378 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Yudian Wahyudi Asmin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyampaikan proyeksi kedepan pembangunan gedung di kampus pusat. Gedung tersebut digunakan untuk Sunan Kalijaga Mart, menggunakan lahan terbuka di kompleks rektorat, menghadap ke jalan raya yakni di antara gerbang rektorat dan gedung Darma Wanita. Yudian mengatakan, Sunan Kalijaga Mart akan lebih besar dari Koperasi Mahasiswa (Kopma) dan buka 24 jam dengan kafe pada lantai atas.

Berdasarkan perencanaan, paling lambat pada bulan November tahun depan tahap konstruksi sudah dimulai. Hal tersebut Yudian sampaikan saat ditemui ARENA di depan gedung Multi Purpose atau gedung Amin Abdullah setelah membuka acara tahunan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Kamis (24/8).

Selain mini swalayan, dalam waktu yang sama kampus juga akan membangun asrama mahasiswa atau ma’had (pondok pesantren) di parkiran depan gedung Amin Abdulloh bagian timur. Hal tersebut menjadi pilihan jika realisasi rencana menjadikan hotel kampus sebagai asrama berbayar mahasiswa itu terlambat. Melalui dua program tersebut kampus akan memiliki pemasukan tambahan untuk keuangan non APBN.

Ketika ditanya perihal Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mahasiswa, Yudian mengatakan bahwa tidak apa-apa jika pembangunan tersebut menggusur ruang-ruang hijau di kampus.

Ndhak papa. Harus ada pilihan-pilihan hidup ini,” ungkap Yudian menjawab pertanyaan ARENA.“Kalau mau ideal nanti pindah ke pajangan aja nanti kamu,” sambungnya.

Selain itu Yudian juga memproyeksikan pemanfaatan lahan-lahan yang belum berfungsi seperti pekarangan di sebelah timur perpustakaan.

Mendengar hal ini, ketua Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Kalijaga (Mapalaska) Ariffudin saat ditemui di sekret Mapalska pada Jum’at (25/8) siang, memandang tindakan yang direncanakan rektor terlalu memaksakan lahan kampus pusat yang sudah sempit ini untuk pembangunan gedung-gedung. Padahal idealnya suatu kawasan harus memiliki RTH. Hal tersebut penting, selain untuk ruang pertemuan dan pengembangan mahasiswa di luar kelas, RTH yang merupakan wilayah siklus oksigen menjadi suplyer udara bersih.

“Nah, ini sama aja kalau kami bilang pemerkosaan lahan, pemerkosaan lingkungan,” ungkap aktifis lingkungan yang biasa dipanggil Omplong tersebut.

Menurutnya, lahan yang tidak terpakai di sebelah timur perpustakaan bisa dimaksimalkan untuk RTH atau ruang publik seperti cafetarian. Dengan catatan tidak merusak kehijauan wilayah tersebut. Pengelolaan juga penting diperhatikan karena berbatasan dengan sungai. “Karena salah satu daerah aliran sungai juga kampus UIN ini,” jelas Arif.

Sementara dalam pemberitaan Lpmarena.com pada 27 Februari lalu, alumni mapalaska angkatan 1997 Sulistiyo Inzaki melihat RTH di kampus sangat kurang. Untuk menanggulangi minimnya RTH, Sulis berharap ruang kosong sebelah utara gedung Student Center (SC) atau sebelah timur perpustakaan bisa dijadikan RTH atau taman dengan pohon-pohon rindang sebagai jantung hutan.

“Kalo semisal di (Universitas) Gajah Mada, yang fakultas Kehutanan, di situlah ditanami pohon yang rindang,” tutur Sulis.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Wulan