasiswa,  dengan KKN berbentuk Pos Daya berbasis Masjid. Namun setelah berganti pimpinan, bantuan tersebut tidak lagi bisa dicairkan untuk kegiatan KKN.

“Setelah ada kebijakan pemerintah dihapus itu (akun bansos) pos daya juga dihentikan, ya, kita sudah tidak bisa memberikan dana stimulan,” jelas Mughits.

Anggaran bidang Pengabdian LP2M pada tahun 2017 dari  Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) mencapai 1,2 milyar. Namun pagu untuk KKN  praktis habis untuk operasional, pembekalan, hingga pelaksanaan. “Untuk stimulan itu nggak cukup,” terang Mughits. Namun saat diminta rinciannya, Mughits mengaku lupa dan tidak membawa data yang krusial itu pada pertemuan tersebut.

Ibnu Hibban, perwakilan dari Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas menanyakan pagu BOPTN untuk LP2M di tahun 2017. Namun LP2M, melalui Syuhada tidak bisa menjawab.  “RKKL 2017 belum fiks,” ungkapnya. Dia juga mengatakan bahwa  anggaran BOPTN  2016 dipotong. Selain itu, LP2M berkali-kali menyatakan bahwa pihaknya hanya menerima pagu dari unit di atasnya.

Hingga pertemuan berakhir, audiens yang ARENA wawancarai merasa tidak mendapatkan solusi. Ketidakhadiran WR I, serta ketua LP2M Al Makin, serta tidak adanya WR II yang membidangi keuangan mengakibatkan pertemuan buntu karena hanya diwakili oleh pelaksana yang tidak memiliki wewenang. Bahkan dari pantauan ARENA, ada ketua kelompok yang beberapa kali mengancam akan menarik anggotanya dari lapangan.

Ditemui ARENA di gedung Student Center, Amin Sahri, peserta KKN angkatan 93 yang berlokasi di desa Monggong, kecamatan Soptosari, Gunung Kidul mengaku tidak adanya dana stimulan membuat mahasiswa berpikir sangat keras bagaimana mendapatkan sumber dana lain. Seperti selain iuran, kelompoknya menyebar proposal ke banyak instansi dan perusahaan. “Susahnya sangat terasa,” ungkap Amin.

Menanggapi audiensi tersebut, Amin melihat LP2M seperti tidak punya kekuatan. Hanya mengikuti intruksi struktur di atasnya. Dia memandang  LP2M harus bekerja lebih keras lagi.

“Kayak gampang menyerah mungkin LP2M,” ujarnya. Dia berharap bagaimanapun LP2M bisa mengeluarkan dana stimulan meski tidak besar. Sementara itu pertemuan akan kembali digelar pada Selasa, 25 Juli mendatang.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Wulan