119 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com – Setiap tahun, delapan juta ton sampah plastik mengotori lautan. Saat ini ada sekitar 322 juta ton sampah plastik menumpuk di lautan yang sumbernya dari berbagai negara di dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara nomor satu penyumbang sampah plastik terbanyak. Disusul kemudian negara Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Penelitian terhadap sampah tersebut disampaikan oleh Judith Schelehe dari Freiburg University dalam seminar bertajuk “Waste As An Environmental Disaster: Socio-Religious Practices at The South Coast of Java”. Seminar digelar di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM Lantai II, Senin (25/09). Selain Judith, acara tersebut menghadirkan pembicara lainnya, yakni Vissia Ita Yuliato dari UGM. Turut hadir pula aktivis-aktivis peduli sampah dari Yogyakarta, seperti Gardu Action dan Bank Sampah Sehat Ceria.

Judith menjelaskan lewat penelitian yang dilakukannya bersama Vissia, dari 6500 sungai besar dan 650.000 sungai kecil yang dimiliki Indonesia, sungai-sungai tersebut menjadi gerbang yang subur masyarakat membuang sampah. Fakta mengejutkan lagi, sampah plastik di lautan tersebut jika membuat pulau, pulau tersebut akan sebesar Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dijadikan satu.

Melihat fakta masalah sampah tersebut, Judith dan Vissia mencoba menjawab pertanyaan: bagaimana hubungan antara lingkungan, dinamika sosial, dan praktik masyarakat terhadap sampah? Multi pendekatan dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yakni dengan pendeketan lokal lewat melihat interaksi antara alam dan masyarakat secara langsung. Pendekatan global dengan menganalisa masa depan bumi secara keseluruhan. Hingga pendekatan religius, human ecology, ecofeminism, ecojustice, Islamic Enviromentalism, eco-dakwah, dan stuktur kekuasaan.

Di Indonesia, undang-undang mengenai lingkungan hidup sebenarnya telah diatur di dalam UU No. 32 Tahun 2009. Namun yang menjadi masalah, masyarakat cenderung abai dan semua kelas sosial melakukan buang sampah sembarangan. “Littering waste is the habit not only of people from lower social classes but across social strata,” ujar Judith.

Ditambah lagi, Vissia menuturkan fakta yang didapatkannya dari Dinas Lingkungan Hidup Bantul bahwa, dana yang dianggarkan pemerintah guna mengurusi sampah sangat sedikit. Itu berdampak pada minimnya sarana dan prasarana. Di Bantul sendiri contohnya, setiap hari 500 ton sampah diproduksi, 300 ton diproses di Tempat Pembuangan Akhir Piyungan, dan sisanya menumpuk.

“Dana dari kota sangat sedikit untuk mengelola sampah. Hanya empat sampai lima truk buat 500 ton itu,” katanya. Vissia juga membayangkan, andai di sekitar sungai ada tong sampah besar. Pasti orang akan lebih memilih untuk membuang sampah di tong tersebut daripada di sungai.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan