96 Pembaca

Lpmarena.com – Kegiatan menulis jurnal menjadi salah satu bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi: penelitian, pendidikan, dan pengabdian. Jurnal bisa memberikan dampak yang signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sayangnya, Indonesia menempati peringkat yang rendah dilihat dari segi kuantitas maupun kualitas menulis jurnal. Hal tersebut dijelaskan oleh Judith Schelehe dalam acara lokakarya Writing for International Journals di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) Lantai II Gedung PAU Pascasarjana UGM, Senin (11/09). “Indonesia was very bad in international ranking,” katanya.

Judith mengatakan, kebanyakan jurnal internasional yang ditulis oleh orang Indonesia berkapasitas “quick and dirty” (cepat dan kotor). Cepat dalam arti pragmatis, jurnal dihasilkan dalam proses ingin cepat selesai. Bahkan jurnal dibuat hanya sekedar untuk syarat jabatan atau keperluan beasiswa. Kotor dalam arti tidak dibuat dalam standar tinggi dan tema yang hadir tidak serius.

Menulis jurnal hingga memprosesnya sampai terbit membutuhkan waktu yang tak sebentar. Menurut Judith berkaca dari pengalamannya, paling cepat dibutuhkan waktu dua tahun menunggu. Itupun belum ada kepastian apakah jurnal yang dikirim akan diterima. “How high standard, and how long to publish serious journal,” ucap perempuan dari Universitas Freiburg, Jerman tersebut.

Membaca kondisi jurnal saat ini, 79% penelitian sosial di universitas negeri digunakan untuk menjawab permintaan yang berhubungan dengan kebijakan. Di lain sisi juga membahas tentang tindakan neoliberalisasi yang terjadi di universitas untuk saat ini. Untuk mendinamikakan hal tersebut, Judith memberikan sarannya. “What is needed? Institutional reforms, basic social research, and deep intellectual engagement,” ujarnya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan