139 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

SAJAK PETANI I

 

Parau subuh di corong surau

Petanda petaniku berlari santai memaku

jalan setapak

Mengeja kerikil dari gelombang pagi yang tak sampai

Barangkali lolongan sang jantan berbuah sesuap

Mengilhami anak bini kala lelap

Kerikil berdzikir

Memutar tasbih sajak tani

Semenjak Mikail kembali pada tuhannya,

Di ufuk jarak

Tinggallah ia sepeninggal jejak

Menyambung lelaku sawah, padi, dan anyaman kerak

Tunai pada irigasi mata air

:air matamu

Sawah menyisa cerita

Sesubur rahimmu seabad lampau

Tertimbun tikus semesta

 

Yogyakarta, 5 September 2017

 

AKU TAK AKAN MATI

 

Demi waktu

Merugilah puisi yang terabai

Terpenjara dalam turbin semesta

Labirin pemisah bait dan sajak,

Bolehlah kau jumawa

Melepas rima pada gemerincing padang sabana

Semenjak kau ucap, tidak pada yang terucap

Membantingnya dalam jejak yang sama

Tetapi

Aku tak akan mati

Dan memang benar, aku harus kembali

Memutar arah tepat di jalan pagi

Tempat kumemulai segala dari lini

Mimbar merah sepenggala tinggi

Oh, Sayang

Aku tak akan mati

Memberi kasih

Karena semestaku, lunak di kaki

 

Yogyakarta, 4 September 2017

 

SAJAK PETANI II

 

Malam ini kutandu waktu ke peraduan mega

Berkafan angin, keranda senja

Sesaat kepergianmu; berpulang menuruti kuasa maut

Meninggalkan keluarga di paruh kecut

Dari belakang, satu persatu pelayat sibuk berdeklamasi

Berucap zikir, tahmid dan takbir kemanusiaan

Semacam badai

:lautan bertubi dari setangkai kehidupan petani

ya, petaniku terkasih

tenangkanlah diri

beradu dalam alam zabani

lupakanlah urusan duniawi

anak cucu dan bini takkan lupa

kembalimu sebab siapa (?)

Aku bahkan lupa ini lantunan keberapa

Semilir yang tak sudi menjadi saksi

Memaksa kuberhitung dalam deret tasbih

Mengepalai caping yang tertinggal sore tadi,

Adakah kau biarkan benih padi tumbuh sendiri menjemput mati

Ladang kering, irigari tak mengalir

Sebab tak ada yang sudi bertamu

Air pun malu

Ah, petaniku!

 

Yogyakarta, 7 September 2017

Rodiyanto. mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang selalu takut saat hendak pulang kampung. Sebab baginya, Jogja-Sumenep adalah petaka yang mau atau tidak, harus dinikmati.

Ilustrasi: https://luk.staff.ugm.ac.id/itd/lukisan/02.html