87 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com – Pertunjukkan musik yang berangkat dari kerja pengarsipan mengawali malam pembukaan Festival Arsip Indonesian Visual Art Archive (IVAA) 2017. Arsip tersebut menghasilkan pertunjukkan musik kreatif dari LARAS Studies Music in Society, catatan musik Indonesia populer tahun 1930-2016.

Festival Arsip IVAA tersebut mengambil tajuk “Kuasa Ingatan” yang akan berlangsung dari tanggal 19 September – 1 Oktober 2017 di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Tajuk yang dipakai tersebut bermaksud memaparkan kepada masyarakat, bahwa ingatan merupakan hasil dari suatu relasi kuasa lewat berbagai aparatusnya.

Ingatan perlu dilihat secara kritis untuk menganalisa berbagai hal, khususnya dalam bidang sejarah dan praktik kesenian di Indonesia. Ide tersebut diwujudkan IVAA dalam tiga sub platform, yakni: “Estetika dan Retorika”, “Seni di Antara Negara dan Masyarakat”, dan “Seni, Pasar dan Kekerabatan”.

Lisistrata Lusandiana selaku direktur Festival Arsip megatakan, pekerjaan yang terkait dengan pengarsipan dan produksi pengetahuan bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu malam. Pekerjaan tersebut membutuhkan nafas yang panjang.

“Harapan kami adalah secara nasional kita akan memiliki politik pengarsipan. Yang lebih kontekstual dengan kondisi jaman dan kontekstual dengan kondisi masyarakat pascakolonial,” kata Lisis, Selasa (19/09) di Hall PKKH.

Harapan tersebut ditanggapi positif oleh Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan Hilmar Farid saat memberikan sambutan pembukaan pameran. Hilmar mengajak IVAA dan komunitas arsip yang ada di Indonesia untuk bekerja sama membuat relasi pengarsipan yang besar, sampai tingkat nasional.

“Saya akan mengusahakan agar bisa masuk ke arsip nasional dan (masuk ke) arsip-arsip yang ada di jajaran formal. Secara teknis kawan-kawan bisa berkoordinasi langsung. Undangan terbuka,” ujarnya.

Hilmar juga menambahkan mengenai pentingnya arsip. Meskipun arsip adalah pekerjaan sunyi, hasilnya betul-betul besar dalam memproduksi pengetahuan baru. Karenanya, dibutukan pemuda yang bisa mengolah arsip dengan pandangan yang berbeda.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan