151 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Eko Nurwahyudin*

Sebuah hadiah kemerdekaan untuk kita yang lalai, bahkan abai

Kegilaan itu, mulanya hanya sesuatu seukuran tai kambing menjijikkan. Bentuknya yang bulat, padat, keras, dan berwarna hitam legam menempel di atas tempayan yang baru selesai kubuat. Tak peduli aku mulanya. Tapi, semenjak sepuluh kali panen padi, aku amati kegilaan itu hampir menutupi sepertiga bibir tempayan. Membesar dan terus membesar tiap harinya, sama seperti hasratku memusnahkannya!

Berbagai alat sudah aku pakai guna melenyapkannya, dari mulai pakai pisau dapur sampai pakai linggis. Pun berbagai cara sudah aku coba, dari mulai membelahnya sampai mencongkelnya. Keparat! Tetap saja usahaku sia-sia.

“Sialan! Malah tempayanku jadi cuil!” umpatku. Aku yang kadung emosi berniat membuang tempayan yang kubuat susah payah ke halaman belakang. Ya, tempat yang sama dimana bapak membuang sampah dan seonggok tai anjing kesayangannya Tuan Gubernur Jendral de Graeff.

Sesampainya di halaman belakang, aku tak sampai hati meluapkan hasrat kedongkolanku. Hasrat itu selalu mandek, tersangkut di antara dinding tenggorokkan meskipun aku mencoba memuntahkannya. Maka kutinggalkan tempayan cuil yang dilekati kegilaan itu di barat liang yang penuh sampah dan taik anjing. Sebuah liang besar.  Lebih besar bila dibandingkan pusara Bonifacius Cornelis de Jonge.

“Toh tempayan ini hanya cuil sedikit. Masih bisa buat padasan kalau Bapak selesai membuang taik anjing dan semua sampah pekarangan majikannya. Tak bisa lagi ia mengelak dengan alasan ini-itu kalau kusindir atau kusampaikan terang-terangan kebiasaan buruknya ; Makan dengan kuku-kukunya yang panjang hitam-hitam menjijikkan! Atau kusuruh cuci tangan. Sedikit tenanglah aku, kemungkinan bapak selangkah lebih jauh dari bahaya cacingan!

Puspa Tajem. Ayam-ayam belum beranjak memulai pengembaraannya, mengorek setiap rezeki yang ditebar Sang Kekal ke tiap kiblat. Rezeki yang jatuh tanpa memilih tempat, bahkan di selokan sekalipun.

Sebuah pewarta lelayu mengumandang. Memecah ketenangan dan kemalasan yang disebabkan hawa dingin dari puluhan ribu titik embun. Dua mayat ditemukan di halaman belakangku.

“Aku tak mengada-ada. Aku berani sumpah! Sebelum Chalid memukul titir satu, sekelebat Banaspati dari Timur melewati rumahnya dan hilang di rimbun pohon bambu belakang rumahnya,” kata Mounsjou sambil menghujamkan pandangannya yang tajam kepadaku. “Aku yang mulai merasa tak enak langsung lari ke arah Banaspati itu lenyap. Chaid Salim yang lintang pukang, keringatan, nafasnya kacau sampaikan – Ia  temukan dua mayat di halaman belakang rumahnya. Salim kusuruh buru-buru ke pos wartakan ada raja pati, sementara aku ke lokasi. Dua mayat sekaligus! Tak main-main,” tambahnya menekan, mendesakku jadi dalang.

“Tak mau lah aku ikut-ikutan, nanti malah jadi korban tumbal,” ujar seseorang sambil meninggalkan kerumunan. Beberapa orang saling toleh, berbisik. Tiga, empat, tujuh orang menyusul meninggalkan, tanpa mengutarakan alasan satupun. Acuh.

“Hati-hati! mereka mati tak wajar, jangan-jangan jadi tumbal pesugihan. Kalian bisa lihat, tak ada tanda bacokan parang, lilitan tali, atau keracunan. Tubuh mayat itu tercabik seperti dimakan buaya!” teriak mereka dari kejauhan. “Di kampung gersang ini buaya tak berkeliaran, kalau bukan buaya jadi-jadian!” saut yang lain.

Mereka yang masih tersisa secara halus meminta pamit. Lima, tujuh, sembilan orang, meninggalkan aku dan Chalid. Aku yang melihat betul keraguan yang tebal pada air mukanya menyuruhnya pulang.

“Lebih baik kau istirahat. Aku menegerti kau penat sehabis jaga malam ini. Pulanglah. Tak apa aku bisa urus sendiri,” ujarku. Ia tak keluarkan sepatah kata. Hanya beberapa kali elusan di punggungku dan  beranjak meninggalkan aku dengan langkahnya yang berat.

