152 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Wulan Agustina Pamungkas*

“Maaf, anda belum melunasi tagihan SPP,” sebuah tulisan dengan background merah seolah memperingatkan saya dengan “galak”-nya tiba- tiba muncul di laman Sistem Informasi Akademik (SIA) yang saya buka. Bukan tanpa alasan hari ini, 23 Agustus 2017 saya membuka laman yang barangkali sudah berdebu ditinggal liburan dan nguli pemiliknya, pasalnya hari ini saya diingatkan seorang sahabat untuk segera meng-input Kartu Rencana Studi (KRS). Ya, hari ini adalah jadwal Program Studi (Prodi) saya meng-input KRS.

Peringatan dengan background merah tersebut jelas tidak begitu mengagetkan bagi saya. Umpatan yang dulu pernah berulang kali terucap dari mulut saya saking emosinya mendapati hal tersebut, belum lagi KRS yang tidak kunjung bisa di-input (jangankan input KRS, untuk masuk saja saya sampai membaca bismillah berulang kali. Berharap datang pertolongan Allah dan mempermudah usaha saya) kini telah berganti dengan ucapan Istighfar. Saya harus lebih bersabar, barangkali begitu ucapan ibu yang kerap menenangkan. Ini bukan yang pertama kali. Hal serupa sering, bahkan selalu terjadi pada saya ketika meng- input KRS. Saya selalu di tuduh oleh ‘sistem’ sebagai mahasiswa yang belum bayar SPP. Masyallah, salah apa saya? Padahal saya selalu rajin membayar.

Sakit hati saya terhadap sistem tidak lantas selesai pada masalah KRS saja. Saya yang harusnya sudah dengan tenang nyicil dan menyelesaikan skripsi  di tahun depan pun harus dengan legowo dipusingkan dengan urusan “daftar KKN lagi”. Gagal KKN, begitu barangkali musibah yang tengah menimpa saya pribadi. Dan tentu hal tersebut juga menjadi ledekan teman- teman di organisasi. Bukan tanpa sebab pula KKN yang harusnya sudah berakhir menjadi kenangan harus saya coba lagi di semester selanjutnya, pasalnya lagi- lagi sistem mengecewakan saya.

Saya yang kala itu sudah menjalani berbagai proses pra- KKN, seperti pendaftaran, cek kesehatan di Poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta input KRS, rupanya belum terdaftar sebagi salah satu mahasiswa yang akan diberangkatkan KKN. Dengan alasan, sistem menunjukan bahwa saya belum melakukan proses pra-KKN tersebut. Masyallah, lagi- lagi saya difitnah sistem. Alangkah lucunya proses atau alur pra-KKN yang sudah saya jalani, dan sebelumnya sudah berwarna hijau pertanda sudah saya lakukan, tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu yang berarti saya belum melakukan proses atau alur pra- KKN tersebut. Ketika saya mengkonfirmasi kepada pihak LP2M terkait nama saya yang tidak tercantum di satu pun kelompok KKN, serta proses atau alur pra- KKN yang sudah saya lakukan tiba- tiba menjadi abu- abu, pihak LP2M pun menyarankan saya mendatangi poliklinik yang barangkali terlewat menginput tes kesehatan saya yang saat itu dinyatakan ‘sehat’. LP2M menerangkan bahwasanaya hal semacam ini juga terjadi bukan hanya saat ini, dan bukan pula hanya saya yang mengalami.

LP2M juga menyarankan saya mendatangi PTIPD disaat semua kelompok sudah dibagi dan hari Senin mereka sudah diberangkatkan ke lokasi KKN masing- masing. Saya yang saat itu berada di Magelang dalam sebuah acara pun menanyakan, “Kalau saya ke Jogja hari ini, apa saya bisa ikut KKN?” tanya saya. Bak jurus menghilang, pesan saya pun mengambang tanpa kejelasan. Saya relakan saja, toh jika saya ke Jogja yang saat itu waktu telah menunjukkan pukul 16.00 pun saya belum tentu bisa bergabung bersama teman- teman untuk KKN.

Well, ini hanya sedikit permasalahan yang saya alami terkait sistem yang ada di kampus tercinta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Barangkali hal semacam ini tidak hanya saya alami, namun juga beberapa atau sebagian besar mahasiswa maupun mahasiswi lainnya. Hal yang berulang kali terjadi ini pun sudah tentu menimbulkan perasaan dongkol dan kecewa kepada beberapa atau sebagian besar yang mengalaminya. Kesal, dongkol, bahkan tak jarang beberapa kawan sering misuh saat akan mengisi KRS. Astagfirullah.

Sebagai salah satu bagian dari kampus kecintaan ini, saya terkadang merasa simpati mendengar pisuhan yang dilayangkan kepada kampus. Tapi di lain sisi, saya juga merupakan barisan sakit hati mahasiswi yang dikecewakan dengan sistem yang ada. Lantas harus bagaimana?

Sebagai  kampus yang mendapat penghargaan Telkom Smart Campus (TeSCA) Award pada tahun 2014 sebagai Top National Winner, permasalahan pada sistem yang ada atau sebut saja SIA yang terjadi berulang kali sudah barang tentu memberi kesan yang buruk. Harusnya permasalahan semacam ini sudah dapat diatasi sedari dulu dan tidak terjadi berulang- ulang.

TeSca sendiri didapatkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas keberhasilan kampus dalam aspek tata-kelola dan implementasi teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pendidikan tinggi. TeSCA adalah sebuah program untuk mengukur pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) perguruan tinggi di Indonesia melalui metode “ZEN Framework” yang mengukur beragam komponen mulai dari infrastuktur, aplikasi, sumberdaya manusia, hingga komponen kebijakan dan sebagainya.

Tidak hanya itu, dalam salah satu talk show yang diselenggarakan oleh SUKATV pada 28 Mei 2014 dengan tema “Dari UIN Sunan Kalijaga  Mengabdi untuk Negeri”  yang juga diangkat sebagai berita oleh www.lpmarena.com, Musa Asy’arie yang kala itu menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga juga mengatakan bahwa UIN Suka akan dijadikan kampus digital untuk mempermudah akses tata kelola mahasiswa maupun birokrasi kampus. Ia juga mengalokasikan dana sebesar 30 Milyar untuk meningkatkan UIN Suka sebagai kampus digital.

Lantas, apakah saat ini UIN Sunan Kalijaga sudah menjadi kampus digital seperti apa yang diharapkan pada tahun- tahun sebelumnya? Barangkali kita memiliki argumen yang berbeda dalam menanggapi hal tersebut. Whatever you say…

Mengkritik, adalah bentuk rasa cinta saya terhadap kampus tercinta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sakit rasanya jika kampus dimana saya berproses acap kali dipisuhi gara-gara sistem yang bermasalah. Namun sakit pula rasanya jika saya yang sangat percaya akhirnya di fitnah oleh sistem (dibaca: SIA). Difitnah belum membayar SPP hingga tidak bisa meng-input KRS, sampai difitnah belum melakukan pra-KKN yang salah satunya belum melakukan cek kesehatan, hingga berdampak pada harus dengan ikhlasnya saya melepas teman- teman KKN tanpa keikutsertaan saya.

Lantas saya harus bagaimana? Haruskah saya selalu legowo dengan apa yang diperbuat sistem (dibaca: SIA)? Haruskah saya berdamai dengan sistem (dibaca: SIA)? Yah, saya hanya berharap semoga sistem yang ada tidak lagi menciptakan manusia- manusia yang nantinya akan menulis kekecewaannya di LPM ARENA. Amin.[]

*Penulis hanya seorang mahasiswi yang mencintai kampusnya. Hoby ngopi. Pengagum laki-laki gondrong yang gemar menulis dan berpuisi.