86 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com Radikalisme belakangan ini menjadi isu yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Baik itu berupa wacana ataupun tindak radikalisme. Pasalnya, radikalisme dianggap menjadi alat untuk memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Masjid Syuhada mengadakan serasehan nasional yang bertema, “Penanggulangan radikalisme dan Intoleransi Melalui Bahasa Agama” pada Sabtu (23/09), bertempat di Hotel Eastparc. Mengundang Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama Republik Indonesia, aktivis ormas Islam, tokoh agama, dan akademisi.

Dalam sarasehan, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa untuk memahami radikalisme dibutuhkan pemahaman terhadap makna kata radikalisme. “Radikalisme berasal dari kata berbahasa inggris ( radical ) yang artinya mengakar,” jelasnya. Ia juga mengatakan, bahwa dibutuhkan semangat radikal dalam memahami sebuah agama.“Pasalnya ketika dalam memahami agama tidak secara radikal akan mengakibatkan terjadinya salah penafsiran,” sambungnya.

Pihaknya juga mengatakan ketika salah penafsiran maka akan minumbulkan salah pemahaman. Menurutnya, tindak radikalisme merupakan sebuah tindakan yang bagus, akan tetapi terjadinya tindakan kekerasan dalam konteks agama terjadi dikarenakan saking cintanya terhadap Islam. Sehingga menimbulkan fanatik terhadap agama.

Ia juga menambahkan, ketika rasa fanatik timbul dalam beragama maka sudah tidak membuka ruang kepada yang lain, dan kefanatikan seringkali berdampak pada tindakan kekerasan untuk mewujudkan kefanatikannya di tengah masyarakat majemuk. Hal tersebut bukan merupakan tindakan radikalisme, akan tetapi sebuah tindakan ekstremisme atau berlebihan dalam beragama. “Saya kira semua agama tidak mengajarkan atau melarang tindakan berlebihan,” ucapnya.

Menurut hasil penelitian Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia dapat disimpulkan bahwa tindakan ekstremisme yang menjustifikasi mengunakan agama memiliki 2 indikator. Pertama, yang dipakai adalah tindakan ekstrem agama merupakan bentuk respon dalam menyikapi ketidakadilan. Kedua, tindakan kekerasan dilakukan karena keterbatasan wawasan agama untuk menjawab realitas zaman, sehingga agama dijadikan alat justifikasi.

Reporter: Muhammad Abdul Qoni Akmaludin

Redaktur: Wulan