Tinggalah aku sendiri dengan dua mayat rusak, penuh luka cabikan. Yang satu masih bisa aku kenali, Mangoenatmodjo namanya. Sedangkan yang satunya lagi, entah. Kondisinya pun lebih parah. Lehernya hampir putus!

Beruntungkah aku diperlihatkan kesunyian abadi? Beginikah datangnya tiap kematian? Lebih halus dari laju angin pancaroba. Beginikah akhir tiap kematian? Lebih dingin dari bayonet para tentara. Beruntungkah aku didatangi kematian?

Matahari sudah dua penggalah tingginya. Sinarnya yang hangat, masih sama. Tak pernah menjangkau relung di tiap kepala. Gelap, pengap, penuh sesak pertanyaan yang membusuk tak termuntahkan.

“Awas kowe berani kubur itu mayat di pekuburan desa!” ancam seseorang yang berjalan melintas.

“Buang ke kali sana! Biar hanyut hilang. Kami tak ingin kena bala!” ujar seorang lainnya yang melintas berlawanan dari arah orang pertama.

“Bedebah! Keparat! Kenapa tak mereka semua saja yang mampus, apa guna hidup manusia kalau menghormati manusia lainnya tak lebih bernilainya dari seonggok taik? Apa sekolah-sekolah yang berdiri di tiap desa tak pernah tanamkan di otaknya yang bebal berharganya kehormatan pada diri seorang manusia, meskipun manusia itu sudah jadi mayat? Goblok betul kalau sampai seorang terpelajar berpikiran demikian. Berpikir cari aman, cari nyaman,”  umpatku menyumpahi mereka celaka, mati segera.

Empat jam aku menggali liang. Membersihkan gundukan sampah dan taik anjing majikannya atau lebih tepatnya mengacak-acak pekerjaan bapak. Kubersihkan tubuh dua mayat itu yang berlumuran darah dan belepotan tanah merah. Secarik kertas bertuliskan nomor 528 terselip di saku baju mayat Mangoenatmodjo. Persetan maksud tiga deret angka tersebut. Aku selesaikan sesegera mungkin mengubur dua mayat ini, sebelum orang-orang bodoh itu kembali datang dan bertindak lebih sinting.

Ya, aku sadar usahaku memakamkannya jauh dari kata “pantas” untuk seorang manusia. Menimbun pekuburan mereka dengan sampah dan tai anjing pula.

***

            Mereka kembali. Teriakan-teriakan parau yang disusul beberapakali lemparan batu ke pintu rumahku. Mereka mendobrak pintu rumahku. Masuk seperti seekor harimau yang berlaga dalam upacara rempog. Salah seorang dari mereka yang menemukanku langsung menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding rumah. Jangankan sempat aku melawan, melihat, mengenali sekilas pelakunya saja aku tak sempat. Buru-buru mereka mengadu dengkulnya ke wajahku, tepat di mata kiriku.

Leherku dikunci. Seseorang lainnya dari mereka menghujamkan siwing tepat mengenai mata kananku. Aku yang kehilangan tiga perempat sadarku dibawa pergi. Aku masih ingat mereka melemparkan tubuhku ke tempat yang sama dimana aku menguburkan dua mayat rusak siang tadi. Teriakan-teriakan parau masih bersahutan. Bunuh! Bunuh! Bunuh!

***

            Dari fajar hingga matahari terbenam, aku tenggelam ketidaksadaran. Seonggok tai anjing yang dibuang ke dasar liang mengenai kepalaku. Aku belum juga tersadar. Tetesan air dari atas liang yang hanya membasahi parasku (mungkin air kencing), telah merekatkan kembali kepingan-kepingan kesadaranku. Aku siuman.

“Sebuah tangan? Bukan. Ini sebuah kaki. Bukan kakiku!” batinku. Jemariku yang bergerak tak bertenaga mengambil alih fungsi kedua mataku yang lebam. Menggerayang, menerka. “Sebuah kepala! Bukan, dua kepala! Bukan air. Cairan ini kental, lengket. Darah?”

Aku beranikan diri membuka mata. Seseorang berpakaian asing berdiri mematung. Peci hitamnya yang lebih gelap dari rongga telingaku memancarkan kilatan- kilatan harapan. Inikah penolongku?

Jariku yang payah masih menunjuk-nunjuk meminta pertolongannya. Lebih dari lima ratus daun bambu kering yang gugur disapu angin, ia tetap berdiri mematung. Lantang gonggongan anjing menggema. Gonggongan yang tak putus. Segerombolan anjing yang lapar. Dan belum juga aku dengar sepatah katapun keluar dari mulut seorang manusia. Ia tetap saja mematung di atas liang. Inikah penolongku?

***

            Keparat Monsjou itu tak mengada-ada. Sebuah Banaspati berukuran besar melintas di langit malam tak berbintang. Dan terdengar suara-suara parau penuh amarah yang aku yakini betul bukan dari moncong para penduduk desa yang telah kira aku jadi dalang pembunuhan dua mayat lalu. Teriakan-teriakan mereka terdiam saat salah seorang dari mereka membacakan naskah dengan ketegasan.

Keheningan yang tak berlangsung lama. Lagi-lagi gongongan sekelompok anjing membangun kebisingan. “Bakar! Bakar! Bakar!” teriak orang-orang itu parau. Sepersekian detik sekelebat banaspati muncul lagi. Orang- orang kian kesetanan.

“Minyak tanah! Ya, ini minyak tanah. Tak mungkin aku salah. Bajingan tengik!” umpatku berusaha keluar liang. Jemariku yang masih payah aku paksakan menyingkirkan tangan, kepala, kaki yang menindih tubuhku. Dan sepercik bunga api telah menari hebat. Terbakarlah aku dalam liang!

“Dasar bajingan tengik!” akhirnya sepatah kalimat lantang muncul dari relungku yang tak kuasa menelan pertanyaan-pertanyaan. Meledak!

Aku yang terpanggang api merangkak muncul dari liang. Para bajingan tengik, dan sekelompok anjing lintang pukang. Mereka lari tanpa menoleh, tanpa bersuara. Tanganku menggerak mencari tempayanku yang kutinggalkan di sekitar liang. Tempayan cuil yang dilekati kegilaan yang sudah membesar menutup seluruh bibir tempayan.

“Untunglah sekelompok bajingan tengik itu tak banting tempayanku,” ujarku yang langsung mengangkat tinggi-tinggi tempayanku dan memecahkannya dengan kepalaku. Byar! Basahlah seluruh tubuhku.

Aku mulai menyeka wajahku dengan lengan busana yang sedikit hangus.

“Astaga biadab sekali bajingan-bajingan itu!” ucapku sayu sambil mengelus dada menyaksikan liang yang masih terbakar. Liang yang baru aku tahu ukurannya semakin membesar seperti kegilaan yang melekat pada tempayanku. Tumpukan naskah-naskah tebal yang belum selesai dibacakan seorang tadi bertuliskan angka-angka besar 1965, 1982, 1989, 1997, 2001, dan empat digit angka lainnya yang tak pernah aku tau rahasianya hangus terbakar, bersamaan sampah-sampah yang dibuang bapak, seonggok tai anjing, dua mayat rusak tercabik, dan semua penduduk desa yang sudah tuduh aku melakukan pesugihan yang kini jadi mayat yang hilang kehormatannya. Kepala, kaki, tangan, tubuh yang tumang tindih, seonggok tai anjing, bau daging hangus terbakar!

Beruntungkah aku diperlihatkan kesunyian abadi? Beginikah datangnya tiap kematian? Lebih halus dari laju angin pancaroba. Beginikah akhir tiap kematian? Lebih dingin dari bayonet para tentara. Beruntungkah aku selamat dari dasar liang?

Embun pagi belum juga turun. Dari kejauhan terdengar lantunan Kidung Rumekso Ing Wengi, seseorang masih terjaga. Aku tinggalkan liang yang kian menyala hebat. Melangkah pincang mengikuti muara doa.

“Aku harus kembali membawa tempayan baru yang penuh air. Aku harus kembali. Mereka yang masih manusia, patut mendapatkan kemanusiaannya. Aku yang masih manusia wajib membantu mengembalikan kemanusiaan mereka.”

 

Yogyakarta, 15 Agustus 2017

15:38 WIB

*Petruk begitu panggilannya. Lahir di Kebumen 11 Januari 1996. Berdomisili di Yogyakarta. Seorang yang pandir yang sangat berterimakasih dan senang diajak belajar bersama. Bisa dihubungi via e-mail: ngeblues96@gmail.com

Keterangan :

Puspa Tajem : merupakan mimpi yang biasanya terjadi antara jam 01:00 – 04:00 atau menjelang subuh

Titir Satu : Irama satu ketukan dan dipukul secara terus-menerus. Menandakan adanya kematian/raja pati.

Banaspati :  sosok hantu yang paling bahaya dan ditakuti oleh kalangan masyarakat jawa. Karena selain penampakannya secara tiba-tiba konon jenis makhluk halus ini juga mampu melukai manusia. Biasanya berwujud bola api.

Pesugihan : menambah kekayaan secara instan. Biasanya terdapat kontrak dengan jin.

Kowe : bahasa jawa untuk menyebut kamu, atau menyebut anak monyet.

Rempog : Tradisi yang diselenggarakan di alun-alun kota dengan melepas harimau liar yang hendak dibunuh. Tradisi ini ada pada abad ke -18.

Kidung Rumekso Ing Wengi : syair doa yang dari beberapa sumber menyebutkan diciptakan Kanjeng Sunan Kalijaga dan biasanya dibacakan pada acara-acara tirakatan hari-hari besar seperti Malam Sura.